Seekor bebek dapat berjalan di atas tanah yang lunak dengan lebih mudah dibandingkan seekor ayam. Perbedaan sederhana itu dapat diterangkan melalui konsep tekanan dalam fisika. Tekanan merupakan perbandingan antara gaya yang bekerja dan luas bidang tekan. Kaki bebek yang relatif lebih lebar membuat gaya tubuhnya tersebar pada permukaan yang lebih luas sehingga tekanan pada tanah menjadi lebih kecil.

Fenomena sederhana itu sesungguhnya membuka pintu kepada pertanyaan yang jauh lebih besar: apa yang dapat kita pelajari dari alam untuk memahami kehidupan manusia?

Jika berat bebek dan ayam dianalogikan sebagai beban kehidupan, tekanan dapat kita ibaratkan sebagai stres yang muncul ketika seseorang berhadapan dengan berbagai persoalan. Namun, berbeda dengan luas telapak kaki yang merupakan ukuran fisik, manusia memiliki “keluasan” lain yang bersifat batiniah. Keluasan itu dapat dipahami melalui kesabaran dan rasa syukur. Semakin luas ruang batin seseorang dalam menerima kenyataan, semakin besar pula kemampuannya menghadapi tekanan kehidupan.

Di titik inilah ilmu pengetahuan dan agama dapat bertemu, bukan dengan mencampuradukkan wilayah keduanya, melainkan dengan melihat bahwa alam dapat menjadi sumber pembelajaran bagi manusia. Sains menjelaskan bagaimana suatu fenomena berlangsung, sedangkan nilai agama membantu manusia mempertanyakan untuk apa pengetahuan itu digunakan. Inilah salah satu alasan mengapa posisi ilmuwan menjadi penting.

Ilmuwan bukan sekadar orang yang mengetahui banyak hal. Ia adalah manusia yang bekerja dengan cara tertentu untuk memperoleh pengetahuan yang dapat dipertanggungjawabkan. Ia mengamati, merumuskan pertanyaan, menyusun hipotesis, menguji, membandingkan bukti, menerima kritik, dan bersedia mengoreksi kesimpulan ketika bukti baru menunjukkan kekeliruan. Karakter seperti itu sesungguhnya memiliki kedekatan dengan nilai-nilai moral yang diajarkan agama.

Ilmu dan Kejujuran

Dalam nilai nilai Islam, manusia diajak memperhatikan tanda-tanda kebesaran Tuhan yang terdapat dalam wahyu sekaligus alam. Al-Qur’an berkali-kali mengajak manusia memperhatikan, berpikir, menimbang, dan mengambil pelajaran dari kehidupan. Alam bukan sekadar objek yang dapat dieksploitasi, melainkan juga ruang pembelajaran.

Namun, ada satu hal yang perlu diberi penekanan: tidak setiap fenomena alam harus dipaksakan menjadi pembuktian terhadap ayat tertentu. Sains memiliki metode, sementara teks agama memiliki disiplin penafsiran. Keduanya dapat berdialog tanpa harus dipaksa menjadi satu hal yang sama. Di sinilah ilmuwan diperlukan.

Seorang ilmuwan tidak cukup memiliki kecerdasan. Ia membutuhkan kejujuran intelektual. Kejujuran itu terlihat ketika ia menyampaikan data apa adanya, tidak mengubah hasil penelitian agar sesuai dengan keinginannya, tidak menyembunyikan temuan yang bertentangan dengan hipotesis, tidak melakukan plagiarisme, dan tidak mengklaim sesuatu yang belum terbukti.

Karl Popper, filsuf ilmu pengetahuan abad ke-20, menekankan bahwa pengetahuan ilmiah selalu terbuka untuk diuji dan dibantah. Teori ilmiah tidak menjadi kuat karena tidak pernah dipersoalkan, tetapi justru karena berkali-kali diuji dan tetap bertahan terhadap kritik. Sehingga, kesediaan mengatakan “saya mungkin salah” bukan kelemahan ilmuwan. Sebaliknya, itulah salah satu tanda kedewasaan ilmiah. Sikap tersebut menjadi semakin penting pada zaman ketika informasi bergerak jauh lebih cepat daripada proses verifikasi.

Hari ini seseorang dapat menghasilkan tulisan, gambar, suara, bahkan video dengan bantuan kecerdasan buatan dalam hitungan menit. Sebuah informasi yang keliru dapat beredar sebelum seorang ahli memiliki kesempatan untuk memeriksanya. Otoritas pengetahuan pun mengalami perubahan. Dulu masyarakat mencari jawaban dari buku, guru, dosen, dokter, ulama, atau ilmuwan. Kini mesin pencari, media sosial, influencer, dan chatbot kecerdasan buatan ikut menentukan apa yang dianggap benar.

Karena itu, tantangan ilmuwan sekarang bukan hanya menemukan pengetahuan baru, tetapi juga mempertahankan kewarasan publik di tengah banjir informasi. Ilmuwan harus hadir sebagai penjaga standar pembuktian.

Ketika Ilmu Bertemu Kekuasaan

Sejarah memperlihatkan bahwa ilmu pengetahuan tidak selalu berada di ruang yang steril dari kepentingan. Pengetahuan dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan manusia, tetapi dapat pula dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi, politik, bahkan kolonialisme.

Kajian Jajat Burhanudin di tahun 2012 mengenai Snouck Hurgronje, misalnya, menunjukkan bagaimana pengetahuan tentang Islam dan masyarakat pribumi pada masa kolonial berkaitan dengan kepentingan kebijakan kolonial Belanda. Artinya, pengetahuan memiliki kekuatan. Karena itu, persoalannya bukan hanya siapa yang mengetahui, tetapi juga untuk kepentingan siapa pengetahuan tersebut digunakan.

Data kesehatan dapat digunakan untuk meningkatkan pelayanan publik, tetapi juga harus dijaga agar tidak disalahgunakan. Teknologi kecerdasan buatan dapat membantu diagnosis dan pendidikan, tetapi dapat pula memperbesar bias apabila data yang digunakan tidak representatif. Penelitian mengenai pangan dapat membantu mengatasi persoalan gizi, tetapi ilmu yang sama dapat kehilangan makna sosial apabila hanya diarahkan untuk kepentingan pasar.

Karena itu, ilmuwan tidak boleh berhenti pada pertanyaan “apakah sesuatu dapat dilakukan?”. Ia juga perlu bertanya, “apakah sesuatu layak dilakukan, untuk siapa manfaatnya, siapa yang menanggung risikonya, dan nilai apa yang sedang kita pertaruhkan?” Pertanyaan semacam ini membawa kita dari wilayah ilmu menuju etika.

Di sinilah gagasan Hans Jonas tentang ethics of responsibility tahun 1984 menjadi relevan. Jonas mengingatkan bahwa kemampuan teknologi modern telah sedemikian besar sehingga tindakan manusia hari ini dapat menentukan kehidupan generasi yang belum lahir. Semakin besar kekuatan teknologi, semakin besar pula tanggung jawab moral yang menyertainya. Artinya, kemajuan ilmu tidak boleh hanya diukur dari seberapa canggih teknologi yang berhasil diciptakan, tetapi juga dari seberapa manusiawi dampak yang dihasilkannya.

Ilmuwan sebagai Pewaris Nilai Kenabian

Dalam Islam dikenal ungkapan al-’ulama waratsatul anbiya—para ulama adalah pewaris para nabi. Hadis tersebut berbicara tentang pewarisan ilmu, bukan pewarisan kekuasaan atau harta. Karena itu, ketika istilah tersebut digunakan dalam konteks ilmuwan, maknanya perlu ditempatkan secara proporsional.

Ilmuwan tentu bukan nabi. Ia tidak menerima wahyu. Ilmu yang diperolehnya juga bukan wahyu. Namun, ada nilai yang dapat dipertemukan: pencarian kebenaran, kejujuran dalam menyampaikan pengetahuan, tanggung jawab terhadap manusia, dan keberanian mempertahankan kebenaran meskipun tidak selalu menguntungkan dirinya. Dalam perspektif ini, ilmuwan dapat disebut sebagai pewaris nilai kenabian sejauh ilmu yang dimilikinya digunakan untuk kemaslahatan.

Karakter yang diperlukan bahkan tidak jauh dari sifat-sifat yang selama ini dikenal dalam keteladanan Nabi: shiddiq atau kejujuran, amanah atau dapat dipercaya, tabligh atau menyampaikan kebenaran, dan fathanah atau kecerdasan. Ilmuwan yang memanipulasi data kehilangan shiddiq. Ilmuwan yang menyalahgunakan hasil penelitian mengabaikan amanah. Ilmuwan yang sengaja menyembunyikan temuan penting demi kepentingan pribadi gagal menjalankan semangat tabligh. Sementara ilmuwan yang cerdas tetapi menggunakan kecerdasannya untuk menipu justru memperlihatkan bahwa kecerdasan tanpa moral dapat menjadi persoalan.

Karena itu, ilmuwan ideal bukan sekadar manusia yang memiliki IQ tinggi. Ia adalah manusia yang mampu mempertemukan kecerdasan, integritas, tanggung jawab, dan keberpihakan pada kemanusiaan.

Indonesia dan Masa Depan Ilmu

Pertanyaan berikutnya adalah: di mana posisi ilmuwan dalam pembangunan Indonesia? Pertanyaan ini penting karena Indonesia sedang berada dalam fase perubahan besar. Transformasi digital, kecerdasan buatan, perubahan iklim, ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, energi, demografi, hingga persaingan teknologi antarnegara membutuhkan keputusan yang berbasis pengetahuan.

Data Global Innovation Index 2025 menunjukkan Indonesia berada pada peringkat ke-55 dari 139 ekonomi dunia. Posisi ini menunjukkan adanya perkembangan, sekaligus pekerjaan rumah. Indonesia berada pada posisi yang lebih baik dalam keluaran inovasi dibandingkan masukan inovasinya, tetapi indikator sumber daya manusia dan riset masih menjadi area yang perlu diperkuat.

BRIN juga mencatat bahwa belanja riset nasional pada 2024 mencapai sekitar Rp50,27 triliun, dengan perguruan tinggi menjadi sektor penyumbang terbesar dalam pelaksanaan belanja tersebut. Angka-angka itu menunjukkan bahwa Indonesia sebenarnya tidak kekurangan aktivitas riset. Tantangannya adalah bagaimana penelitian tersebut menghasilkan perubahan yang nyata.

Di sinilah posisi ilmuwan harus diperkuat. Ilmuwan tidak semestinya hanya diletakkan sebagai pelengkap administrasi pembangunan atau sekadar penghasil angka publikasi. Mereka harus diberi ruang untuk mengembangkan pertanyaan-pertanyaan strategis bangsa. Penelitian mengenai stunting, misalnya, tidak cukup berhenti pada publikasi. Ia harus membantu memperbaiki pola intervensi gizi. Penelitian kesehatan tidak cukup menjadi laporan akademik, tetapi harus dapat memperbaiki mutu layanan. Riset teknologi tidak cukup menghasilkan prototipe, tetapi harus memiliki peluang untuk digunakan masyarakat. Sehingga, ukuran keberhasilan ilmuwan bukan hanya jumlah artikel yang terbit, tetapi juga kualitas pengetahuan yang dihasilkan, keterbukaan terhadap kritik, manfaat sosial, dan perubahan yang lahir dari pengetahuan tersebut.

Ilmuwan juga membutuhkan kebebasan akademik. Tanpa kebebasan bertanya, penelitian mudah berubah menjadi kegiatan pembenaran. Padahal ilmu pengetahuan berkembang justru karena seseorang berani mengajukan pertanyaan yang sebelumnya belum terpikirkan. Pada saat yang sama, kebebasan akademik harus berjalan bersama tanggung jawab etis. Kebebasan bukan alasan untuk memanipulasi data, menyebarkan informasi tanpa verifikasi, atau mengabaikan dampak penelitian.

Bangsa yang maju bukan bangsa yang hanya memiliki banyak orang pintar. Bangsa yang maju adalah bangsa yang mampu menciptakan ekosistem tempat orang pintar dapat berpikir bebas, bekerja jujur, diuji secara terbuka, dan menggunakan ilmunya untuk kepentingan masyarakat. Karena itu, membangun ilmuwan sebenarnya berarti membangun masa depan bangsa.

Kita membutuhkan ilmuwan yang tidak takut pada pertanyaan, tetapi juga tidak sombong terhadap jawabannya. Kita membutuhkan ilmuwan yang mampu menggunakan kecerdasan buatan tanpa kehilangan kecerdasan manusiawi. Kita membutuhkan peneliti yang produktif, tetapi tidak menjadikan publikasi sebagai tujuan tunggal. Kita membutuhkan akademisi yang mampu berdiri dekat dengan masyarakat tanpa kehilangan ketajaman ilmiahnya.

Alhasil, alam sangat luas menyediakan banyak pelajaran. Seekor bebek mengajarkan kita tentang tekanan. Cahaya mengajarkan kita tentang keteraturan hukum alam. Kehidupan manusia mengajarkan bahwa pengetahuan membutuhkan tanggung jawab. Tugas ilmuwan bukan sekadar membuka rahasia alam, tetapi memastikan bahwa rahasia yang berhasil dibuka tidak berubah menjadi alat untuk merugikan manusia.

Di tengah zaman yang dipenuhi data, kecerdasan buatan, informasi palsu, kepentingan ekonomi, dan perebutan pengaruh, posisi ilmuwan justru semakin strategis. Mereka diperlukan bukan hanya untuk menemukan apa yang belum diketahui, tetapi juga untuk mengingatkan masyarakat tentang perbedaan antara fakta dan opini, bukti dan klaim, pengetahuan dan prasangka.

Jika agama mengajarkan manusia agar jujur, amanah, cerdas, dan menyampaikan kebenaran, maka dunia ilmu memberikan ruang konkret untuk menghidupkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan. Karena itu, mencetak ilmuwan bukan sekadar mencetak orang yang pandai menulis artikel ilmiah. Kita sedang membentuk manusia yang sanggup memikul amanah pengetahuan.

Ilmuwan semacam itulah yang dibutuhkan Indonesia: bukan hanya penemu teknologi, melainkan penjaga akal sehat; bukan hanya penghasil pengetahuan, melainkan penjaga integritas; bukan hanya pekerja laboratorium, melainkan manusia yang sadar bahwa setiap pengetahuan pada akhirnya harus kembali kepada pertanyaan paling mendasar—untuk apa ilmu itu digunakan dan kepada siapa manfaatnya diberikan. Karena di sanalah ilmu menemukan martabatnya.