DALAM sebuah riwayat, Nabi Muhammad saw. bersabda bahwa “Apabila seorang manusia meninggal dunia, terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga perkara: ?adaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya (HR Muslim).
Hadis ini sangat popuer di tengah masyarakat. Namun, dalam praktiknya, sebagian orang memahami ?adaqah jariyah secara sempit, yakni sebatas menyumbangkan uang atau mewakafkan benda-benda yang bersifat permanen seperti masjid, madrasah, sumur, atau bangunan sosial lainnya.
Padahal, jika dicermati dari redaksi hadis tersebut, makna ?adaqah jariyah jauh lebih luas. Semua amal yang manfaatnya terus mengalir kepada makhluk hidup dalam waktu yang panjang termasuk ke dalam kategori sedekah jariyah. Di antara bentuknya yang sangat dekat dengan kehidupan manusia, tetapi sering terlupakan, adalah menanam pohon.
Pohon bukan sekadar tumbuhan yang menghiasi halaman atau memperindah pemandangan. Ia adalah sumber kehidupan. Dari akar hingga daun, seluruh bagian pohon menghadirkan manfaat. Akarnya menjaga cadangan air tanah dan mencegah longsor. Batangnya menyimpan karbon sehingga membantu mengurangi pemanasan global. Ranting dan daunnya menghailkan oksigen yang setiap hari dihirup manusia. Bunganya menjadi sumber makanan bagi lebah dan berbagai serangga penyerbuk. Buahnya memberi makanan bagi manusia maupun satwa. Ketika pohon tumbuh besar, ia menjadi tempat berteduh, tempat bersarang burung, bahkan menjadi penyangga keseimbangan suatu ekosistem.
Karena manfaatnya yang begitu luas dan berlangsung lama, menanam pohon merupakan salah satu bentuk sedekah yang paling sempurna. Sekali seseorang menanam pohon, manfaatnya dapat dinikmati puluhan bahkan ratusan tahun.
Selama pohon itu tumbuh, setiap orang yang berteduh di bawahnya, setiap burung yang membuat sarang, setiap hewan yang memakan buahnya, setiap tetes air yang berhasil disimpan akarnya, bahkan setiap udara bersih yang dihasilkan dedaunannya, semuanya menjadi aliran pahala bagi orang yang menanamnya. Inilah makna “mengalir” yang sesungguhnya dalam sedekah jariyah.
Tidak mengherankan jika Rasulullh saw. secara khusus memberikan perhatian besar terhadap aktivitas menanam pohon. Dalam sebuah hadis, Rasulullah bersabda bahwa “Tidaklah seorang Muslim menanam pohon atau tanaman, kemudian hasilnya dimakan burung, manusia ataupun binatang, melainkan semuanya menjadi sedekah baginya (HR Imam al-Bukhari dan Imam Muslim).
Hadis ini memperlihatkan keluasan rahmat Islam. Sedekah tidak hanya dihitung ketika manfaat diterima oleh sesama manusia, tetapi juga ketika manfaat itu dinikmati oleh makhluk hidup lainnya. Burung, serangga, bahkan binatang liar yang memperoleh manfaat dari sebuah pohon ikut menjadi sebab mengalirnya pahala bagi penanamnya.
Lebih menarik lagi, Rasulullah saw. tidak mengaitkan pahala itu dengan besar kecilnya hasil tanaman. Yang menjadi ukuran bukanlah nilai ekonominya, melainkan manfaat kehidupan yang dihasilkannya. Artinya, sebatang pohon mangga di halaman rumah, pohon rambutan di kebun,pohon peneduh di pinggir jalan, bahkan tanaman yang tumbuh sederhana di pekarangan dapat menjadi investasi akhirat apabila menghadirkan kemanfaatan bagi makhluk Allah.
Optimisme Islam terhadap aktivitas menanam pohon bahkan mencapai puncaknya dalam sebuah hadis yang sangat inspiratif. Rasulullah saw. bersabda, “Apabila hari kiamat telah tiba, sementara di tangan salah seorang di antara kalian terdapat benih tanaman, maka apabila ia masih mampu menanamnya sebelum kiamat benar-benar terjadi, hendaklah ia menanamnya”.(HR Ahmad).
Pesan hadis ini bukan berbicara tentang kemungkinan pohon itu akan tumbuh ketika kiamat telah datang. Yang ditekankan Rasulullah adalah etika seorang mukmin. Selama kesempatan berbuat baik masih terbuka walau hanya sesaat, kebaikan itu tetap harus dilakukan. Menanam pohon menjadi simbol optimisme, harapan, dan tanggung jawab manusia terhadap kehidupan.
Pesan-pesan kenabian tersebut teraa semakin relevan pada masa sekarang. Dunia sedang menghadapi berbagai krisis lingkungan. Hutan menyusut akibat pembalakan, lahan hijau berubah menjadi kawasan beton, suhu bumi terus meningkat, banjir dan kekeringan silih berganti, sementara kualitas udara di banyak kota semakin memburuk. Berbagai persoalan tersebut sesungguhnya memiliki satu benang merah, yaitu semakin berkurangnya ruang bagi pepohonan untuk tumbuh.
Ironisnya, banyak orang ingin menikmati udara yang sejuk, tetapi enggan menanam pohon. Kita berharap tersedia air bersih sepanjang tahun, tetapi membiarkan kawasan resapan berubah menjadi permukiman tanpa ruang hijau. Kita mengeluhkan cuaca yang semakin panas, tetapi tidak merasa memiliki tanggung jawab untuk menghijaukan lingkungan sekitar. Akibatnya, kita lebih banyak menjadi konsumen manfaat alam daripada penjaga keberlanjutannya.
Dalam perspektif Islam, manusia tidak diciptakan sebagai penakluk bumi,
Selainkan sebagai khalifah yang bertugas memakmurkan dan menjaganya. Memakmurkan bumi bukan hanya membangun gedung, jalan, dan berbagai infrastruktur, tetapi juga memastikan bahwa alam tetap memiliki kemampuan menopang kehidupan. Menanam pohon merupakan salah satu wujud nyata pelaksanaan amanah kekhalifahan tersebut. Sebatang pohon mungkin tampak sederhana, tetapi ia bekerja tanpa henti melayani kehidupan sepanjang usianya.
Karena itu, sudah saatnya kita memperluas cara pandang tentang sedekah. Sedekah bukan hanya memindahkan harta dari tangan kita kepada orang lain. Sedekah juga dapat berupa menghadirkan kehidupan yang lebih baik bagi generasi mendatang. Ketika seseorang menanam pohon hari ini, boleh jadi ia tidak akan menikmati seluruh hasilnya. Namun anak cucu, masyarakat, burung-burung, bahkan makhluk hidup yang belum lahir sekalipun akan merasakan manfaatnya. Bukankah inilah hakikat sedekah jariyah: memberi mafaat yang terus mengalir melampaui usia pemberinya?
Mungkin tidak semua orang memiliki kemampuan membangun masjid atau mewakafkan tanah yang luas. Namun hampir setiap orang mampu menanam setidaknya satu pohon. Bila setiap keluarga menanam dan merawat beberapa pohon di halaman rumah, sekolah, kampus, kantor, atau ruang publik, dampaknya akan jauh melampaui nilai satu batang pohon itu sendiri. Ia menjadi sumber udara bersih, penyimpan air, peneduh kehidupan, rumah bagi berbagai makhluk, sekaligus tabungan pahala yang tidak berhenti mengalir.
Maka, ketika tangan kita menggenggam bibit pohon, janganlah melihatnya hanya sebagai tanaman kecil yang akan tumbuh beberapa meter. Lihatlah ia sebagai sedekah yang akan terus hidup, berbuah, memberi teduh, menghidupkan bumi, dan menjadi saksi bahwa seorang mukmin pernah menitipkan kebaikan bagi kehidupan. Sebab pada akhirnya, pohon yang kita tanam bukan hanya menghijaukan bumi, tetapi uga menghijaukan catatan amal yang akan kita bawa menghadap Allah Swt. Mari kita selalu menanam. (*)
