JAKARTA – Nilai tukar rupiah di­buka di posisi Rp18.071 per do­lar AS pada perdagangan Ka­mis (30/7) pagi. Mata uang Ga­ruda melemah tipis 2 poin atau 0,01 persen dibandingkan pe­nu­tup­an perdagangan sebelumnya.

Pergerakan rupiah sejalan de­ngan mayoritas mata uang Asia ya­ng menguat terhadap dolar AS. Yuan China naik 0,08 per­sen, ringgit Malaysia menguat 0,07 persen, dan peso Filipina be­rgerak stabil.

Sementara itu, sejumlah mata uang Asia lainnya justru me­le­mah. Dolar ingapura turun 0,03 per­sen, yen Jepang melemah 0,04 persen, won Korea Selatan ter­koreksi 0,33 persen, dan dolar Hong Kong turun 0,01 persen ter­hadap dolar AS.

Di sisi lain, kelompok mata uang negara maju terlihat kom­pak melemah terhadap dolar AS. Eu­ro melemah 0,14 persen, poun­dsterling Inggris turun 0,12 per­sen, dolar Australia terkoreksi 0,08 persen, dolar Kanada m­e­le­mah 0,03 perse, dan franc Swiss turun 0,18 persen terhadap do­lar AS.

Analis mata uang Doo Fi­nancial Futures Lukman Leong me­m­perkirakan rupiah ber­pe­lu­ang menguat pada perdagangan ha­ri ini seiring koreksi dolar AS pas­ca hasil rapat Komite Pasar Ter­­buka Federal (FOMC) yang di­nilai tidak seagresif perkiraan pasar.

“Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS ya­ng ter­ko­rek­si cukup besar setelah hasil pertemuan FOMC dinilai less hawkish dari harapan. Namun, penguatan akan terbatas me­ng­i­ng­at sentimen domestik yang masih belum pulih dan situasi geopolitik yang memanas di Ti­mur Tengah,” ujar Lukman. cnn/mb06