JAKARTA – Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai daya beli kelompok menengah bawah semakin tertekan meskipun konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional. Tekanan harga pangan, ketidakpastian pendapatan, dan meningkatnya pemutusan hubungan kerja (PHK) membuat ketahanan konsumsi masyarakat tidak merata.
Yusuf menjelaskan, konsumsi rumah tangga pada kuartal II/2026 tumbuh 5,6% dan berkontribusi 53,32% terhadap produk domestik bruto (PDB). Pertumbuhan tersebut menjadi yang tertinggi sejak kuartal II/2023, meskipun turut ditopang momentum hari raya dan peningkatan belanja pemerintah.
Namun, angka agregat tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kondisi daya beli masyarakat. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) turun dari 127 pada Januari menjadi 118,1 pada September 2026. Bahkan, kelompok masyarakat dengan pengeluaran Rp1 juta hingga Rp2 jutatelah menunjukkan pesimisme terhadap kondisi penghasilannya. “Jadi, konsumsi secara keseluruhan masih tumbuh, tetapi daya tahannya semakin bergantung pada kelompok berpendapatan lebih tinggi,” ujarnya.
Tekanan tersebut juga tercermin dari penjualan eceran pada September yang diperkirakan hanya tumbuh 1,4% secara tahunan. Menurut Yusuf, kondisi itu menunjukkan penguatan konsumsi belum berlangsung merata di seluruh lapisan masyarakat.
Dia meniai pola konsumsi rumah tangga saat ini menyerupai huruf K. Kelompok berpendapatan atas masih relatif kuat, sedangkan kelompok bawah dan kelas menengah rentan menghadapi tekanan lebih berat.
Salah satu indikasinya terlihat dari perubahan alokasi keuangan rumah tangga. Porsi pendapatan yang digunakan untuk konsumsi meningkat dari 74,2% menjadi 74,9%, sementara porsi tabungan turun menjadi 15,4%.
Dengan demikian, sebagian rumah tangga mempertahankan konsumsi bukan karena pendapatannyameningkat, melainkan dengan mengurangi tabungan. Kondisi ini membuat ketahanan keuangan rumah tangga semakin rentan ketika menghadapi kenaikan biaya hidup atau kehilangan pekerjaan.
Yusuf menyebut kenaikan harga kebutuhan pokok menjadi salah satu penyebab utama tekanan daya beli. Inflasi kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencapai 4,82%, lebih tinggi dibandingkan inflasi umum sebesar 3,23%.
Tekanan tersebut lebih besar dirasaan kelompok berpendapatan rendah karena sekitar separuh pengeluaran mereka dialokasikan untuk kebutuhan pangan. Akibatnya, kenaikan harga bahan pokok memberikan dampak lebih besar terhadap pengeluaran kelompok tersebut dibandingkan gambaran inflasi nasional.
Di sisi lain, kondisi pasar kerja juga belum cukup kuat untuk menopang daya beli. Indeks ketersediaan lapangan kerja berada di level 101,1 atau mendekati batas pesimistis. Sepanjang Januari hingga September 2026, sebanyak 63.789 pekerja tercatat terkena PHK melalui sistem Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP). Yusuf memperkirakan angka sebenarnya berpotensi lebih tinggi karena data tersebut hanya mencakup pekerja formal yang terdaftar. Sebagian pekerja yang kehilangan pekerjaan formal juga beralih ke sektor informal dengan pendapatan yang lebih rendah dan tidak stabil. bisn/mb06
