Sesungguhnya keberadaan Rasulullah (Nabi Muhammad Saw) adalah anugerah yang luar biasa dari Allah  Swt untuk umat manusia. Mengingat tabiat manusia yang cenderung menyenangi sesuatu dan mengidolakan sosok atau figur seorang tokoh. Rasulullah hadir menjadi rasul terakhir sebagai penebar rahmat bagi semesta alam  dan memiliki akhlak yang berhiaskan akhlak Alquran.

Rasulullah adalah Alquran berjalan. Semua perkataan dan perbuatannya adalah terjemahan aplikatif dari kitab suci.  Beliau terbukti sukses menjalani setiap aspek kehidupannya dengan mengikuti petunjuk Allah Swt. ”Kehidupan Muhammad bukanlah rekonstruksi setelah wafatnya. Kehidupan Muhammad bersifat seperti sebuah buku yang terbuka. Dalam hal ini posisinya dalam sejarah spiritual adalah unik. Seorang tokoh sejarah yang mengajarkan sebuah agama dunia, dan setiap gerakan dan nasihat-nasihatnya dicatat oleh banyak saksi sepanjang hidupnya.”

Demikian yang ditulis oleh  Michael Wolfe, seorang mualaf berkebangsaan Amerika yang berprofesi sebagai jurnalis. Sumber rujukan penulisan sejarah atau sirah Rasulullah Saw adalah bersumber dari Alquran dan sunnah Rasul yang sejatinya memang diriwayatkan oleh para sahabat dan sahabiyah. Para sahabat ini kemudian meneruskan kepada para tabiin yang kemudian menukilkan riwayat tersebut dengan mencatatnya dalam lembaran yang mereka simpan hingga generasi selanjutnya dapat menuliskan sirah nabi Muhammad Saw tersebut dalam bentuk sebuah kitab atau buku.

Dengan membaca sejarah atau sirah nabi Muhammad Saw tersebut  kita yang tidak pernah melihat langsung sosok Rasulullah, dapat mengenal lebih dekat dan  menyelami samudra kehidupan Beliau. Walau berabad jarak memisahkan, kita juga dapat mengetahui setiap episode kehidupan dan peran Beliau. Manusia termulia, Qudwah Hasanah. Teladan terbaik bagi seluruh umat manusia sepanjang zaman. Tidak hanya dari sisi ritual ibadahnya, tetapi juga dari perannya sebagai kepala keluarga, pendidik, motivator, panglima, politikus dan pemimpin negara.

Mencintai Rasulullah

Mengapa harus mencintai Rasulullah? Rasulullah begitu mencintai dan peduli pada kita. Bahkan sampai menjelang wafatnya pun Beliau masih mengkhawatirkan keselamatan kita, umatnya.  Beliau jugalah yang akan memberi syafaat kepada kita kelak di saat tak ada syafaat yang akan diterima oleh Allah Swt. Berkaitan dengan hal ini, diriwayatkan oleh Al Imam Ibnu Hajar Asqalany dalam Fathul  Bari Bisyarah Shahih Al Bukhari, beliau menukil riwayat lain dari Anas bin Malik yang berkata: ”Wahai Rasulullah, aku memohon syafaat kepadamu”, maka Rasulullah Saw berkata,” Engkau akan bertemu aku di Mizan,” Rasulullah Saw menunggu umatnya di timbangan amal untuk memberikan syafaat.

Jika timbangan dosanya lebih berat dari amalnya maka akan diringankan oleh nabi Muhammad Saw dengan syafaatnya. Kemudian Anas bin Malik berkata, ”Wahai Rasulullah jika aku selamat di mizan, lalu bermasalah di tempat selanjutnya?” maka Rasulullah menjawab,”Aku akan berada di jembatan Shirat saat ummatku melintas”.

Dalam sebuah riwayat lain dikatakan  setiap  ummat Muhammad Saw akan terjatuh ke jurang api neraka. Lalu Rasulullah Saw akan memegang tangannya.  Namun jika dia pendosa besar yang belum sempat bertobat sebelum wafat, maka orang itu yang akan melepaskan tangan nabi sehingga iapun terjerumus ke dalam neraka. Maka Anas bin Malik  kembali bertanya,”Wahai Rasulullah, jika aku mendapatkan kesulitan di tempat selanjutnya, dimana aku akan menemuimu?” Rasulullah Saw menjawab, ”Aku berada di telaga Haudh. Aku akan mendahuluimu datang di Haudh. Siapa yang mendatanginya akan minum darinya dan siapa yang meneguknya ia tak akan haus selamanya. Diantara mereka ada sekelompok orang yang aku kenali namun ada juga yang dihalau ketika mereka mendatanginya”.

Menurut beberapa pendapat, telaga Haudh adalah sambungan dari telaga Al Kautsar yang  ada di dalam surga.  Al Kautsar  adalah telaga yang disiapkan oleh Allah Swt untuk Rasulullah Saw. Beliau diperlihatkan dalam peristiwa di malam Mi’raj. Telaga yang indah itu dikelilingi oleh kubah-kubah mutiara. Air telaga itu menebar wangi yang lebih harum dari kesturi, lebih manis dari madu, lebih lembut dari susu dan lebih sejuk dari salju. Disekitarnya bertebaran cangkir-cangkir kemilau sejumlah bintang gemintang yang berada di langit. Bila cangkirnya sedemikian banyak, tentu tak terbayangkan betapa luas telaga Al Kautsar. Demikianlah Allah Swt menyiapkan sebuah keindahan surga yang belum pernah dilihat oleh mata, didengar telinga dan terlintas dalam hati dan pikiran  manusia.

Kekasih Allah

Rasulullah Saw adalah kekasih Allah Swt, Habibullah.  Makhluk yang paling dicintai Allah Swt. Tentu kitapun wajib mencintai apa yang dicintai-Nya. Dalam peristiwa Isra’ mi’raj dimana turun perintah salat, demi kita umatnya Beliau memohon keringanan kepada Allah Swt. Dari salat 50 kali sehari yang diperintahkan sampai menjadi 5 kali sehari. Demikianlah,  betapa besar kecintaan dan belas kasih Beliau kepada kita umatnya.

Lalu bagaimana dengan kita? Sudahkah kita membalas cintanya dan merindui Beliau? Berharap diakui sebagai umatnya. Mendapatkan syafaatnya dan tidak dihalau ketika mendekati telaganya. Merindukan dan bercita-cita berjumpa dengan Beliau serta mendambakan diberi seteguk air dari telaga Al Kautsar yang dijaganya. Melalui membaca dan mempelajari sirah Rasulullah diharapkan tumbuh kecintaan dan kerinduan kita pada Beliau. Tidak saja sebatas ucapan, tetapi muncul dari relung hati yang paling dalam. Dan  dibuktikan dengan meneladani sifatnya dalam perilaku keseharian kita. Berkaca pada perjalanan hidup Beliau dan hanya berharap pada keridhoan Allah SWT semata.

Mengidolakan Rasulullah

Hari ini kita berada dalam era dimana peristiwa apapun yang terjadi, di belahan dunia  manapun itu, dapat kita ketahui dalam hitungan detik. Kita juga dapat menyaksikan sepak terjang seorang tokoh, sosok atau figur dari berbagai kalangan yang mungkin kita puja atau kita idolakan hanya dengan menyentuh gadget yang ada dalam genggaman. Sehingga tidak mengherankan jika hari ini kita melihat betapa diantara kita terutama dari kalangan remaja atau para “anak baru gede” yang mencintai dan memuja idolanya di luar batas akal sehat.

Ketika kita mengidolakan seseorang maka kita akan  menggilai dan meniru  semua yang ada pada sosok tersebut. Mulai dari tampilan luarnya sampai gaya hidupnya. Padahal sosok yang kita jadikan trendsetter tersebut bisa jadi memberi contoh buruk dan tidak memberi manfaat bagi kita. Dan bila mereka melakukan sesuatu yang tidak patut, kita akan sangat kecewa atau bahkan sebaliknya membelanya mati-matian.

Sementara itu  Allah  Swt dan Rasul-Nya tidak pernah mengecewakan kita. Bahkan   Rasulullah Saw dihadirkan Allah Swt sebagai nikmat kepada kita. Dalam surat At-Taubah  ayat 128, Allah SWT berfirman, ”Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin.”(Qs At Taubah; 128).

Subhanallah, Maha Suci Allah Swt yang telah menciptakan makhluk yang begitu mulia dengan keindahan akhlaknya. Maka sudah selayaknyalah bila keimanan kita mewajibkan untuk lebih mengutamakan kecintaan kepada Beliau daripada apapun. Dalam hal ini para sahabat  telah menunjukkan kecintaan kepada Beliau dengan merelakan   harta dan nyawanya demi melindungi diri Beliau.

Dan kini cara kita mencintai Rasulullah Saw yang paling utama adalah dengan mentaati Beliau. Allah Ta’ala berfirman  dalam surat An-Nisa ayat 80 ”Barang siapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barang siapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (QS. An-Nisa’; 80).

Cara selanjutnya adalah kita perbanyak bacaan shalawat dan salam kepada Beliau. Karena sesungguhnya bershalawat kepada Rasulullah Saw mengandung keberkahan, doa, pengagungan, dan pemuliaan. Manisnya iman adalah ketika kita memiliki getar-getar cinta dan kerinduan pada Allah Swt dan pada kekasih-Nya, Rasulullah Saw.

Semoga usaha kita belajar mencintai Beliau  mampu menghadirkan rasa yang indah itu. Sehingga kita dapat belajar menjadi pribadi yang taat dan istiqomah di tengah kepungan dan gempuran  gaya hidup hedonis yang tersaji di ruang-ruang publik. Harapan selanjutnya adalah semoga calon pemegang kekuasaan dan para wakil rakyat negeri ini di masa depan adalah para pecinta sejati Rasulullah.