BANJARMASIN – Ancaman krisis air baku akibat kemarau panjang dan masuknya air asin ke sumber air baku menjadi alarm bagi Kota Banjarmasin untuk segera memiliki cadangan air dalam skala besar. Pembangunan embung di kawasan Pematang Kabupaten Banjar, dinilai mendesak sebagai solusi jangka panjang untuk menjaga ketersediaan air baku bagi masyarakat.

Walikota Banjarmasin H Muhammad Yamin HR mengatakan, kebutuhan pembangunan embung tersebut diperkirakan memerlukan dana mencapai Rp200 miliar hingga Rp300 miliar. Sementara, anggaran untuk penyiapan lahan serta membangun jaringan perpipaan diperkirakan berkisar Rp90 miliar hingga Rp100 miliar.

“Besarnya kebutuhan anggaran membuat pembangunan ini memerlukan dukungan pendanaan lintas pemerintahan, mulai dari pemerintah kota, provinsi, hingga pusat,” kata Yamin, Senin (28/9).

Yamin mengatakan, ketersediaan air baku merupakan kebutuhan mendasar masyarakat Banjarmasin yang harus dijamin secara berkelanjutan. Terlebih, kondisi kemarau panjang yang terjadi saat ini berdampak pada terbatasnya pasokan air tawar akibat masuknya air asin ke wilayah sumber air baku.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya keberadaan sumber cadangan air yang dapat dimanfaatkan ketika pasokan air baku utama mengalami penurunan.

“Air baku ini sangat penting bagi masyarakat Banjarmasin. Harapan kita, dana bagi hasil juga bisa dimanfaatkan untuk pembangunan itu,” ujar Yamin.

Ia mengungkapkan, usulan pembangunan embung telah disampaikan kepada pemerintah pusat untuk mendapatkan bantuan pendanaan. Selain itu, dukungan melalui pemanfaatan dana bagi hasil juga diharapkan dapat mempercepat realisasi proyek tersebut.

Walikota Yamin mengaku bersyukur karena Gubernur Kalimantan Selatan H Muhidn, telah merespons positif terhadap rencana pembangunan embung. Karena itu, sinergi antara Pemerintah Kota Banjarmasin dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan menjadi salah satu kunci untuk merealisasikan proyek tersebut.

Terlebih, pengelolaan PAM melibatkan kedua pemerintah daerah, sehingga penyediaan infrastruktur air baku dinilai membutuhkan komitmen bersama.

Meski lokasi pembangunan berada di wilayah Kabupaten Banjar, hal tersebut dinilai tidak menjadi kendala. Keterbatasan lahan di Banjarmasin membuat kawasan Pematang menjadi alternatif untuk pembangunan tempat penampungan air dalam skala besar.

“Kalau di Kota Banjarmasin, mana ada lahannya. Di Kabupaten Banjar kita sudah memiliki lahan yang cukup luas dan sudah lama belum dimanfaatkan. Ini harus kita manfaatkan,” katanya.

Pembangunan embung diharapkan tidak hanya menjadi solusi ketika krisis air terjadi, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan air untuk PAM Bandarmasih Banjarmasin. Dengan adanya cadangan air baku, risiko terganggunya distribusi air bersih akibat kemarau panjang maupun intrusi air asin diharapkan dapat ditekan.

“Namun, besarnya kebutuhan anggaran membuat realisasi pembangunan memerlukan perencanaan dan kolaborasi yang matang. Dukungan pemerintah pusat, provinsi, dan kota menjadi penting agar pembangunan cadangan air baku tersebut dapat segera diwujudkan dan manfaatnya dirasakan masyarakat,” katanya. via