Andaikan umat Islam ingin kembali menjadi masyarakat yang kuat dalam ilmu pengetahuan, salah satu pintu yang harus dibuka adalah pintu akal. Akal tidak semestinya ditakuti atau diposisikan sebagai lawan iman. Ia perlu diberi ruang untuk bertanya, menimbang, menguji, membandingkan, dan mencari penjelasan atas berbagai persoalan kehidupan.
Persoalannya, dalam kehidupan beragama masih terdapat kecenderungan menerima sesuatu hanya karena disampaikan oleh orang yang dianggap memiliki otoritas. Pertanyaan kadang dipandang sebagai ketidaktaatan, sedangkan perbedaan pendapat dianggap sebagai ancaman. Padahal, “pertanyaan” merupakan pintu pengetahuan.
Alquran berkali-kali mengajak manusia menggunakan akalnya. Ungkapan afala ta’qilun—tidakkah kamu menggunakan akal—dan afala tatafakkarun—tidakkah kamu berpikir—menunjukkan bahwa manusia tidak diminta sekadar menerima, tetapi memahami dan mengambil pelajaran.
Membuka akal, tentu saja, bukan berarti setiap orang bebas menafsirkan segala sesuatu tanpa ilmu. Membaca dan merenungkan Alquran merupakan hak setiap Muslim, tetapi penafsiran yang mendalam tetap membutuhkan perangkat keilmuan seperti bahasa Arab, ilmu mantik, balaghoh, tafsir, hadis, sejarah, dan juga memahami konteks turunya ayat. Kebebasan berpikir tidak sama dengan kebebasan menyimpulkan tanpa dasar.
Sejarah Peradaban
Sejarah peradaban Islam menunjukkan bahwa kemajuan ilmu tidak lahir dari masyarakat yang takut bertanya. Al-Khawarizmi mengembangkan matematika, Ibn al-Haytham melakukan penelitian tentang optika, Ibn Sina mengembangkan ilmu kedokteran dan filsafat, sementara Al-Biruni meneliti astronomi, geografi, dan kebudayaan. Mereka menunjukkan bahwa pencarian ilmu dapat berjalan bersama keyakinan. Pertanyaan bukan ancaman bagi agama. Pertanyaan justru menjadi bahan bakar pengetahuan.
Ironisnya, tantangan umat hari ini bukan lagi terutama kekurangan informasi. Justru kita hidup dalam banjir informasi. Data APJII menunjukkan bahwa pada 2026 pengguna internet Indonesia mencapai 235,26 juta orang dengan penetrasi 81,72 persen. Informasi agama, kesehatan, politik, ekonomi, dan pendidikan hadir hampir tanpa batas melalui media sosial.
Namun, akses informasi tidak otomatis menghasilkan masyarakat yang kritis. Potongan ceramah dapat viral tanpa konteks. Kutipan ayat dapat beredar tanpa penjelasan. Hadis dapat dibagikan tanpa diketahui sumbernya. Pendapat seseorang dapat dianggap benar hanya karena memiliki banyak pengikut. Bahkan kini kecerdasan buatan mampu memberikan jawaban dalam hitungan detik.
Di sinilah persoalan akal memasuki babak baru. Dulu manusia mungkin terlalu bergantung pada otoritas tertentu. Sekarang kita juga berhadapan dengan otoritas algoritma. Apa yang sering kita lihat di layar dapat terasa benar hanya karena terus muncul berulang-ulang. Padahal, sesuatu yang viral tidak otomatis benar.
Maka, membuka akal pada zaman sekarang berarti membangun kemampuan untuk bertanya: dari mana sumbernya, apa buktinya, bagaimana konteksnya, dan apakah terdapat penjelasan lain? Jangan sampai teknologi semakin cerdas, tetapi manusia semakin malas berpikir.
Kenal Batas
Akal memiliki kemampuan besar, tetapi bukan berarti mampu menjelaskan seluruh realitas. Persoalan batas akal telah lama dibahas para filsuf. Immanuel Kant, melalui Critique of Pure Reason, menunjukkan adanya batas kemampuan rasio manusia dalam menjangkau realitas tertentu.
Dalam tradisi Islam, Al-Ghazali memberikan pelajaran yang tidak kalah penting. Ia sering dianggap sebagai tokoh yang menolak filsafat. Gambaran tersebut terlalu sederhana. Al-Ghazali mempelajari filsafat secara serius dan menggunakan logika dalam argumentasinya, tetapi mengkritik sejumlah kesimpulan filosofis yang menurutnya melampaui kemampuan pembuktian rasional.
Artinya, Al-Ghazali tidak mengajak manusia membuang akal. Ia mengingatkan agar akal mengetahui batas kemampuannya. Hal ini penting karena ada dua ekstrem yang perlu dihindari. Akal yang ditutup dapat melahirkan fanatisme. Sebaliknya, akal yang menganggap dirinya mampu menjelaskan segala sesuatu dapat melahirkan kesombongan intelektual.
Perdebatan tentang positivisme logis yang berkembang di Vienna Circle pada awal abad ke-20 juga memberikan pelajaran. Gerakan ini memberikan perhatian besar terhadap logika, bahasa, dan pengalaman empiris. Namun, prinsip verifikasi yang menjadi salah satu cirinya kemudian menghadapi berbagai kritik filosofis. Perkembangan filsafat ilmu menunjukkan bahwa rasionalitas pun harus mampu mengkritik dirinya sendiri.
Karl Popper, misalnya, menekankan pentingnya falsifikasi. Sebuah teori ilmiah harus terbuka untuk diuji dan bahkan berpotensi dinyatakan keliru. Ilmu berkembang bukan karena manusia tidak pernah salah, tetapi karena manusia bersedia menguji dan memperbaiki kesalahannya. Sikap tersebut seharusnya menjadi bagian dari budaya intelektual umat.
Dalam konteks ini, akal juga tidak tepat dipahami semata-mata sebagai “energi otak”. Dalam ilmu saraf, otak merupakan organ biologis yang sangat kompleks. Sementara dalam tradisi Islam, ‘aql memiliki pengertian yang lebih luas, berkaitan dengan kemampuan memahami, mempertimbangkan, menahan diri, dan memilih.
Karena itu, kecerdasan tidak selalu sama dengan kebijaksanaan. Seseorang dapat memiliki pendidikan tinggi tetapi mudah mempercayai informasi palsu. Seseorang dapat menguasai teknologi tetapi menggunakannya untuk merugikan orang lain. Seseorang dapat pandai berargumentasi tetapi tidak mampu mengendalikan kesombongan.
Maka di sinilah agama memiliki peran penting. Agama tidak harus menjadi penghambat ilmu pengetahuan. Sebaliknya, nilai agama dapat menjadi kompas moral ketika ilmu dan teknologi berkembang sangat cepat.
Kebijaksanaan
Persoalan umat hari ini bukan hanya bagaimana memperoleh pengetahuan, tetapi bagaimana mengubah pengetahuan menjadi kebijaksanaan. Hal itu juga berlaku dalam memahami Alquran. Setiap Muslim perlu memiliki kedekatan dengan Alquran dan keberanian untuk membaca serta merenungkannya. Namun, kedalaman pemahaman membutuhkan ilmu. Menggunakan akal bukan berarti mengabaikan disiplin keilmuan.
Akal yang merdeka berbeda dengan akal yang liar. Akal yang merdeka bersedia mendengar pendapat berbeda, terbuka terhadap kritik, mencari bukti, dan mau mengubah kesimpulan ketika menemukan alasan yang lebih kuat. Sebaliknya, akal yang liar hanya ingin menang dalam perdebatan.
Padahal, tujuan berpikir bukan memenangkan perdebatan. Tujuan berpikir adalah mendekati kebenaran. Hubungan akal dan iman juga dapat direnungkan dalam ibadah. Ketika seseorang salat, tubuhnya menghadap kepada Allah, tetapi ada juga saat salat pikirannya mengembara ke berbagai persoalan. Sehingga Alquran mengingatkan tentang orang-orang yang lalai dalam salatnya melalui QS Al-Ma’un ayat 4–5.
Pesan tersebut menunjukkan bahwa ibadah bukan hanya persoalan gerakan tubuh, tetapi juga kesadaran. Mengapa kita salat? Mengapa kita berpuasa? Mengapa kita harus jujur ketika tidak ada orang yang melihat?
Pertanyaan semacam itu membuat agama tidak berhenti sebagai rutinitas. Sejarah juga menunjukkan bahwa pengetahuan dapat menjadi kekuatan. Kajian Jajat Burhanudin mengenai Snouck Hurgronje memperlihatkan bagaimana pengetahuan tentang Islam dan masyarakat Muslim berkaitan dengan kebijakan kolonial Belanda. Pelajarannya bukan agar kita mencurigai ilmu, tetapi agar kita memahami bahwa siapa yang menguasai pengetahuan memiliki kekuatan untuk memengaruhi masyarakat.
Hari ini bentuk kekuasaan berubah. Ia dapat hadir melalui data, teknologi, algoritma, dan informasi. Karena itu, umat tidak cukup menjadi konsumen pengetahuan. Kita perlu menjadi produsen pengetahuan: melahirkan ilmuwan, peneliti, ulama, pendidik, teknolog, dan intelektual yang mampu membaca zaman sekaligus memiliki tanggung jawab moral.
Jika ingin membangun kembali kejayaan intelektual umat, jangan kunci pintu akal. Biarkan manusia bertanya, membaca, berdiskusi, meneliti, dan menguji pendapat. Tetapi setelah pintu akal dibuka, arah tetap diperlukan. Sebab akal tanpa ilmu mudah tersesat. Ilmu tanpa etika dapat disalahgunakan. Kebebasan tanpa tanggung jawab dapat berubah menjadi kesewenang-wenangan.
Maka, mensyukuri akal bukan dengan membungkamnya, melainkan dengan menggunakannya sebaik-baiknya: berpikir untuk menemukan ilmu, menggunakan ilmu untuk menghadirkan kemaslahatan, dan menjadikan pengetahuan sebagai jalan untuk semakin mengenal keterbatasan diri di hadapan kebesaran Allah. Semoga.
