JAKARTA – Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyoroti harga telur ayam ras di tingkat peternak yang kini berada sekitar 12 persen di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP).
Kondisi tersebut dinilai berpotensi menekan kemampuan produksi peternak apabila berlangsung dalam waktu lama.
Direktur Pengawasan Penerapan Standar Keamanan dan Mutu Pangan Bapanas Hermawan mengatakan harga telur ayam ras di tingkat produsen saat ini tercatat Rp23.237 per kilogram (kg), lebih rendah dibandingkan HAP yang dietapkan sebesar Rp26.500 per kg.
“Yang perlu segera menjadi perhatian adalah harga telur ayam ras di tingkat produsen yaitu harga Rp23.237 per kg atau sekitar 12,31 persen di bawah harga acuan pembelian di tingkat produsen sebesar yang seharusnya harganya adalah Rp26.500 per kg,” kata Hermawan dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026, Selasa (4/8).
Menurut dia, upaya pengendalian inflasi tak semata-mata mengejar harga pangan yang murah di tingkat konsumen. Harga yang terlalu rendah di tingkat produsen justru dapat menekan keberlangsungan usaha peternak.
“Karena itu pengendalian inflasi tidak boleh hanya berorientasi pada harga murah. Harga yang terlalu rendah dapat merugikan petani dan peternak, mengurangi kemampuan produksi, dan pada akhirnya berpotensi menimbulkan kekurangan pasokan pada periode berikutnya,” ujarnya.
Untuk membantu menekan biaya produksi peternak, Hermawan mengatakan pemerintah terus menyalurkan jagung melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).
Hingga 3 Agustus 2026, realisasi penyaluran SPHP jagung telah mencapai 104.411 ton atau 43,37 persen dari total pagu 213.200 ton. Program tersebut telah menjangkau sekitar 5.543 peternak melalui hampir 100 koperasi dan asosiasi.
Menurut Hermawan, jagung merupakan komponen utama dalam pakan ternak sehingga stabilitas harganya akan berpengaruh langsung terhadap biaya produksi telur maupun daging ayam.
Karena itu, Bapanas meminta penyaluran SPHP jagung dipercepat, terutama di daerah yang harga telur dan ayam hidup masih berada di bawah harga acuan serta di wilayah yang peternaknya menghadapi tekanan biaya produksi.
“Tujuannya agar peternak tetap bertahan, produksi tetap terjaga, dan masyarakat memperoleh telur serta daging ayam dengan harga yang wajar dan produsen tidak rugi, karena tetap adanya bantuan SPHP jagung ini,” kata Hermawan. cnn/mb06
