JAKARTA – Rencana Perum Bulog mem­pro­duk­si BerasKita Premium sebagai instrumen sta­bi­lisasi harga dinilai sejalan dengan peru­bah­an pola konsumsi masyarakat.

BerasKita Premium ren­ca­na­nya akan dijual sesuai harga ecer­an tertinggi (HET), sebesar Rp 14.900 per kilogram. Sementara itu, beras SPHP Bulog saat ini di­jual dengan harga Rp 12.500 per kilogram untuk stabilisasi harga.

Pengamat pangan, Khudori, m­enilai cadangan beras pe­me­rin­tah (CBP) yang selama ini hanya berisi beras medium sudah tidak lagi sesuai dengan kondisi pasar ya­ng semakin beragam.

Menurut Khudori, pasar beras saat ini menawarkan ber­ba­gai pilihan kualitas, mulai dari beras medium, premium, hingga be­ras khusus seperti beras me­rah, hitam, organik, dan for­ti­fi­ka­si. Kondisi tersebut dipe­ng­aru­hi oleh perubahan preferensi konsumen akibat meningkatnya urbanisasi, pendapatan mas­ya­ra­kat, serta berkembangnya ja­ring­an ritel modern.

“Pasar kini tidak lagi hanya me­ngenal satu jenis beras. Kon­su­men memilih berdasarkan kua­li­tas, rasa, bentuk, hingga me­rek,” ujarnya, Selasa.

Ia mengutip hasil kajian Per­himpunan Ekonomi Pertanian In­do­nesia (PERHEPI) pada 2016 ya­ng menunjukkan bahwa kon­su­men berpendapatan tinggi lebih mengutamakan warna putih, tek­stur pulen, bentuk beras utuh, dan merek saat membeli beras. Ke­lompok ini juga cenderung ber­belanja di minimarket atau super­ma­rket dengan kemasan 5 kilogram.

Di sisi lain, konsumen ber­pendapatan rendah lebih mem­per­timbangkan harga dan warna beras. Mereka juga lebih cepat be­ralih ke merek lain ketika hrga me­lonjak naik.

Khudori menyebut kondisi ter­sebut membuat permintaan beras premium terus meningkat. Pertumbuhan permintaannya di­perkirakan mencapai 11% per tahun dengan pangsa pasar se­kitar 38%. Sebaliknya, per­min­taan beras medium diperkirakan te­rus menurun sekitar 9% per ta­hun, meski masih menguasai se­kitar 60% pasar.

Namun, menurutnya, CBP ya­ng hanya berisi beras medium me­m­buat intervensi pemerintah me­lalui program Stabilisasi Pa­sokan dan Harga Pangan (SPHP) menjadi kurang efektif. “Mus­tahil operasi pasar dengan satu je­nis beras mampu meredam har­ga seluruh segmen beras yang beredar di pasar,” katanya.

Selain keterbatasan jenis be­ras, efektivitas operasi pasar juga di­pengaruhi oleh volume pen­yaluran yang terbatas, pem­ba­tasan pembelian, serta persoalan kualitas beras SPHP.

Sebelumnya, Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, mengusulkan prog­ram BerasKita untuk stabilisasi beras premium. Program ini di­ha­rapkan mampu mengulang ke­suk­sesan beras program SPHP.

Rizal mengaku telah me­ng­u­sul­kan program BerasKita Pre­mium kepada Menteri Ko­or­di­na­tor Bidang Pangan, Zulkifli Hasan. Tujuannya adalah untuk men­stabilkan harga beras pre­mium di pasaran yang sedang me­ngalami kenaikan.

“Kami hanya mengusulkan un­tuk membuat BerasKita Pr­e­mium. Jadi, saat beras premium la­gi agak naik, supaya men­sta­bi­lisasi beras premium, BerasKita Premium harus ada,” kata Rizal.

Dia mengatakan, kepastian pe­laksanaan program itu masih me­nunggu persetujuan dari Menko Pangan. Rizal berkaca pa­da stabilnya harga beras me­di­um berkat hadirnya beras SPHP. lp6/mb06