JAKARTA – Badan Pangan Nasional (Bapanas) me­ngungkap penyebab harga beras mahal di se­jumlah daerah beberapa waktu terakhir. Ber­da­sarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), re­rata nasional harga beras mencapai Rp15.499 per kilogram (kg).

Deputi Ketersediaan dan Sta­bi­­lisasi Pangan Bapanas I Gusti K­e­tut Astawa menjelaskan harga be­ras yang beredar di masyarakat me­ngikuti harga gabah kering pa­nen (GKP) di tingkat petani. Ia men­yebut saat ini rerata harga GKP mencapai Rp7.000 per kg.

“Kalau GKP-nya tinggi, di atas Rp7.000, tentu harga beras kan tidak mungkin di eceran ya, ka­rena kita membuat asumsi har­ga eceran tertinggi itu dengan GKP 6.500. Kalau GKP-nya le­bih dari 6.500, tentu tidak akan bisa sesuai dengan harga eceran,” ujar Ketut saat ditemui di kantor Ke­menterian Koordinator Bidang Pe­re­konomian, Jakarta Pusat.

Meski begitu, Ketut me­ne­gas­kan harga GKP yang tinggi ten­tu menguntungkan bagi petani ka­rena dapat mendorong In­do­ne­sia menjadi swasembada beras.

“Petani kita lagi bahagia. Nah, kalau kita ingin menjadi ne­ga­ra produsen, ingin swa­sem­bada, tentu ini sisi positif. Ke­na­pa? Karena harganya nyaman ba­gi petani kita, nyaman bagi pe­ta­ni kita untuk berproduksi,” te­ra­ngnya.

Untuk merespons harga be­ras yang mahal, Bapanas bakal me­nggelontorkan bantuan pangan ta­hap dua berupa beras kepada 33,24 juta penerima pada Agus­tus 2026 mendatang.

“Tahap kedua tadi di­pu­tus­kan akan dilakukan, di­se­ka­li­gus­kan di bulan Agustus. Ya, mu­ng­kin sampai lewat September ka­rena kondisi geografis,” ujar Ketut.

Ketut menyebut saat ini pi­hak­nya masih menunggu per­se­tu­juan anggaran dalam Daftar Isi­an Pelaksanaan Anggaran (DIPA) oleh Kementerian Ke­u­ang­an (Kemenkeu).

“Kami juga prosesnya sudah me­ngajukan anggaran ke Ke­men­t­e­rian Keuangan, sedang di-re­view oleh Kementerian­ K­e­u­an­g­an. Nanti kalau sudah masuk ke DIPA Badan Pangan Nasional, ten­tu nanti Bapak Kepala Badan (Ba­panas) mendelegasikan,” te­ra­ngnya.

Dalam kesempatan sama, ia men­yampaikan bantuan pangan ta­hap satu telah diberikan kepada pe­­n­erima mencapai 99,7 persen. “Ber­arti selisih 0,3 persen yang be­lum, terutama di Papua, be­be­rap­a wilayah Sumatra, dan Su­la­wesi. Namun, secara prinsip ta­hap pertama sudah bagus,” kata Ketut.

Sebelumnya, BPS mencatat har­ga beras masih bertahan di le­vel tinggi pada pekan kedua Juli 2026.

Kondisi itu menjadi perhatian karena meski kenaikan harganya re­latif rendah, masyarakat masih ha­rus membeli kedua komoditas ter­sebut dengan harga yang ma­hal. “Beras, minyak goreng per­lu mendapatkan perhatian wa­lau­­pun perubahan IPH-nya relatif ren­dah, tetapi level harganya su­dah sangat tinggi. Ini yang se­be­narnya dibayar oleh mas­ya­ra­kat. Walaupun IPH-nya rendah, artinya harganya stabil, tetapi stabil pada harga yang tinggi,” kata Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti.

BPS mencatat saat ini harga be­ras secara nasional mencapai Rp15.499 per kilogram. Se­ban­yak 128 kabupaten/kota me­ng­a­la­mi kenaikan harga beras hingga p­e­kan kedua Juli 2026. Jumlah ter­sebut lebih tinggi dibandingkan pe­kan pertama Juli. Kenaikan har­ga beras juga terjadi di 29 pro­vin­si. cnn/mb06