JAKARTA – Ketua Umum Kontak Tani Nelayan An­dalan (KTNA) Mohammad Yadi Sofyan Noor me­ngatakan sejumlah wilayah pertanian mulai ter­dampak kekeringan seiring meningkatnya iten­sitas musim kemarau. Wilayah tersebut ter­se­bar di Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga Ka­li­man­tan Selatan.

Di Jawa Barat, daerah yang mu­lai terdampak berada di Ka­bu­paten Indramayu dan Subang. Se­mentara di Jawa Tengah, Ka­bu­paten Purworejo masih relatif aman karena didukung sistem iri­gasi teknis dan ketersediaan sumber air. Adapun di Ka­li­man­tan Selatan, wilayah yang mulai ter­dampak meliputi Kabupaten Ban­jar, Tanah Laut, dan Tanah Bumbu Pagatan.

“Untuk menghadapi dampak ke­keringan, KTNA sudah ter­bi­a­sa beradatasi. Kalau masih ada sum­ber air maka kita gunakan me­sin pompa air yang sudah ter­se­dia,” kata Sofyan.

Menurut dia, apabila sumber air mulai terbatas, petani me­man­fa­atkan sumur-sumur dalam se­ba­gai alternatif. Jika sumber air ben­­ar-benar mengering, ke­bu­tuh­an air dipenuhi menggunakan mo­bil tangki secukupnya. La­ng­kah tersebut dilakukan agar ta­nam­an tetap memperoleh pa­sok­an air di tengah musim kemarau.

Kementerian Pertanian (Ke­mentan) seelumnya mem­be­ber­kan berbagai langkah mitigasi ya­ng disiapkan pemerintah untuk me­nghadapi potensi kekeringan aki­bat musim kemarau dan an­caman El Nino. Wakil Menteri Pe­r­tanian (Wamentan) Sudaryono me­ngatakan strategi tersebut di­la­kukan agar produksi pangan nasional tetap terjaga.

Menurut dia, mitigasi dila­ku­kan melaui sistem informasi pe­ri­ngatan dini (Si-PERDITAN), penguatan in­fra­struk­tur air, pompanisasi, re­ha­bi­litasi jaringan irigasi, pen­ye­dia­an benih tahan kekeringan, hi­ngga koordinasi intensif dengan ke­menterian, lembaga, dan pe­me­rintah daerah.

“Data menunjukkan upaya mi­ti­gasi yang kita lakukan berjalan efek­tif. Luas puso akibat El Nino hi­ngga Juli 2026 sekitar 12 ribu he­k­tare, jauh lebih rendah di­ban­dingkan tahun 2015 yang men­ca­pai sekitar 217 ribu hktare. Ar­ti­nya, kesiapsiagaan pemerintah se­makin kuat dan produksi pa­ng­an nasional tetap dapat kita ja­ga,” kata Sudaryono dalam rapat ke­r­ja bersama Komisi IV DPR RI di Jakarta, beberapa hari lalu.

Untuk memperkuat kesiapan me­nghadapi musim kemarau, Ke­mentan juga mempercepat penye­diaan alat dan mesin pertanian (alsintan), seperti pompa air, trak­tor, rice transplanter, serta ber­bagai saranapendukung la­in­nya agar produktivitas lahan per­ta­nian tetap optimal di berbagai dae­rah.

Sudaryono mengatakan la­ng­kah mitigasi tersebut ditujukan un­tuk menekan risiko gagal pa­nen sekaligus menjaga pro­duk­ti­vitas lahan di tengah ancaman pe­ru­bahan iklim. Pemerintah akan te­rus memperkuat kesiapsiagaan agar ketahanan pangan nasional tetap terjaga dan target sw­a­sem­ba­da pangan dapat tercapai.

Sebelumnya, Badan Me­te­o­ro­logi, Klimatologi, dan Geo­fi­si­ka (BMKG) menyatakan ope­ra­si modifikasi cuaca (OMC) be­lum dapat dilakukan untuk me­ng­a­tasi kekeringan di sejumlah wi­layah Indonesia. Hal itu karena efek­tivitas OMC bergantung pa­da ketersediaan awan hujan yang da­pat disemai. rep/mb06