Unuk itu Hanif mengatakan pe­merintah mendorong pe­ng­u­at­an jaringan Warung Pangan yang di­kembangkan PT Rajawali Nu­san­tara Indonesia (Persero) atau ID Food sebagai salah satu so­lu­si untuk memperpendek rantai di­s­tribusi sekaligus menjaga ke­ter­jangkauan dan stabilitas harga pa­ngan.

“Kita memiliki pasar tra­di­si­o­nal yang cukup banyak, men­ye­bar di 514 kabupaten/kota. Se­men­tara yang kemudian men­­da­pat akses ke grosir dan industri itu biasanya pasar-pasar modern. Pa­sar-pasar tradisional ini set­e­ng­ah mati untuk mendapat akses stok barang yang akan di­pa­sar­kan,” kata Hanif dalam kon­fe­ren­si pers di Pasar Tebet Timur, Ja­karta Selatan, Senin.

Dia menilai persoalan dis­tri­bu­si menjadi tantangan utama da­lam menjaga stabilitas harga pa­ng­an. Menurutnya, barang kerap me­lewati terlalu banyak mata ran­tai perdagangan sebelum sampai ke pedagang, sehingga harga men­jadi lebih mahal.

Untuk mengatasi persoalan ter­se­but, ID Food menggagas Wa­rung Pangan untuk me­m­per­kuat distribusi pangan di pasar tra­d­isional, sekaligus menjadi sa­lah satu instrumen stabilisasi har­ga. Dia berharap penguatan jar­i­ng­an Warung Pangan dapat me­ng­urangi kebutuhan pemerintah me­nggelr operasi pasar secara be­sar-besaran ketika terjadi gejolak harga.

Selain itu, Warung Pangan di­harapkan juga dapat terus di­per­luas, terutama di pasar-pasar tra­disional yang selama ini belum me­miliki akses logistik sebaik pas­ar modern.

“Mudah-mudahan Warung Pa­ng­an ini terus bisa diperlebar, te­ru­tama menjangkau pada pasar-pa­sar tradisional. Kita tidak mem­beda-bedakan perlakuan dengan pa­sar modern. Tapi biasnya pasar mo­dern ini lebih terstruktur dari logistiknya. Pasar tradisional ini sa­ya merasakan sendiri karena sa­ya juga orang desa, susahnya ki­ta mencari stok untuk kita jual,” tutur Hanif.

Sementara itu, ID Food menargetkan jumlah mitra W­a­ru­ng Pangan meningkat hingga 25.000-27.000 pada akhir 2026. Ek­spansi tersebut dilakukan un­tuk memperkuat pasokan ke pa­sar tradisional sekaligus mem­per­pen­dek rantai distribusi pangan.

Direktur Komersial ID Food Dwi Sutoro mengatakan se­ban­yak 8.000 warung telah ber­ga­bu­ng dalam sistem Warung Pa­ng­an yang dikembangkan per­se­ro­an.

Ke depan, ID Food me­nar­get­kan pertumbuhan jaringan se­ca­ra konsisten setiap tahun. “Ka­mi berharap bahwa akhir 2026 ini, dengan kampanye dan sup­port yang masif dari kementerian, bi­sa mempunyai mitra sekitar 25.000-27.000 di akhir tahun ini,” kata Dwi.

Dwi menjelaskan Warung Pa­ngan bukan merupakan toko mi­lik ID Food. Program tersebut me­ru­pakan sistem yang me­ng­hu­bu­ng­kan pedagang atau warung di pasar tradisional dengan ja­ri­ng­an distribusi dan logistik ID Food. bisn/mb06