JAKARTA – Asosiasi Peng­em­bang Perumahan dan Per­mu­kiman Seluruh Indonesia (Apersi) mengungkap pasokan rumah sub­sidi tercatat mengalami per­lambatan seiring dengan adanya lonjakan harga bahan bangunan hingga peliknya persoalan perizinan dan ketersediaan lahan.

Ketua Umum DPP Apersi Deddy Indrasetiawan menyebut bahwa suplai rumah subsidi pada semester I/2026 mengalami penurunan hingga 24% bila dibandingkan dengan periode ya­ng sama pada tahun sebelumnya.

“Pencapaian target rumah sub­sidi yoy-nya [year-on-year] secara semester pertama diban­ding tahun lalu kan turun 24%. Itu pasti salah satunya terkait ketersediaan lahan, selain peri­zinan dan material naik,” ujar Deddy di Jakarta, Rabu.

Selain beban biaya material yang melambung, isu penetapan la­han sawah dilindungi (LSD) turut menjadi batu sandungan uta­ma bagi para pengembang ka­wasan perumahan berbiaya rendah tersebut. Situasi ini tak pe­lak memicu tekanan finansial ya­ng berat bagi para pelaku usa­ha, khususnya pengembang skala kecil dan menengah yang me­ng­andalkan margin tipis.

“Sebenarnya bukan kolaps, tapi mereka [pengembang] sudah dicekek, sudah di ujung. Jadi me­reka hanya menghabiskan lahan yang ada, tapi lahan yang dibeli itu malah terkena LSD,” lanjutnya.

Deddy menjelaskan, kendala aturan LSD tersebut berdampak cukup masif terhadap proyek-proyek perumahan di sejumlah wilayah strategis. Wilayah Jawa Barat dan Banten, khususnya Kabupaten Tangerang, menjadi daerah dengan dampak terberat akibat tumpang tindih zonasi tersebut.

Guna mengatasi persoalan yang berlarut-larut, Apersi berkoordinasi intensif dengan Direktorat Jenderal Tata Ruang Kementerian ATR/BPN untuk menyelesaikan pemetaan LSD dan tata ruang perumahan. “Selain itu, Apersi juga me­m­buat satgas per daerah ba­gaimana tanah-tanah teman-te­man pengembang ini yang masuk zonanya, zona tata ruangnya perumahan, tetap didorong ma­suk bukan LSD,” pungkas Deddy. bisn/mb06