Anggota DPRD Kota Banjarmasin Noorlatifah menyerap aspiras masyarakat Kebun Bunga yang mengelukan soal langganan banjir serta bansos.(foto:mb/ist)

BANJARMASIN – 45 Anggota DPRD Kota Banjarmasin melakukan pe­nelaan aspirasi masyarakat masa si­dang III 2026. Reses tersebut di­la­kukan selama tiga hari mulai 24 -26 Ok­tober 2026 di masing-masing dae­rah pemilihan (dapil).

Aspirasi yang paling dominan mun­cul tidak hanya soal infrastruktur ja­lan dan drainase, namun saat ini di­ha­dapkan pada krisis air bersih, su­lit­nya lapangan pekerjaan, hingga ban­tuan sosial dan pendidikan.

Pada reses di Teluk Tiram Rt 16 Banjarmasin Barat, Warga setempat me­ngeluhkan pengaliran air bersih macet.

Katanya sudah lancar, tapi sampai se­ka­rang hanya wilayah kami yang ma­cet air bersih ini,” kata Abul, dalam res­es Ketua Komisi IV DPRD Kota Ban­jarmasin, Neli Listriani, Minggu (25/10/2026).

Bukan hanya kecil alirannya, air ya­ng keluar pun bermasalah. Air ber­minyak, berlemak, dan tidak bisa dikon­sumsi. Bahkan dalam seminggu war­ga masih antri dengan jejeran tem­pat air karena tidak mendapatkan tan­don umum untuk warganya.

Kami sudah lapor ke PAM Ban­dar­masih. Kami minta dicek dan minta tan­don air. Harapannya hari ini juga di­kirim, karena kami sudah lama me­rasakan air buruk ini,” keluhnya.

Sementara, Neli Listriani tak me­nampik. Politisi Gerindra itu me­ng­akui, Teluk Tiram memang jadi wi­la­yah yang paling kecil dapat pasokan air. Penyebabnya klasik, pipa yang mengalirkan air ke sana ukurannya ke­cil, tidak sebanding dengan kebutuhan war­ga.“Namun, lanjutnya, ia juga men­yampaikan rencana PAM Ban­dar­ma­sih yang akan mengganti pipa kecil itu dengan pipa berdiameter lebih besar da­ri tower di pertigaan Jalan Jafri Zam-Zam – Sutoyo S.“

Insya Allah akhir Desember di­gan­ti pipa besar. Mudah-mudahan 2027 air di Teluk Tiram mengalir lebih de­ras dari tahun-tahun sebelumnya,” ka­ta Neli.

Sambil menunggu pipa besar itu, solusi darurat disiapkan. Tandon air akan segera dikirim ke RT 16. “Menu­rutnya, partai Gerindra, juga akan ikut mengerahkan armada air bersih untuk warga yang terdampak. Tapi persoalan Teluk Tiram bu­kan cuma soal air bersih. Saat kemarau me­reka kekeringan, saat hujan mereka ke­banjiran.

Wilayah yang tidak memiliki drai­nase itu selalu jadi langganan banjir rob. Air pasang sedikit, jalanan la­ng­sung calap. Anak-anak harus berjalan de­ngan celana terlipat untuk berangkat se­kolah.“Itulah mengapa di ujung re­ses, warga menitip satu lagi harapan: dr­ainase.

Calapnya cukup mengganggu ak­tivitas warga. Mereka ingin ada drai­nase agar genangan cepat surut,” tutup Neli. “Sementara, reses warga ke­lu­rah­an Kebun Bunga Banjarmasin Ti­mur mengeluhkan tidak mendapatkan ban­tuan sosial (bansos) lagi karena ter­jadinya pendataan baru sehingga ma­suk pada desil 6, 7 sampai 9. “Keluhan itu mencuat saat reses wakil rakyat Noorlatifah, Minggu (25/10/2026) “Warga mempertanyakan alasan ban­tuan pemerintah terhenti, padahal me­reka merasa masih membutuhkan du­kungan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.“Noorlatifah menjelaskan, beberapa kasus terjadinya pem­be­r­hen­tian bansos ada keterbaitan dengan pe­ru­bahan kategori tingkat kesejahteraan ke­luarga (desil) “Ia juga mengharapkan per­hatian dari instansi terkait untuk melakukan pemeriksaan data agar status pe­nerima bantuan sesuai dengan kondisi so­sial ekonomi keluarga yang se­be­narnya.

Ia juga menghimbau kepada war­ganya agar berhati-hati dalam me­min­jamkan NIK dari indentitas KTP. Se­bab, terdapat beberapa kasus dimana pen­yalahgunaan KTP untuk per­ma­in­an judi online (judol), hingga pin­jam­an online (pinjol)“Lala men­g­a­ta­kan, persoalan judi online juga perlu men­jadi perhatian karena dampaknya ti­dak hanya dirasakan oleh pelaku, te­tapi bisa merembet ke seluruh anggota keluarga.

Jadi, tidak hanya membuat surat pernyataan, tetapi perilakunya juga harus berubah,” ujarnya.

Menurutnya, keluarga memiliki peran penting dalam mencegah dan mem­bantu anggota keluarga yang ter­jerat judi online agar meninggalkan ke­biasaan tersebut. Pendekatan me­lalui nasihat, pendampingan, dan pem­binaan dinilai lebih baik daripada me­ngucilkan mereka.“Selain itu, edu­kasi mengenai bahaya judi online per­lu diperkuat sejak dini, termasuk me­lalui lingkungan sekolah. Materi pen­cegahan dapat disisipkan dalam mata pel­ajaran yang relevan maupun ke­giatan keagamaan. via