JAKARTA – Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai bergulirnya kembali Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berpotensi meningkatkan permintaan pangan pada Juli 2026. Namun, dampaknya terhadap inflasi nasional diperkirakan masih terbatas.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M. Rizal Taufikurahman mengatakan emulihan permintaan ayam dan telur setelah libur sekolah mulai mendorong kenaikan harga di tingkat produsen. Meski demikian, kenaikan tersebut dia nilai bersifat koreksi atas anjloknya harga sebelumnya, bukan lonjakan inflasi. “Kembalinya program MBG berpotensi menaikkan permintaan pangan pada Juli 2026, tetapi dampaknya terhadap inflasi nasional diperkirakan masih terbatas. Pengaruh awal akan lebih terlihat pada harga di tingkat peternak dibandingkan harga konsumen karena permintaan ayam dan telur kembali pulih setelah libur sekolah,” kata Rizal.
Menurut Rizal, kontribusi MBG terhadap pembentukan harga pangan akan makin besar seiring bertambahnya jumlah penerima manfaat dan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang beroperasi.
Namun, dia menegaska program tersebut bukan satu-satunya faktor yang memengaruhi inflasi pangan. Dia menjelaskan harga pangan juga dipengaruhi oleh musim produksi, harga pakan, kondisi cuaca, biaya transportasi, distribusi antardaerah, hingga struktur perdagangan.
Sampai dengan pekan ketiga Juli 2026, indeks perkembangan harga (IPH) masih mencatat penurunan di 34 provinsi dan hanya meningkat di empat provinsi. Kenaikan tersebut pun terutama dipicu oleh cabai merah dan cabai rawit, bukan ayam maupun telur.
“Artinya, MBG mulai memengaruhi permintaan komoditas tertentu, tetapi belum menjadi penggerak utama inflasi pangan secar nasional,” ujarnya.
Lebih lanjut, Rizal menilai komoditas yang paling sensitif terhadap peningkatan kebutuhan MBG meliputi telur ayam ras, daging ayam ras, beras, ikan, susu, sayuran, dan buah-buahan. Namun, risiko terbesar tetap berada pada komoditas ayam dan telur mengingat siklus produksinya membutuhkan waktu serta pasokannya masih terkonsentrasi di sejumlah daerah.
Dia menjelaskan secara empiris perubahan permintaan terhadap kedua komoditas tersebut sangat cepat tercermin pada harga. Setelah permintaan melemah seiring berakhirnya periode hari besar, misalnya, daging ayam ras menyumbang deflasi bulanan sebesar 0,11 poin persentase pada April 2026, sedangkan telur ayam ras memberikan andil deflasi sebesar 0,04 poin persentase.
Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya perencanaan pengadaan agar peningkatan permintaan dari MBG tidak menimbulkan gejolak harga. Meski demikian,
Rizal menilai kenaikan harga setelah MBG kembali berjalan tidak selalu berdampak negatif. Menurutnya, kenaikan harga justru diperlukan apabila harga sebelumnya berada di bawah biaya produksi sehingga dapat memulihkan pendapatan peternak. bisn/mb06
