MARTAPURA – Desa Penggalaman Kecamatan Sungai Tabuk Kabupaten Banjar, mengalami kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Minggu (13/9) sore. Karhutla yang melanda desa itu, meluas dan mendekati permukiman hingga membuat warga khawatir, sementara Tim Gabungan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banjar berjibaku memadamkan api.

Petugas menghadapi kendala jarak pandang akibat kepulan asap, saat memasuki area kebakaran. Sebagian petugas bersiaga di belakang rumah warga dengan peralatan pemadam, untuk mengantisipasi api yang mendekati permukiman.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Banjar Wasis Nugraha mengatakan, penanganan karhutla di Desa Penggalaman dilakukan secara intensif, karena lokasinya berdekatan dengan permukiman warga.

“Penanganan di lokasi tersebut ditangani dengan inten, pasalnya berdekatan dengan permukiman,” kata Wasis.

Ia menyebutkan, selain di Penggalaman, karhutla juga terjadi di Sungai Tabuk, Keramat dan Jalan Gubernur Syarkawi, Kecamatan Gambut. Sementara itu, kebakaran di Desa Tungkaran, Kecamatan Martapura, turut mendapat dukungan dari Bumi Selamat Rescue (Buser) 690.

“Selain itu di Tungkaran Martapura yang dibekap oleh Bumi Selamat Rescue (Buser) 690, Alhamdulillah langsung bekerja untuk melakukan proses pemadaman,” ujarnya.

Wasis mengatakan, total kejadian karhutla di Kabupaten Banjar hingga Minggu tercatat sekitar 300 kejadian. Adapun total luas lahan yang telah tertangani mencapai lebih dari 2.100 hektare.

Pemadaman di Desa Penggalaman berlangsung hingga malam hari. Aiptu Bagus, salah satu petugas yang terlibat dalam penanganan menjelaskan, proses pemadaman dimulai sekitar pukul 15.30 Wita dan berakhir sekitar pukul 20.00 Wita.

Meski api berhasil ditangani, petugas tetap bersiaga di lokasi untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api.

“Kita tetap di sini menunggu apakah api akan muncul lagi,” ujar Bagus.

Ia menjelaskan, angin kencang menjadi salah satu kendala dalam proses pemadaman. Petugas juga kesulitan menjangkau titik api yang berada cukup jauh, karena keterbatasan selang.

“Selang mungkin juga harus ditambah,” ujarnya. ril/dio