JAKARTA – Perum Bulog mengeklaim distribusi Minyakita telah mencapai 140 juta liter dengan fokus penyaluran ke pasar rakyat sebagai upaya menjaga ketersediaan dan stabilisasi harga minyak goreng di masyarakat.
Kepala Divisi Perencanaan Operasi dan Analisa Harga Pasar Perum Bulog Muhammad Wawan Hidayant mengatakan perseroan mengalihkan fokus distribusi Minyakita dari jaringan Rumah Pangan Kita (RPK) ke pasar rakyat sesuai arahan manajemen.
“Kami juga mensuplai untuk Minyakita fokus ke distribusi pasar, di mana realisasi distribusi sendiri telah mencapai 140.000 kiloliter,” kata Wawan dalam rapat koordinasi pengendalian inflasi daerah.
Per 4 Juli 2026, total realisasi distribusi Minyakita telah mencapai 140.300 kiloliter. Distribusi terbesar dilakukan melalui pasar rakyat sebanyak 76.396 kiloliter atau sekitar 54% dari total distribusi, disusul oleh jaringan RPK sebanyak 48.557 kiloliter, pengecer lainnya sebanyak 10.393 kiloliter, serta Koperasi Desa/Kelurahan (KopDes/Kel) Merah Putih sebanyak 4.954 kiloliter. Wawan menjelaskan, kebijakan tersebutdiperkuat melalui surat dinas internal yang diterbitkan Direktur Utama Perum Bulog kepada seluruh pemimpin wilayah agar memprioritaskan distribusi Minyakita ke pasar rakyat.
Selain itu, dia menyampaikan pelaksanaannya juga dilakukan dengan berkoordinasi bersama pemerintah daerah, Badan Pangan Nasional (Bapanas), serta para pemangku kepentingan lainnya untuk mendukung kelancaran distribusi pangan.
“Kami sudah lebih banyak mensuplai [Minyakita] ke pasar rakyat, di mana tadi kami sampaikan Perum Bulog fokus ke distribusi ke pasar. Ini juga sesuai dengan arahan pimpinan kami, Bapak Dirut sendiri mengeluarkn surat dinas internal kepada pemimpin wilayah di seluruh Indonesia agar kami fokus ke pasar,” ujarnya.
Lebih lanjut, Wawan menuturkan distribusi melalui pasar rakyat kini terus meningkat dan telah melampaui penjualan melalui jaringan RPK. Dalam tiga bulan terakhir, volume distribusi ke pasar rakyat mencapai 37.284 kiloliter, sedangkan ke RPK hanya sebanyak 16.653 kiloliter.
“Kami fokus ke pasar rakyat, di mana ii semakin besar dibanding penjualan melalui RPK, di mana tiga bulan terakhir juga kami sampaikan distribusinya sudah mencapai 37.000 kiloliter untuk ke pasar rakyat,” ujarnya.
Di sisi lain, Bulog juga menyebut telah mendistribusikan Minyakita ke seluruh provinsi, dengan 27 provinsi yang mencatatkan harga pasar sesuai dan/atau di bawah harga eceran tertinggi (HET) dengan maksimal toleransi 2%. Namun, terdapat potesi 11 provinsi yang masih mencatat Minyakita di atas HET, terutama di wilayah Indonesia Timur dan wilayah 3T.
Menurut Bulog, Minyakita yang masih dibanderol di atas HET, khususnya di wilayah Indonesia Timur dan 3T dipicu kondisi geografis dan biaya distribusi yang tinggi dari produsen ke Bulog dan dari gudang Bulog ke pasar. Alhasil, apabila didistribusikan ke wilayah tersebut maka terdapat potensi harga jual Bulog di atas harga penetapan Kementerian Perdagangan (Kemendag), yakni di atas Rp14.500 per liter. bisn/mb06
