Cegah LGBT dan HIV
BANJARMASIN – Ujian skripsi Program Magister Sekolah Tinggi Ilmu Hukum (STIH) Sultan Adam Banjarmasin atas nama Muhammad Fitriyadi Ade Saputra telah selesai dilaksanakan di Ruang Sidang 2 Kampus STIH Sultan Adam Banjarmasin, Rabu (12/8).
Pada sidang itu, Fitriyadi mempertahankan tesis dengan judul: Kajian Yuridis Penyimpangan Seksual Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (LGBT) Dalam Hukum Pidana”
Sidang tesis yang dipimpin Ketua Penguji Dr Susan SH MH ini dihadiri Dr H Fauzan Ramon SH MH sebagai pembimbing utama, Dr Riana Kusuma Ayu SH MH sebagai pembimbing pendamping, serta Dr Sahrul SH MH dan Dr Muslimah Hayati SH MH sebagai anggota penguji.
Fitriyadi mengatakan, alasan ia memilih tema LGBT karena fenomena penyimpangan seksual tersebut dinilai sudah cukup banyak terjadi di Indonesia.
“Ini sangat meresahkan, khususnya di kalangan orangtua maupun anak-anak di bawah umur, karena bertentangan dengan agama Islam dan kesusilaan di Indonesia,” ujarnya.
Ia mengaku mendapatkan data dari kunjungan ke puskesmas dan klinik kesehatan terkait pasien HIV yang dikaitkan dengan perilaku penyimpangan seksual.
“Berdasarkan data menunjukan ada kenaikan. Kita juga bisa melihat di media sosial seperti Instagram,” katanya.
Sementara, pembimbing utama Dr H Fauzan Ramon SH MH mengapresiasi tema yang di angkat Fitriyadi. Menurutnya, perilaku LGBT bisa terjadi di semua kalangan, dan menegaskan dalam ajaran Islam perilaku LGBT tidak dibenarkan.
Ia juga menyoroti pengaruh kampanye dari negara-negara Barat yang dinilainya mulai memengaruhi sebagian masyarakat Indonesia yang memiliki budaya ketimuran dan mayoritas Muslim.
“Hal paling penting saat ini adalah bagaimana mencegah perilaku menyimpang tersebut. Perilaku ini bisa tumbuh pada siapa saja,” ujarnya.
Ia pun menyimpulkan, salah satu faktor munculnya perilaku menyimpang adalah kurangnya perhatian. Karena itu, pendidikan pencegahan harus dimulai sejak usia dini melalui pola asuh yang tepat di lingkungan keluarga.
“Tugas mendidik anak bukan hanya tanggung jawab ibu sebagai Madrasatul Ula, tetapi seluruh ekosistem keluarga. Pola asuh adalah kunci utama pembentukan karakter dan perilaku anak,” jelasnya.
Fauzan juga mengingatkan lembaga pendidikan agar memiliki langkah preventif dan tegas agar tidak menjadi tempat penyebaran perilaku menyimpang. jjr
