BANJARBARU – Tim Program Dosen Wajib Mengabdi (PDWA) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Kalimantan Selatan, terus berupaya meningkatkan dan memperkuat budaya inklusi dengan menggelar pelatihan kolaboratif guru, edukasi orang tua, dan peer support bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) di Sekolah Inklusif SDN 2 Palam Kota Banjarbaru.

Ketua Tim PDWA ULM, Dr. Sakerani, M.Pd., di Banjarbaru, Rabu, mengatakan sebanyak 30 peserta yang hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya guru, tenaga kependidikan, serta orang tua siswa.

“Kehadiran dan keterlihatan orang tua siswa menjadi bagian penting dari strategi membangun sinergi antara sekolah dan keluarga dalam memberikan layanan pendidikan yang inklusif,” kata Sakerani.

Ia menerangkan, upaya mewujudkan sekolah yang ramah bagi seluruh peserta didik, termasuk ABK terus dilakukan, salah satunya dengan menggelar workshop secara interaktif agar kolaborasi guru pembimbing khusus dengan guru reguler dalam memfasilitasi pembelajaran ABK, pengenalan ragam anak berkebutuhan khusus beserta strategi pengasuhan positif oleh orang tua, serta penguatan peer support dapat membangun budaya empati antar siswa.

Seluruh materi dirancang untuk memberikan pemahaman praktis yang dapat langsung diterapkan dalam kehidupan sekolah sehari-hari.

Dalam forum tersebut, para guru dan orang tua siswa sangat antusias memanfaatkan sesi tanya jawab untuk berkonsultasi mengenai berbagai tantangan yang mereka hadapi dalam mendampingi ABK di sekolah maupun di rumah.

“Yang dibahas mulai dari strategi mengenali karakteristik dan kebutuhan belajar siswa, membangun komunikasi yang efektif dengan orang tua, hingga langkah-langkah menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan bebas dari perundungan,” terang Sakerani.

Sakerani juga mencontohkan permasalahan yang dialami orang tua siswa mengenai perilaku anak sia 12 tahun yang menunjukkan sikap santun, disiplin dan mudah diarahkan saat berada di sekolah, tetapi sering marah menolak arahan serta bersikap memberontak ketika yang bersangkutan berada di rumah.

Orang tua tersebut mengaku merasa kesulitan menghadapi perubahan perilaku tersebut hingga kerap terbawa emosi dalam meresponnya.

Sakerani melanjutkan, dalam diskusi itu tim narasumber memberikan penjelasan yang disertai contoh kasus dan solusi praktis agar dapat diterapkan sesuai kondisi di sekolah.

Narasumber Tim PDWA ULM, Hayatun Thaibah, S.Psi., M.Psi., Psikolog, juga menjelaskan bahwa perbedaan perilaku anak di lingkungan sekolah dan di rumah merupakan kondisi yang cukup sering dijumpai.

“Di sekolah, anak cenderung mampu mengendalikan diri karena adanya aturan, struktur, dan tuntutan sosial,” jelas Hayatun.

Sementara itu, di rumah anak merasa berada pada lingkungan yang aman sehingga lebih bebas mengekspresikan emosi yang selama ini ditahan.

Oleh karena itu, orang tua dianjurkan untuk tetap tenang, membangun komunikasi yang hangat, menetapkan aturan yang konsisten, memberikan konsekuensi yang mendidik, serta melibatkan anak dalam diskusi untuk menyelesaikan konflik.

“Apabila perilaku tersebut berlangsung terus-menerus dan mulai mengganggu fungsi sosial maupun hubungan dalam keluarga, orang tua disarankan berkonsultasi dengan psikolog agar penyebabnya dapat diidentifikasi secara lebih mendalam,” tutur Hayatun.

Pertanyaan lain yang menarik disampaikan oleh salah satu guru mengenai strategi pembelajaran yang tepat ketika di dalam kelas terdapat peserta didik dengan karakteristik dan kebutuhan belajar yang beragam.

Guru tersebut menanyakan bagaimana cara mengelola pembelajaran agar seluruh siswa, baik reguler maupun anak berkebutuhan khusus tetap dapat mengikuti proses belajar secara optimal.

Narasumber Tim PDWA ULM Prof. Dr. Imam Yuwono, M.Pd juga menjelaskan, bahwa pembelajaran di kelas inklusif perlu berorientasi pada kebutuhan peserta didik. Guru tidak harus memberikan perlakuan yang sama kepada semua siswa, tetapi memberikan layanan yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan masing-masing.

“Hal tersebut dapat dilakukan melalui penggunaan metode pembelajaran yang fleksibel, penyesuaian media dan tugas belajar, pemberian pendampingan sesuai kebutuhan, serta membangun suasana kelas yang menghargai perbedaan dan mendorong kerja sama antarsiswa,” tegas Imam.

Menurut Imam, keberhasilan pendidikan inklusif sangat ditentukan oleh kreativitas guru dalam menciptakan pembelajaran yang adaptif tanpa mengurangi kesempatan belajar bagi seluruh peserta didik.

Salah satu peserta, Nur Komala Dewi, S.Pd., menyampaikan apresiasi terhadap kegiatan tersebut.

Menurut Dewi, pelatihan ini memberikan wawasan baru bagi guru dalam memahami karakteristik peserta didik sekaligus memperkuat kerja sama dengan orang tua sehingga pelayanan pendidikan inklusif di sekolah dapat berjalan lebih optimal.

Melalui kegiatan pengabdian ini, Jurusan Pendidikan Khusus ULM berharap budaya inklusif tidak hanya berhenti pada pemahaman konsep, tetapi menjadi praktik nyata dalam kehidupan sekolah.

“Kolaborasi yang erat antara guru, keluarga, dan teman sebaya diharapkan mampu menciptakan lingkungan belajar yang menghargai keberagaman, mendorong partisipasi seluruh peserta didik, serta memastikan setiap anak memperoleh kesempatan berkembang sesuai potensi yang dimilikinya,” harap Dewi. ant