JAKARTA – Kementerian Pertanian (Kementan) merespons keluhan peternak ayam petelur terkait tingginya harga pakan ketika harga telur masih berada di bawah harga acuan pembelian (HAP).
Pemerintah bersama peternak, industri pakan, Badan Pangan Nasional (Bapanas), BUMN, dan Satgas Pangan menyepakati sejumlah langkah, mulai dari menjaga harga dan pasokan bahan baku pakan hingga mendorong penyerapan telur melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Respons tersebut disampaikan melalui unggahan Instagram resmi Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementan. Dalm unggahan itu disebutkan pemerintah akan berupaya menahan kenaikan harga pakan serta menjaga ketersediaan dan stabilitas bahan baku pakan, termasuk soybean meal (SBM).
Pemerintah juga akan mempercepat penyaluran jagung melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) bagi peternak. Penyerapan telur melalui MBG juga akan didoron sesuai harga acuan, sementara pengawasan terhadap perdagangan telur akan diperkuat.
Langkah tersebut dilakukan di tengah keluhan peternak mengenai biaya produksi yang meningkat akibat mahalnya pakan, sementara harga jual telur mengalami penurunan.
Sekjen Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) Sugeng Wahyudi mengatakan kenaikan harga pakan antara lain dipengaruhi ilai tukar dolar dan kenaikan harga bahan baku.
“Kenapa harga pakan itu naik? Karena dolar naik, kemudian fluktuasi dari sananya juga naik. Dan yang terakhir, saat ini, karena peran berdikari,” kata Sugeng dalam unggahan tersebut.
Sugeng meminta persoalan tersebut diklarifikasi agar tidak menimbulkan keresahan di kalangan peternak. “Nah, ini kan harus klrifikasi. Jangan sampai di bawah ini. Ini resah. Apa yang terjadi? Sehingga keresahan itu tidak muncul di lapangan,” ujarnya.
Sorotan mengenai peran Berdikari dalam pengadaan bahan baku pakan kemudian dijawab Direktur Operasional 1 PT Berdikari (Persero) M Agung Aulia.
Agung mengatakan Berdikari menjalankan penugasan pemerintah berdasarkan hasil rapat koordinasi terbatas dengan skema 60-40. Dalam skema tersebut, 60 persen penugasan diberikan kepada Berdikari, termauk dalam pembelian dan penjualan yang dilakukan melalui satu pintu.
“Secara penugasan, kami itu tentunya sesuai dengan hasil amanah rakortas 60-40. Artinya ada 60 persen, dan itu memang didelegasikan penugasannya kepada Berdikari. Salah satu penugasan yang diberikan kepada Berdikari, pembelian maupun penjualan, kami memang masih satu pintu,” ujar Agung.
Namun, ia mengatakan Berdikaribukan satu-satunya pihak yang menjalankan fungsi importir. Menurutnya, importir lain juga memiliki porsi signifikan dalam penugasan tersebut.
“Artinya peran importir yang lain juga di dalam penugasan ini signifikan jumlahnya. Kami jujur, kami tidak pernah menahan barang,” katanya.
Agung mengatakan Berdikari berkomunikasi dengan Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) untuk memenuhi kebutuhan bahan baku pakan, termasuk feed meal. Kebutuhan tersebut dikomunikasikan secaa berkala untuk setiap bulan. cnn/mb06
