Di tengah derasnya arus digitalisasi, perubahan gaya hidup, dan meningkatnya tekanan sosial-ekonomi, keluarga tetap menjadi tempat pertama sekaligus terakhir bagi setiap individu untuk menemukan ketenangan. Tidak mengherankan jika setiap pasangan yang melangsungkan pernikahan selalu didoakan menjadi keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah. Doa tersebut bukan sekadar tradisi, melainkan cita-cita besar yang diharapkan mampu menghadirkan keluarga yang harmonis, tangguh, dan menjadi fondasi lahirnya generasi yang berakhlak mulia.

Namun, mewujudkan keluarga sakinah pada era sekarang bukanlah perkara sederhana. Tantangan yang dihadapi keluarga modern jauh lebih kompleks dibandingkan beberapa dekade lalu. Kesibukan bekerja, penggunaan gawai yang berlebihan, derasnya arus informasi media sosial, hingga meningkatnya persoalan kesehatan mental menjadi tantangan nyata yang memengaruhi kualitas hubungan dalam keluarga. Di tengah kondisi tersebut, kehadiran seorang ayah tidak lagi cukup dimaknai sebagai pencari nafkah semata, tetapi juga sebagai pemimpin, pendidik, pelindung, sekaligus teladan bagi seluruh anggota keluarga.

Allah Swt. telah menjelaskan tujuan luhur pernikahan dalam firman-Nya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan hidup dari jenismu sendiri agar kamu memperoleh ketenteraman kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang.” (QS. Ar-Rum: 21).

Ayat tersebut mengandung pesan mendalam bahwa tujuan pernikahan bukan sekadar membentuk ikatan hukum antara laki-laki dan perempuan, melainkan menghadirkan ketenteraman (sakinah) yang dibangun melalui cinta (mawaddah) dan kasih sayang (rahmah). Ketiga nilai tersebut tidak tumbuh dengan sendirinya, tetapi harus dipelihara melalui komunikasi yang baik, saling menghargai, saling menguatkan, dan menjalankan tanggung jawab sesuai peran masing-masing.

Dalam ayat yang sama, Allah menggunakan istilah zauj yang berarti pasangan. Kata ini menunjukkan hubungan yang setara, saling melengkapi, saling mendukung, dan bukan hubungan yang didasarkan pada dominasi salah satu pihak. Suami dan istri merupakan mitra yang bersama-sama membangun keluarga. Kesalingan inilah yang menjadi fondasi lahirnya keluarga yang sehat secara spiritual, emosional, maupun sosial.

Sayangnya, realitas saat ini menunjukkan bahwa tidak sedikit keluarga mengalami krisis kehadiran ayah. Fenomena fatherless atau minimnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan semakin banyak diperbincangkan. Fatherless bukan hanya berarti anak kehilangan ayah karena kematian atau perceraian, tetapi juga ketika ayah hadir secara fisik namun tidak hadir secara emosional. Ayah sibuk bekerja, larut dalam aktivitas di luar rumah, atau bahkan lebih banyak menghabiskan waktu bersama telepon genggam daripada berdialog dengan anak-anaknya.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan ayah memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan anak. Anak yang memperoleh perhatian, kasih sayang, dan komunikasi yang baik dari ayah cenderung memiliki rasa percaya diri yang lebih tinggi, kemampuan sosial yang lebih baik, serta lebih mampu mengendalikan emosi. Sebaliknya, minimnya keterlibatan ayah berpotensi meningkatkan berbagai persoalan, mulai dari rendahnya prestasi belajar, perilaku menyimpang, hingga gangguan kesehatan mental.

Persoalan tersebut semakin terasa pada era digital. Anak-anak saat ini tumbuh bersama internet, media sosial, dan kecerdasan buatan. Dunia digital memang menawarkan banyak manfaat, tetapi juga menyimpan berbagai risiko seperti perundungan siber, kecanduan gawai, paparan konten negatif, hingga menurunnya kualitas interaksi dalam keluarga. Dalam situasi seperti ini, kehadiran ayah sebagai pendamping dan pembimbing menjadi semakin penting.

Ayah tidak cukup hanya menyediakan fasilitas pendidikan atau memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Anak-anak membutuhkan figur yang mampu menjadi pendengar, tempat bertanya, teman berdiskusi, sekaligus teladan dalam menyikapi berbagai persoalan kehidupan. Keteladanan tidak lahir dari nasihat semata, tetapi dari perilaku sehari-hari yang disaksikan langsung oleh anak.

Islam sendiri memberikan contoh terbaik melalui Rasulullah Saw. Beliau dikenal sebagai sosok pemimpin keluarga yang penuh kasih sayang. Rasulullah membantu pekerjaan rumah, bercengkerama dengan anak dan cucu, mendengarkan pendapat istri, serta menunjukkan kelembutan dalam mendidik keluarga. Kepemimpinan beliau dibangun atas dasar kasih sayang, bukan kekuasaan.

Dalam perspektif Islam, kepemimpinan seorang ayah bukanlah simbol superioritas, melainkan amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt. Karena itu, keberhasilan seorang ayah tidak hanya diukur dari besarnya penghasilan, tetapi juga dari keberhasilannya menanamkan nilai-nilai keimanan, akhlak, kejujuran, tanggung jawab, serta kepedulian sosial kepada anak-anaknya.

Bagi keluarga yang memiliki anak usia sekolah, peran ayah juga sangat menentukan dalam membentuk kebiasaan hidup sehat. Mulai dari mengajak berolahraga bersama, membatasi penggunaan gawai, membiasakan makan bergizi, menjaga kebersihan diri, hingga merawat kesehatan gigi dan mulut sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kesehatan secara menyeluruh. Kebiasaan sederhana tersebut akan lebih mudah diteladani apabila ayah turut memberikan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Di sisi lain, seorang ayah juga perlu membangun komunikasi yang hangat dengan pasangan. Banyak konflik keluarga berawal dari komunikasi yang buruk, minimnya waktu bersama, atau kurangnya penghargaan terhadap pasangan. Padahal, anak belajar tentang cinta, penghormatan, dan penyelesaian konflik pertama kali dari interaksi kedua orang tuanya. Ketika ayah mampu memperlakukan istri dengan penuh hormat dan kasih sayang, sesungguhnya ia sedang mengajarkan pendidikan karakter yang paling efektif kepada anak-anaknya.

Membangun keluarga sakinah memang bukan pekerjaan yang selesai dalam semalam. Ia merupakan proses panjang yang membutuhkan kesabaran, komitmen, dan kesungguhan. Tantangan zaman boleh berubah, tetapi nilai-nilai yang menjadi fondasi keluarga tetap sama, yaitu iman, kasih sayang, komunikasi yang baik, saling menghormati, dan keteladanan.

Sudah saatnya kita memaknai kembali peran ayah secara lebih utuh. Ayah bukan hanya tulang punggung ekonomi keluarga, tetapi juga pilar utama yang menjaga ketahanan spiritual, emosional, dan moral keluarga. Ketika ayah hadir dengan hati, keluarga akan menjadi tempat yang menenangkan. Dari keluarga yang sakinah itulah akan lahir generasi yang sehat, berkarakter, berakhlak mulia, dan mampu menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan maupun keimanan.

Mewujudkan Indonesia yang kuat tidak cukup hanya melalui pembangunan infrastruktur atau pertumbuhan ekonomi. Semua itu harus dimulai dari keluarga yang kokoh. Dan keluarga yang kokoh selalu bertumpu pada hadirnya ayah yang bukan hanya bekerja untuk keluarganya, tetapi juga hidup bersama keluarganya.