AMUNTAI- Di tengah ancaman kemarau panjang akibat fenomena El Niño yang berpotensi menekan produksi padi secara nasional. Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) justru mencatatkan anomali positif.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Hulu Sungai Utara, produksi padi HSU pada 2026 meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, menjadi bukti bahwa tantangan di sektor pertanian dapat diubah menjadi peluang melalui kerja keras dan dukungan yang berkelanjutan.

Data produksi padi HSU menunjukkan tren peningkatan yang menggembirakan. Pada 2022, produksi padi tercatat sebesar 25.623 ton gabah kering giling (GKG), kemudian melonjak menjadi 80.975 ton pada 2023. Meski sempat turun menjadi 79.292 ton pada 2024, produksi kembali meningkat menjadi 84.857 ton pada 2025 dan mencapai 88.790 ton GKG pada 2026.

Artinya, produksi padi HSU pada 2026 meningkat 3.933 ton GKG atau sekitar 4,63 persen dibandingkan tahun 2025. Capaian ini menjadi kabar baik bagi pembangunan pertanian daerah, terlebih di tengah berbagai tantangan yang dihadapi petani, mulai dari kemarau panjang hingga serangan hama, termasuk tikus dan gangguan organisme pengganggu tanaman lainnya.

Keberhasilan tersebut memperlihatkan bahwa sektor pertanian HSU memiliki daya tahan dan potensi besar untuk terus berkembang. Ketika perubahan iklim menjadi tantangan bagi produksi pangan, para petani HSU tetap berupaya mengolah lahan, menanam, dan memanen hasil pertanian di berbagai kecamatan.

Capaian ini tidak terlepas dari perhatian dan dukungan Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Utara di bawah kepemimpinan Bupati H. Sahrujani bersama Wakil Bupati Hero Setiawan. Dukungan terhadap sektor pertanian menjadi bagian penting dari upaya memperkuat ketahanan pangan, menjaga produktivitas petani, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang menggantungkan hidup pada sektor pertanian.

Koordinasi yang baik antara pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi, pemerintah pusat, serta kalangan akademisi juga menjadi faktor penting dalam mendorong kemajuan pertanian. Sinergi tersebut dibutuhkan untuk memperkuat pendampingan kepada petani, meningkatkan produktivitas lahan, dan menghadirkan solusi terhadap berbagai kendala yang muncul di lapangan.

Di kabupaten HSU, pertanian bukan sekadar sektor ekonomi, melainkan penopang kehidupan masyarakat. Karena itu, keberhasilan produksi padi di tengah tekanan iklim menjadi modal penting untuk memperkuat optimisme bahwa daerah ini mampu berkontribusi dalam menjaga ketersediaan pangan. (suf/mb03)