BANJARBARU – Tim Program Dosen Wajib Mengabdi (PDWA) Jurusan Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) membina warga Kota Banjarbaru, Provinsi Kalimantan Selatan, membuat sabun cuci piring organik dan edukasi pengelolaan tumbuhan obat.

“Upaya ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan serta keterampilan masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia di lingkungan sekitar,” kata Ketua Tim PDWA ULM, Yuniarti Suyartinah, di Banjarbaru, Selasa.

Ia menerangkan, kegiatan pengabdian ini dilaksanakan oleh Tim PDWA yang terdiri Yuniarti Suryatinah, Nur Mahdi, Deni Setiawan, dan Nadya Aisthetika Islamy. Sasaran kegiatan adalah ibu-ibu anggota kelompok pengajian Burdah Langgar Nurul Islam yang memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan keluarga sekaligus berpotensi mengembangkan usaha rumah tangga berbasis produk lokal.

Menurut Yuni, pemanfaatan tanaman obat dan pengembangan produk rumah tangga yang aman, ekonomis, serta memiliki nilai tambah bagi masyarakat adalah hal yang sangat penting dilakukan untuk menekan pengeluaran rumah tangga jangka panjang, dan mendorong kemandirian ekonomi.

Dalam kegiatan itu, peserta mendapatkan informasi mengenai berbagai mikroorganisme yang dapat mencemari peralatan makan serta pentingnya proses pencucian yang benar untuk menjaga higiene dan sanitasi rumah tangga.

Sehingga lanjut Yuni, pengetahuan awal terkait kebersihan peralatan makan, penggunaan sabun pencuci piring, serta pemanfaatan tumbuhan obat sebagai bahan antibakteri alami wajib dipahami oleh peserta.

“Kami juga menyampaikan materi tentang kebersihan alat makan dan peralatan masak sebagai bagian dari upaya pencegahan penyakit bawaan pangan (food borne disease) dengan harapan yang bersangkutan dapat meningkatkan kesadaran peserta mengenai pentingnya penggunaan sabun pencuci piring yang efektif dan aman,” tutur Yuni.

Selain itu, peserta juga memperoleh edukasi mengenai pemanfaatan daun jambu biji (Psidium guajava L.) sebagai tanaman obat yang memiliki aktivitas antibakteri.

Kandungan fitrokimia daun jambu biji seperti flavonoid, tanin, saponin, triterpenoid, dan alkaloid yang berpotensi menghambat pertumbuhan berbagai bakteri penyebab penyakit.

“Ada beberapa teknik pengelolaan pascapanen daun jambu biji yang harus diperhatikan agar kualitas dan kandungan senyawa aktifnya tetap terjaga sebelum diolah menjadi produk yang bermanfaat,” jelasnya.

Memasuki sesi utama, peserta mengikuti praktik langsung pembuatan sabun cuci piring organik berbahan daun jambu biji.

Pada sesi ini, tim mendemonstrasikan tahapan pembuatan mulai dari pencucian dan penghalusan daun jambu biji, proses penyaringan, pembuatan larutan surfaktan, hingga pencampuran seluruh bahan menjadi sabun cair yang siap digunakan. Peserta tampak antusias mengikuti setiap tahapan dan secara aktif terlibat dalam proses pembuatan produk.

Melalui kegiatan itu peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai kesehatan dan sanitasi rumah tangga, tetapi juga mendapatkan keterampilan praktis yang dapat diterapkan secara mandiri.

Produk sabun cuci piring organik yang dihasilkan berpotensi menjadi alternatif produk rumah tangga yang lebih ekonomis dan ramah lingkungan, bahkan dapat dikembangkan sebagai usaha skala rumah tangga untuk meningkatkan pendapatan keluarga.

Yuni berharap, kegiatan ini dapat memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat, khususnya dalam meningkatkan pemahaman mengenai pemanfaatan tumbuhan obat dan mendorong lahirnya produk-produk inovatif berbasis potensi lokal yang memiliki nilai kesehatan dan nilai ekonomi.

“Ini menjadi wujud nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui pengabdian kepada masyarakat yang berorientasi pada pemberdayaan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” tutup Yuni. ant