RANTAU-Kemarau dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan, mulai menjadi ancaman bagi ketersediaan sejumlah produk peternakan, terutama daging sapi dan telur ayam ras menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026.

Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Kabupaten Tapin Muhammad Erwin menyebutkan, daging sapi menjadi komoditas yang paling berpotensi mengalami kekurangan pasokan akibat berkurangnya ketersediaan hijauan pakan ternak selama musim kemarau dan karhutla.

“Kondisi kemarau dan karhutla turut memengaruhi ketersediaan hijauan pakan serta bobot badan sapi,” ujarnya saat diwawancarai via Telpon di Rantau, Kabupaten Tapin.

Selain sapi, ucap Erwin, produksi telur ayam ras turut menghadapi tekanan akibat stres panas pada unggas selama musim kemarau. Dampaknya dilaporkan menyebabkan penurunan produksi telur di sejumlah wilayah Tapin.

Ia menjelaskan, tekanan produksi tersebut berpotensi semakin terasa karena permintaan produk peternakan diperkirakan meningkat 15 hingga 30 persen menjelang Nataru, ditambah kebutuhan masyarakat pada kegiatan Haul Guru Sekumpul pertengahan Desember.

“Untuk ternak sapi lebih terkendali karena peternak bisa mencari pakan alternatif dan difermentasi. Sedangkan sektor unggas lebih terasa karena ada kenaikan harga pakan,” katanya.

Menghadapi kondisi tersebut, kata dia, Dinas Pertanian Tapin melakukan pendataan dan pemantauan stok ternak serta pembinaan dan pendampingan kepada peternak guna menjaga keberlangsungan produksi.

“Kami juga berkoordinasi dengan Dinas Perdagangan dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) guna menjaga ketersediaan produk peternakan, terutama daging ayam dan telur, melalui kegiatan pasar murah di sejumlah kecamatan,” jelasnya.{{an/mb03]}