Mata Banua Online
Jumat, April 24, 2026
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper
Mata Banua Online
No Result
View All Result

Heidegger, Benarkah Filsafat Sudah Berakhir?

by Mata Banua
2 Juni 2024
in Opini
0
D:\2024\Juni 2024\3 Juni 2024\8\8\Agus Widiey.jpg
Agus Widiey Mahasiswa program Studi filsafat UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.)

 

Sebenarnya, berakhirnya filsafat sudah mulai terjadi pada tahun 1964. Karena waktu itu, sains dan alat-alat teknologi telah mencoba mengambil alih peran dan fungsi filsafat. Ketika saya membaca beberapa buku filsafat, maka bertemulah saya dengan tulisan Heidegger yang menyatakan bahwa filsafat sudah berakhir. Saya pun agak memicingkan mata, dan dilanjutkan dengan alasan yang diberikan. Karena “it has found its place in the scientific attitude of socially active humanity.” Katanya sih, “The sciences are now taking over as their own task what philosophy in the course of its history tried to present in certain places, and even there only inadequately, that is, the ontologies of the various regions of beings (nature, history, law, art).” Filsuf Jerman itu menyatakan pada tahun 1969, perkiraan empat dekade yang lalu. Yang ditulis dalam artikelnya yang berjudul “The End of Philosophy and the Task of Thinking.” Sains–dengan kata lain, adalah khatamul falasifah.

Berita Lainnya

“War Tiket Haji: Ibadah Haji Bukan Komoditi”

“War Tiket Haji: Ibadah Haji Bukan Komoditi”

23 April 2026
Normalisasi Kejahatan Seksual, Alarm Bencana Sosial: Butuh Solusi Alternatif yang Komprehensif

Normalisasi Kejahatan Seksual, Alarm Bencana Sosial: Butuh Solusi Alternatif yang Komprehensif

23 April 2026

Tidak ada lagi filsafat hari ini, setelah sains digemakan di segala penjuru dunia. Hal ini telah dibuktikan dengan realitas kebenaran yang dulu ditawarkan oleh filsafat, dan hari ini justru digantikan oleh sains dengan baik. Barangkali kita sudah tahu, bahwa sejarah manusia telah membuktikan bahwa informasi adalah sumber pengetahuan yang dapat menguatkan juga dapat menguasai dalam diri. Dan sains telah memberikan bukti kebenaran itu dengan meyakinkan: lewat kejelasannya, kepastiannya, dan juga ukuran yang dapat dipertanggungjawabkan.

Tak bisa kita pungkiri, lebih dari itu, sains dan kecanggihan teknologi zaman ini, memberikan hasil nyata dengan keketatannya. Dan yang menjadi pertanyaan kita hari ini sama seperti yang pernah ditanyakan Heidegger pada masanya, misalnya; Setelah ini apa? Apakah kita masih perlu berpikir setelah filsafat sudah berakhir? Dan jika kita masih perlu berpikir, apa yang yang harus dipikirkan? Atau bagaimana cara berpikir hari ini? Bukankah kita sudah malas untuk berpikir? Apakah berakhirnya filsafat karena penggusuran sains? Dalam tulisan ini, kita akan merefleksikan apa yang menyebabkan filsafat–dinyatakan mati oleh filsuf Heidegger sendiri.

Potret Biografi Singkat Heidegger

Sebelum membahas lebih jauh, alangkah baiknya kita mengetahui perjalanannya sebagai jejak–siapa saja yang sudah mempengaruhi pemikirannya. Martin Heidegger(selanjutnya lebih dikenal dengan Heidegger) lahir di Messkirch, Jerman, pada tanggal 26 September 1889. Messkirch saat itu masih merupakan kota pedesaan yang tenang, konservatif, dan religius, dan dengan demikian memberikan pengaruh formatif terhadap pemikiran-pemikiran Heidegger. Pada mulanya, Heidegger adalah seorang pengikut fenomenologi. Secara sederhana, kaum fenomenolog menghampiri filsafat dengan berusaha memahami pengalaman tanpa diperantarai oleh pengetahuan sebelumnya dan asumsi-asumsi teoretis abstrak. Edmund Husserl adalah pendiri dan tokoh utama aliran ini, sementara Heidegger adalah mahasiswanya dan hal inilah yang meyakinkan Heidegger untuk menjadi seorang fenomenolog.

Heidegger menjadi tertarik akan pertanyaan tentang “Ada” (atau apa artinya “berada”). Karyanya yang terkenal Being and Time (Ada dan Waktu) dicirikan sebagai sebuah ontologi fenomenologis. Gagasan tentang Ada berasal dari Parmenides dan secara tradisional merupakan salah satu pemikiran utama dari filsafat Barat. Persoalan tentang keberadaan dihidupkan kembali oleh Heidegger setelah memudar karena pengaruh tradisi metafisika dari Plato hingga Descartes, dan belakangan ini pada Masa Pencerahan. Heidegger berusaha mendasarkan keberadaan di dalam waktu, dan dengan demikian menemukan hakikat atau makna yang sesungguhnya dalam artian kemampuannya untuk kita pahami. Melawan kekuatan mengungkapkan puisi, Heidegger menetapkan kekuatan teknologi. Inti dari teknologi adalah konversi dari seluruh alam semesta makhluk menjadi dibeda-bedakan “berdiri cadangan” (Bestand) dari energi yang tersedia untuk penggunaan manusia yang memilih untuk meletakkannya. Cadangan berdiri mewakili nihilisme yang paling ekstrem, karena makhluk makhluk benar-benar tunduk pada kehendak subjek manusia. Heidegger tidak tegas mengutuk teknologi; ia percaya bahwa dominasi yang semakin meningkat bisa membuat itu mungkin bagi manusia untuk kembali ke tugas otentik tentang tugas sedang. Namun, banyak karya kemudian Heidegger dicirikan oleh nostalgia agraria jelas.

Heidegger bergabung dengan Partai Nazi pada tanggal 1 Mei 1933, sebelum diangkat rektor universitas di Freiburg. Dia mengundurkan diri dari rectorship pada bulan April 1934. Selama ini mantan guru Heidegger, Husserl, yang Yahudi, ditolak penggunaan perpustakaan universitas di Freiburg karena hukum pembersihan rasial yang dikeluarkan oleh Partai Nazi. Heidegger juga dihapus dedikasi untuk Husserl dari Menjadi dan Waktu ketika diterbitkan kembali pada tahun 1941. Dari biografi ini, kita tahu bahwa Heidegger merupakan filsuf Jerman yang karyanya mungkin paling mudah dikaitkan dengan fenomenologi dan eksistensialisme, akan tetapi pemikirannya harus diidentifikasi sebagai bagian dari gerakan filosofis yang harus dengan sangat hati-hati dan kualifikasi. Ide-idenya telah memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan filsafat Eropa kontemporer.

Refleksi; Usulan Heidegger

Yang menarik dari Heidegger adalah ketika dia mengusulkan pikiran-terbuka sebagai ganti dari filsafat. Setelah filsafat berakhir, tugas manusia untuk berpikir tetap ada. Berpikir dengan metode baru, dengan penyampaian informasi yang baru, yaitu pikiran dengan terbuka. Berpikir terbuka yang dimaksud adalah mengizinkan manusia sebagai makhluk “being” dengan cara menampakkan dan membuka diri apa adanya tanpa hipokrit di dalamnya. Berpikir terbuka artinya menerima apa adanya, mendengar apa adanya, merasa apa adanya, melihat apa adanya, dan berpikir apa adanya. Berpikir-terbuka, meski kita hanya memilih istilah berpikir, bermakna diri yang terbuka.

Kemudian, perlu kita garis bawahi bahwa Heidegger tidak menawarkan solusi konkrit terhadap masalah teknologi dan sains sebagai kerangka interpretasi. Kekuatannya tidak dapat diubah oleh upaya individu mana pun. Jalan baru atau mungkin jalan lama. Maka, di titik ini masih menjadi pertanyaan terbuka bagaimana Heidegger berpikir dia telah membenarkan preferensinya terhadap satu skema dibandingkan skema lainnya. Di satu sisi, tampaknya dapat dengan mudah dikatakan bahwa gelas plastik yang dibahas sebelumnya juga sangat sesuai dengan skema praktik dan cara penyajiannya. Jika memang demikian, lalu apa yang membuat Heidegger menolaknya? Apa yang menjamin daya tarik konservatif terhadap apa yang sebelum teknologi atau hal-hal yang ilmiah lebih disukai? Mengapa sebenarnya pandangan dunia sains dan teknologi ilmiah banyak dianggap sebagai ancaman? Bahkan ada yang mengatakan, sekarang yang ada hanya sejarah filsafat.

Untuk hal ini, salah satu jawaban yang masuk akal,–sebagaimana telah disebutkan Heidegger, bahwa skema teknologi mencegah segala sesuatu untuk mengekspresikan sesuatu seperti karakter uniknya (lihat juga Lovitt 1977) Mengapa demikian? Karena hubungan yang mereka lakukan dengan kita diuniversalkan sebagai hubungan cadangan. Ironisnya kita diduga menantang berbagai hal, padahal membiarkan mereka mengekspresikan diri secara efektif berarti menyembunyikan hubungan kita dengan keberadaan. Dan hari ini, kita hanya melihat keseluruhan benda yang tersedia untuk kita gunakan. Penting untuk diingat, sains tidak pernah menjanjikan kepastian, tidak juga menyatakan dirinya sebagai solusi paling benar, karena dalam disiplin sains yang ilmiah masih ada yang namanya kalsifikasi.

Tetapi, karena keberadaan bukanlah suatu benda, maka kebutuhan untuk memikirkan keberadaan di atas terhadap keberadaan menjadi tersembunyi. Memang benar adanya, filsafat hari ini telah berakhir–ditelan zaman. Hingga para ilmuwan menyatakan; masalah eksistensi tidak bisa difilsafatkan lagi, bahkan tidak bisa dilogikakan; karena memang tidak bisa, terlalu buntu, irasional, tidak masuk akal, atau bahkan tidak relevan lagi. Sebagai penutup dari tulisan ini, saya ingin mengatakan; Filsafat sebagai proses berpikir tidak akan pernah berakhir, hanya saja hari sedang istirahat. Sedang sains dengan cepat mengambil alih dalam bentuk implementasinya yang lebih terukur dan teruji. Selebihnya, semoga filsafat yang dianggap sudah redup, kembali menyala seperti semula.

 

 

Tags: Agus Widiey MahasiswaHeidegger
Mata Banua Online

© 2025 PT. Cahaya Media Utama

  • S0P Perlindungan Wartawan
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi

No Result
View All Result
  • Headlines
  • Indonesiana
  • Pemprov Kalsel
  • Bank Kalsel
  • DPRD Kalsel
  • Banjarmasin
  • Banjarbaru
  • Daerah
    • Martapura
    • Tapin
    • Hulu Sungai Utara
    • Balangan
    • Tabalong
    • Tanah Laut
    • Tanah Bumbu
    • Kotabaru
  • Ekonomi Bisnis
  • Ragam
    • Pentas
    • Sport
    • Lintas
    • Mozaik
    • Opini
    • Foto
  • E-paper