JAKARTA – Perhimpunan Ho­tel dan Restoran Indonesia (PHRI) memandang bahwa peningkatan okupansi hotel hi­ngga semester I/2026 dinilai be­lum merata. Sejumlah destinasi di Pulau Jawa, Sumatra, dan Bali tercatat menikmati pe­ni­ng­kat­an, tetapi tidak semua wilayah mengalami pola yang sama.

Sekretaris Jenderal PHRI Maulana Yusran mencermati bah­wa beberapa daerah juga mem­peroleh tambahan per­min­taan dari pergerakan wisata lin­tas provinsi, didukung ko­nek­tivi­tasinfrastruktur yang semakin ba­ik. “Kalau kita lihat Pulau Ja­wa menjadi salah satu destinasi fa­vorit. Kemudian juga ada di Pulau Sumatra, Bali,” kata Alan, sapaan akrabnya.

Menurutnya, kenaikan ting­kat hunian hotel pada per­teng­ahan tahun ini salah satunya di­to­pang oleh libur sekolah. Na­mun, dia mengingatkan bahwa per­baikan tersebut berpotensi han­ya bersifat sementara.

Alan menilai tantangan ter­besar justru akan muncul setelah pe­riode libur sekolah berakhir. Pada kondisi normal, per­min­ta­an hotel pada kuartal II hingga kuartal IV akan banyak di­to­pang aktivitas pemerintah me­lalui penyelenggaraan rapat, pelatihan, maupun kegiatan meeting, incentive, convention, exhibition (MICE).

Apabila efisiensi belanja pe­merintah masih berlanjut, pi­hak­nya memperkirakan bahwa tekanan terhadap tingkat hunian ho­tel akan kembali terjadi. Hal ini turut menjadi tantangan di te­ngah tren biaya operasional hotel yang meningkat imbas gejolak global. “Peningkatan biaya ope­ra­sional akan menjadi masalah se­telah libur sekolah usai dan oku­pansi kembali turun,” tu­turnya.

Lebih lanjut, dia me­nera­ng­kan bahwa tekanan itu sejatinya mu­lai dirasakan pelaku usaha se­belum memasuki musim liburan se­kolah.

Di beberapa daerah, pelaku usa­ha hotel mempertebal sisi penawaran seiring tingginya aktivitas pemerintah pada tahun-ta­hun sebelumnya. Namun demikian, ketika permintaan dari sektor tersebut melemah, angka okupansi pun iut tertekan.

Kondisi itu membuat pelaku usaha harus menyesuaikan strategi bisnis masing-masing, termasuk dalam mengelola biaya ope­rasional dan membaca peru­bah­an karakter permintaan pa­sar. “Setiap bisnis harus mela­kukan strategi sendiri terkait masalah efisiensi dengan me­lihat pasar yang terjadi,” ujar Alan.

Di sisi lain, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menilai performa sektor pariwisata In­donesia, termasuk okupansi ho­tel masih terjaga hingga Mei 2026. Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana mengatakan kinerja ter­sebut ditopang meningkatnya kunjungan wisatawan man­ca­negara maupun pergerakan wi­sa­tawan nusantara.

Sepanjang Januari hingga Mei 2026, Indonesia mencatat 6,07 juta kunjungan wisatawan man­canegara (wisman) tumbuh 7,68% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Semen­tara itu, perjalanan wisatawan nu­­san­tara (wisnus) mencapai 523,22 juta perjalanan atau meningkat 2,86% secara ta­hunan. “Di te­ngah situasi geo­po­litik global yang dinamis, termasuk ketidak­pas­tian ka­wasan Timur Tengah dan dam­paknya terhadap mo­bi­li­tas per­jalanan internasional, In­do­nesia tetap mampu menjaga per­tumbuhan sektor pariwisata,” kata Widiyanti. bisn/mb06