MARTAPURA – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banjar terus memperkuat upaya menanggulangi tuberkulosis (TBC) melalui sinergi lintas sektor dan inovasi layanan kesehatan berbasis jemput bola.
Langkah ini dilakukan untuk mempercepat penemuan kasus, meningkatkan kesadaran masyarakat, serta memastikan pasien mendapatkan pengobatan hingga tuntas.
Hal ini disampaikan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Banjar M Noripansyah, usai membuka kegiatan Evaluasi Tim Percepatan Penanggulangan TBC di Hotel Roditha Banjarbaru, beberapa waktu lalu.
“Evaluasi ini merupakan bagian dari kelanjutan program percepatan penanggulangan TBC di Kabupaten Banjar,” ujarnya.
Ia mengatakan, pelaksanaan ini melibatkan berbagai unsur mulai dari satuan kerja perangkat daerah (SKPD), dinas sosial, bapperida, Polres Banjar, hingga komunitas lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan organisasi kemasyarakatan.
Menurutnya, penanggulangan TBC masih menjadi perhatian serius karena penyakit menular tersebut menimbulkan tantangan kesehatan yang besar.
Di Kabupaten Banjar, karakteristik geografis wilayah yang beragam mulai dari kawasan perairan, sungai, pesisir hingga pegunungan, turut menjadi tantangan dalam menjangkau masyarakat dan mengoptimalkan upaya pengendalian penyakit.
Selain faktor geografis, rendahnya kesadaran sebagian masyarakat untuk memeriksakan kesehatan serta ketidakpatuhan menjalani pengobatan, juga menjadi kendala dalam penanganan TBC.
“Sering kali pasien yang terindikasi TBC enggan memeriksakan diri atau tidak menuntaskan pengobatan selama enam hingga sembilan bulan. Padahal, penyakit TBC dapat disembuhkan jika ditangani dengan disiplin,” ungkapnya.
Untuk mengatasi kendala tersebut, Dinkes Banjar menghadirkan inovasi Skrining TBC Serentak Masyarakat Berantas Tuberkulosis (Sintak Matras).
Sementara, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Mariana menambahkan, inovasi ini bertujuan mendorong masyarakat melakukan pemeriksaan TBC secara serentak, baik yang memiliki indikasi maupun masyarakat umum.
Salah satu pendekatan yang diterapkan, yakni layanan jemput bola menggunakan perangkat rontgen portabel, sehingga pemeriksaan dapat dilakukan langsung di tengah masyarakat.
“Tujuannya agar masyarakat tidak lagi harus mengeluarkan dahak untuk pemeriksaan awal. Kita melakukan skrining menggunakan rontgen portabel yang peralatannya sederhana dan bisa di bawa langsung ke tengah masyarakat untuk pemeriksaan secara massal,” ujarnya.
Selain melalui skrining TBC, Dinkes Kabupaten Banjar juga memperkuat tindaklanjut layanan kesehatan, melalui program Bergerak Aktif, Identifikasi, Menjangkau, dan Bersama Melayani dalam Aksi Cek Kesehatan Gratis (Baimbai CKG), yang digagas Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Banjar M Habibi.
Habibi menjelaskan, program Baimbai CKG tidak hanya berfokus pada pelaksanaan pemeriksaan kesehatan, melainkan juga mengoptimalkan pemanfaatan data riwayat Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang telah dikumpulkan.
“Data tersebut digunakan sebagai dasar menindaklanjuti warga yang teridentifikasi memiliki risiko penyakit tertentu, agar memperoleh pelayanan dan pemantauan secara berkelanjutan,” pungkasnya. ril/dio
