BANJARMASIN – Reses anggota Komisi III DPRD Kota Banjarmasin Rahman Nanang Riduan, di Rantauan Darat RT 20, Kelurahan Pekauman, Banjarmasin Selatan, Minggu (25/10) kemarin, tidak diisi keluhan soal jalan berlubang saja. Ada keluhan yang lebih mendesak yakni soal tersedianya pekerjaan.

“Sulit cari kerja,” begitu keluh salah seorang warga, Nasrudin.

Bagi warga di bantaran sungai itu, mencari kerja sekarang jauh lebih sulit dari dulu. Harga kebutuhan naik, tapi penghasilan tidak ada. Tidak bekerja, berarti tidak makan.

Warga meminta yang agar pemerintah kota mendirikan Balai Latihan Kerja di tingkat kecamatan atau kelurahan. Dengan begitu, memberikan kesempatan pada mereka mengikuti pelatihan di BLK, agar bisa menciptakan lapangan kerja secara mandiri.

“Kami harap ada pelatihan di BLK atau keterampilan yang bisa menjadi ladang usaha agar bisa bertahan hidup,” katanya

Usulan itu masuk akal. Selama ini pelatihan memang ada, digelar oleh Diskopumker dan Dinas Sosial. Ada pelatihan menjahit, potong rambut, bikin kue, sampai bengkel. Tapi masalahnya, tidak merata dan tidak berkelanjutan.

Anggota Komisi III DPRD Kota Banjarmasin, Rahman Nanang Riduan, mengakui hal itu. Ia bahkan jujur menyebut program pelatihannya sepi peminat. “Setelah kita gelar pelatihan, ternyata banyak yang tidak mengikuti. Kebanyakan yang ikut sudah berumur, yang muda-muda malah jarang,” ungkap politisi PKB itu.

Menurutnya, informasi dibukanya BLK tidak sampai. Yang tahu pelatihan itu-itu saja orangnya. Anak muda yang butuh kerja justru tidak tahu ada pelatihan.”Ini yang perlu dievaluasi,” aku Rahman.

Desakan warga soal BLK ini menjadi catatan penting. BLK di tingkat kecamatan atau kelurahan dianggap lebih efektif daripada pelatihan keliling. Warga bisa datang kapan saja, belajar keterampilan yang benar-benar dibutuhkan pasar, dari las, servis HP, barbershop, hingga tata boga.

Jika ada BLK, warga tidak perlu menunggu job fair yang belum pasti ada atau mereka mendapatkan pekerjaan. Mereka juga ingin menciptakan lapangan kerja sendiri.

“Jangan sampai warga kami hanya jadi penonton di kotanya sendiri. Mereka butuh keahlian. Dan keahlian itu butuh wadah, yaitu BLK,” kata Nanang menanggapi aspirasi tersebut. via