JAKARTA – Pemerintah mengirim 7 ton cabai dari Jawa Timur ke Halmahera untuk membantu menstabilkan harga di tengah kenaikan harga komoditas tersebut di sejumlah daerah. Menteri Perdagangan Budi Santoso menyebut kemarau panjang menjadi salah satu faktor yang menekan produksi cabai.
“Memang cabai rawit, kemudian cabai keriting, cabai rawit merah sedikit mengalami kenaikan. Itu karena memang faktor cuaca,” kata Budi seusai Rapat Koordinasi Terbatas di Kanor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta.
Berdasarkan data harga yang disampaikan dalam keterangan tersebut, harga rata-rata cabai rawit merah sempat mencapai Rp124.400 per kilogram (kg), naik 23,72 persen. Angka itu jauh di atas Harga Acuan Pemerintah (HAP) sebesar Rp57 ribu per kg.
Harga cabai merah keriting juga meningkat sekitar 21,17 persen menjadi Rp101.900 hingga Rp105.600 per kg. Sementara itu, harga cbai merah besar mencapai Rp91.250 per kg. Adapun cabai rawit hijau tercatat turun tipis menjadi Rp52.500 per kg.
Budi mengatakan kenaikan harga di sejumlah daerah juga berkaitan dengan distribusi pasokan yang belum merta. Menurut dia, beberapa daerah masih mengalami surplus cabai, sedangkan wilayah lain membutuhkan tambahan pasokan.
“Walaupun demikian kan tetap ada yang surplus, karena cabai ini diproduksi di daerah tertentu. Makanya kemarin yang kita lakukan adalah dengan membantu pengiriman,” ujarnya.
Salah satu langkah yang dilakukan pemerintah adalah mengirim 7 ton cabai dari Jawa Timur keHalmahera. Pengiriman tersebut dilakukan melalui kerja sama dengan Badan Pangan Nasional (Bapanas), Bank Indonesia, dan pemerintah daerah. “Kemarin kita ngirim (cabai) ke Halmahera ya, kan kita ngirim 7 ton dari Jawa Timur, karena Jawa Timur surplus cabai. Jadi kerja sama kita dengan Bappanas, kerja sama dengan BI dan pemerintah daerah,” kata Budi. rep/mb06
