Oleh: Zahwa Azizah (Aktivis Muslimah)
Di tengah kota yang sibuk, kampus yang penuh aktivitas, dan dunia digital yang tak pernah berhenti, mengapa banyak orang yang justru merasa semakin kesepian?. Mereka dikelilingi keramaian, namun hatinya kosong. Fenomena ini bukan sekadar masalah pribadi, melainkan gambaran nyata dari generasi yang tumbuh dalam sistem sekular-kapitalistik. Generasi yang kehilangan pegangan hidup, terjebak dalam tuntutan sukses semu, dan akhirnya rapuh menghadapi tekanan. Kesepian di tengah keramaian adalah paradoks yang menyakitkan, ramai di luar, tapi sepi di dalam.
Mengutip dari Kompas.Id (10/09/2026), Pada 10 September 2026, seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya berinisial RR (19) diduga melakukan percobaan bunuh diri dengan melompat dari lantai 6 salah satu gedung kampus. Korban selamat dan dibawa ke Rumah Sakit Saiful Anwar Malang untuk mendapatkan perawatan intensif. Polisi melakukan olah tempat kejadian, memeriksa saksi serta rekaman CCTV, sementara motif kejadian masih dalam penyelidikan karena kondisi korban belum memungkinkan untuk dimintai keterangan.
Mengutip dari Kompas.Id (10/09/2026), Pada 6 September 2026, seorang pria berinisial FS (31) ditemukan meninggal dunia di kawasan Plaza Utara Pintu 10 Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta. Sebelumnya, FS diketahui mengunggah sejumlah pesan perpisahan dan tulisan mengenai kisah hidupnya di media sosial. Salah seorang temannya juga menerima sinyal SOS yang menunjukkan lokasi terakhir FS dan kemudian berusaha mencarinya dengan meminta bantuan petugas keamanan GBK. Polisi telah melakukan olah tempat kejadian perkara dan pemeriksaan awal, sementara pengelola GBK turut menyerahkan rekaman CCTV untuk membantu proses penyelidikan.
Generasi sekarang hidup di kota yang ramai, kampus yang penuh aktivitas, dan dunia digital yang selalu sibuk. Tapi ironisnya, banyak yang justru merasa kesepian. Tragedi yang menimpa beberapa anak bangsa belakangan ini menunjukkan betapa rapuhnya mental masyarakat modern. Ini bukan sekadar masalah pribadi, melainkan cermin dari sistem yang membentuk mereka, yakni sekularisme dan kapitalisme. Sekularisme membuat iman tersingkir dari kehidupan sehari-hari. Padahal iman bisa jadi benteng saat menghadapi tekanan. Tanpa pegangan spiritual, beban hidup terasa lebih berat, dan keputusasaan mudah muncul. Ketika masalah datang bertubi-tubi, jalan pintas yang tragis sering dianggap satu-satunya pilihan.
Kapitalisme menambah luka dengan menciptakan masyarakat yang individualistik. Sistem ini menanamkan pikiran bahwa setiap orang harus berjuang sendiri. Akibatnya, ikatan sosial melemah serta hilangnya rasa kebersamaan. Meski seseorang berada di tengah keramaian kampus atau stadion, ia tetap merasa sendirian. Kesepian pun merajalela, bahkan di antara mereka yang secara materi terlihat cukup. Inilah paradoks kapitalisme, dunia semakin ramai, tapi jiwa semakin sunyi. Budaya yang hanya menekankan “positif” dan mengejar sukses pribadi juga memperparah keadaan. Pendidikan sekuler menilai keberhasilan dari nilai akademik, karier, dan materi. Generasi muda dipaksa mengejar standar sukses yang sempit, sementara sisi emosional dan spiritual diabaikan. Ketika standar itu gagal dicapai, muncul rasa tidak berharga. Kesepian dan keputusasaan pun semakin dalam.
Tragedi yang terjadi belakangan ini membuka mata kita bahwa generasi sekular hidup di tengah keramaian, tapi merasa sendirian. Mereka dikepung tuntutan sukses, tapi kehilangan makna hidup. Mereka dibentuk oleh sistem sekular-kapitalistik, tapi rapuh menghadapi tekanan. Kesepian di tengah keramaian bukan sekadar masalah psikologis, melainkan buah dari sistem yang salah arah. Selama sekularisme dan kapitalisme terus menjadi dasar negara, generasi akan terus kehilangan pegangan, masyarakat makin individualistik, dan tragedi serupa akan berulang. Kesepian ini adalah potret kelam dari sistem yang gagal memberi makna dan solidaritas.
Islam membangun akidah sebagai benteng jiwa sejak dini. Seorang Muslim diajarkan bahwa setiap kesulitan adalah ujian dari Allah, dan bunuh diri adalah perbuatan haram. Keyakinan ini membuat seorang Muslim lebih kuat menghadapi tekanan, karena ia tahu ada tujuan dan makna di balik setiap ujian. Dengan akidah, jiwa tidak mudah goyah, bahkan ketika beban hidup terasa berat.
Selain itu, Islam menumbuhkan ikatan sosial yang kokoh. Keluarga dan masyarakat dipersatukan oleh akidah, sehingga tidak ada yang dibiarkan menanggung beban sendirian. Solidaritas bukan sekadar kata-kata, melainkan kewajiban. Ketika ada yang lemah, masyarakat hadir untuk menguatkan. Dengan ikatan ini, kesepian yang sering muncul dalam sistem kapitalistik bisa dicegah, karena setiap orang merasa menjadi bagian dari komunitas yang peduli.
Negara Khilafah menjadi pilar yang menerapkan sistem Islam secara menyeluruh. Pendidikan berbasis akidah membentuk generasi yang tidak hanya pintar secara akademik, tetapi juga kuat secara mental dan spiritual. Di dalamnya juga ada sistem ekonomi Islam yang mampu menjamin kesejahteraan, sehingga rakyat tidak dibiarkan berjuang sendiri menghadapi tekanan hidup. Dari sini lahirlah individu yang kokoh dan masyarakat yang saling peduli, bukan generasi rapuh yang mudah putus asa.
Dengan demikian, jelas terlihat perbedaan mendasar, sistem sekular-kapitalistik melahirkan generasi yang kesepian di tengah keramaian, sementara sistem Islam melahirkan generasi yang kuat, beriman, dan memiliki ikatan sosial yang erat. Kesepian bukanlah takdir, melainkan akibat dari sistem yang salah. Solusinya adalah kembali kepada sistem Islam yang diterapkan secara kaffah. Lalu, apakah kita akan terus membiarkan generasi tenggelam dalam kesepian yang lahir dari sistem sekular-kapitalistik, atau berani kembali pada sistem yang memberi makna sejati serta solidaritas yang nyata?
