JAKARTA – Kepala Badan Pusat Sta­tistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti meminta pemerintah dae­rah mewaspadai kenaikan harga da­ging ayam ras yang terjadi di sejumlah ka­bupaten/kota, meskipun harga komo­ditas tersebut secara nasional masih berada sedikit di bawah harga acuan penjualan (HA) konsumen.

Amalia mengatakan harga rata-rata nasional daging ayam ras saat ini mencapai sekitar Rp39.712 per kilogram atau masih sedikit di bawah HAP konsumen yang tercatat Rp40.000 per kilogram.

Namun, laju kenaikan harganya re­latif tinggi, sehingga perlu mendapat perhatian agar tidak terus meningkat hi­ngga melampaui HAP.

“Ini mungkin untuk perlu per­ha­tian karena kalau nanti kenaikan harga ini terus dibiarkan, tentunya suatu saat nanti akan berada di atas HAP,”ujar Amalia dalam Rapat Koordinasi Inflasi Daerah, yang dipantau secara da­ring di Jakarta, Senin.

Menurut Amalia, terdapat 188 ka­bupaten/kota yang mengalami ke­na­ikan Indeks Perkembangan Harga (IPH) daging ayam ras. Sejumlah daerah bahkan mencatat kenaikan IPH yang cukup tinggi dan harga yang telah melampaui HAP.

Ia mencontohkan Kabupaten Bangka Selatan yang mencatat ke­naikan IPH daging ayam ras ebesar 34,58 persen, meskipun harga ko­moditas tersebut masih sekitar 3 per­sen di bawah HAP atau Rp38.800 per kilogram.

Sementara itu, Kota Binjai men­catat kenaikan IPH sebesar 29,78 persen dengan harga daging ayam ras yang sudah sekitar 5 persen di atas HAP yakni Rp42.000 per kilogram.

Kondisi lebih tinggi terjadi di Ka­bupaten Kepahiang, dengan kenaikan IPH mencapai 21,34 peren dan harga daging ayam ras sekitar 20 persen di atas HAP atau Rp48.000 per kilo­gram.

Amalia menjelaskan kenaikan harga daging ayam ras di sejumlah dae­rah dipengaruhi oleh faktor pasokan maupun peningkatan per­min­taan.

Di Kabupaten Bangka Selatan, misalnya, kenaikan harga daging ayam ras dipengaruhi meningkatnya permintaan sebagai alternatif penggan­ti ikan. Hal ini disebabkan oleh konisi cuaca berupa angin kencang dan gelombang tinggi yang membatasi aktivitas nelayan, sehingga pasokan ikan berkurang dan masyarakat bera­lih membeli daging ayam.

Sementara, di Kota Binjai, ke­naikan harga daging ayam ras dipicu peningkatan permintaan pasar seiring kembali beroperasinya Satuan Pe­layanan Pemenuhan Gizi (SPPG) se­te_lah libur sekolah berakhir.

Adapun di Kabupaten Labhan­batu Selatan, kenaikan harga terjadi karena stok daging ayam ras di pasar terbatas di tengah meningkatnya per­mintaan.

Amalia mengatakan berbagai faktor tersebut perlu menjadi bahan per­hatian pemerintah daerah dalam upaya mengendalikan harga daging ayam ras, terutama di daerah yang me­ng­alami kenaikan harga cukup tinggi. “Ini catatan untuk meng­en­da­likan harga. Karena di sebagian kota dan kabpaten memang ada ke­ter­batasan pasokan dan juga di beberapa tempat memang sisi permintaannya sedang meningkat,” katanya. ant/mb06