BANJARMASIN – Inflasi di Banjarmasin naik lagi. Dari 4,74 persen kini jadi 4,96 persen. Pemicu terbesar kenaikan inflasi ini yakni ikan haruan alias ikan gabus.

Kepala Bidang Perikanan DKP3 Banjarmasin Hidayatul Fikri, mengungkapkan bahwa tingginya peminat atau konsumen ikan haruan di Kalimantan Selatan memang tinggi luar biasa.

“Dagingnya enak, bagus untuk penyembuhan luka, memperlancar ASI. Jadi permintaannya sangat tinggi,” kata Fikri, belum lama tadi.

Masalahnya, haruan susah dibudidaya. Panennya lama karena sifat ikan haruan adalah karnivora dan kanibal. Stok liar menipis, harga pun melambung.

Untuk menahan harga, DKP3 berencana tebar bibit haruan di sungai-sungai dan lewat kelompok budidaya binaan. Anggarannya masuk APBD 2027 triwulan II, dan penebarannya menunggu cuaca bagus.

Tapi, hingga kini ada tantangan lain. Yakni masih ada pedagang yang jual anakan haruan di pasar tradisional. Padahal itu dilarang Perda Kalsel No. 24 Tahun 2008.

“Setiap tahun masih ada temuan. Tapi ini soal mata pencaharian, jadi kami persuasif dulu,” ujar Fikri.

DKP3 juga akan gandeng Polairud untuk edukasi dan mulai 2027 akan pasang papan larangan memancing anakan di titik rawan seperti Pulau Bromo dan Sungai Andai, perbatasan dengan Kabupaten Banjar.

“Banyak nelayan luar yang beroperasi tengah malam di wilayah perbatasan,” ungkapnya.

Ditambahkannya, selain haruan, ikan nila juga ikut menyumbang inflasi di Kota Seribu Sungai. via