Dua Kali Salaman Saat Menjenguk Almarhum di Ruang ICU
BANJARMASIN – Anggota DPRD Kalimantan Selatan (Kalsel) Rosehan Anwar mengaku sangat kehilangan atas wafatnya Gubernur Kalsel periode 2005-2010 dan 2010-2015, Rudy Ariffin pada Minggu (6/9).
Bagi Rosehan, yang menjabat Wakil Gubernur Kalsel periode 2005-2010, banyak kenangan bersama Rudy Ariffin saat berduet sebagai pemimpin daerah, mulai dari pelajaran birokrasi, detik-detik pertemuan terakhir di ruang ICU, hingga torehan pembangunan monumental di Bumi Lambung Mangkurat.
Rosehan mengatakan bahwa Rudy Ariffin merupakan sosok yang sangat memahami tata kelola pemerintahan. Pengalaman panjang Rudy Ariffin sebagai aparatur sipil negara hingga Bupati Banjar menjadi bekal yang kuat saat memimpin Kalsel.
“Pak Rudy Ariffin ini orangnya teliti. Basic-nya ilmu pemerintahan. Jadi dari segi ilmu pemerintahan, mengertilah beliau,” kata Rosehan, Minggu (6/9), seperti dikutip INTERVIEW9.ID.
Rosehan mengungkapkan bahwa dirinya banyak belajar mengenai ilmu pemerintahan dari Rudy Ariffin, terlebih karena ia memiliki latar belakang dari sektor swasta sebelum terjun ke dunia pemerintahan.
“Dengan beliau ini banyak ilmu pemerintahan yang kita dapat, karena saya ini kan basic-nya swasta. Jadi alhamdulillah dapat ilmu yang ditularkan oleh beliau. Saya sangat sedih hari ini,” ujarnya.
Lebih lanjut, Rosehan juga mengisahkan pertemuan terakhirnya dengan Rudy Ariffin. Ia sempat menjenguk almarhum di ruang ICU di RS Amanah pada Sabtu (5/9), tepat sebelum bertolak ke Jakarta. Saat itu, Rudy Ariffin masih menunjukkan respons ketika melihat kedatangannya.
“Saya ketemu beliau di ruang ICU, beliau melihat saya, senyum, kita salaman. Saya tidak bisa banyak berbicara karena beliau dilengkapi dengan alat pernapasan, beliau sesak napas,” tuturnya.
Sebelum meninggalkan rumah sakit, Rosehan kembali menjabat tangan Rudy Ariffin dan berpesan agar almarhum tidak memaksakan diri untuk berbicara karena masih mengenakan alat bantu pernapasan.
“Itulah pertemuan terakhir saya dengan beliau. Saya salaman, sebelum pulang saya salaman lagi. Saya juga melarang beliau supaya jangan berbicara karena posisinya dipasangi oksigen,” ungkapnya.
Dalam kesempatan yang sama, Rosehan turut mengenang perjalanan masa kepemimpinan mereka. Menurutnya, salah satu peninggalan monumental dari masa kepemimpinan tersebut adalah dimulainya pembangunan kawasan perkantoran Pemerintah Provinsi Kalsel di Kota Banjarbaru.
“Satu peninggalan yang harus kita catat bersama, bahwa saya bisa bersama Pak Rudy meletakkan batu pertama pembangunan perkantoran Gubernur Kalimantan Selatan di Kota Banjarbaru,” jelasnya.
Rosehan menjelaskan bahwa pemindahan pusat pemerintahan ke Banjarbaru kala itu merupakan bagian dari visi besar mereka. Konsep tersebut terinspirasi dari Malaysia yang memisahkan antara wilayah ibu kota negara dan pusat pemerintahannya.
“Kita meniru gaya Malaysia, di mana Malaysia itu ibu kotanya Kuala Lumpur, tapi pusat pemerintahannya berada di Putrajaya,” katanya.
Selain kawasan perkantoran, Rosehan menilai bahwa Rudy juga menaruh perhatian yang sangat besar terhadap percepatan pembangunan infrastruktur jalan di Kalimantan Selatan selama masa jabatannya.
Mengutip banjarmasinpost.co.id, Rosehan mengaku mengenal Rudy Arifin jauh sebelum keduanya menjadi pasangan kepala daerah. Saat itu, Rudy masih menjabat sebagai Bupati Banjar.
Ia kemudian mengingat satu peristiwa yang menjadi awal perjalanan politik keduanya. Ketika Rudy hendak mengambil posisi Ketua PPP Kalsel, Rudy datang menemui Rosehan yang saat itu menjabat sebagai Ketua PKB Kalsel.
Rosehan mengaku sempat bingung dengan maksud kedatangan Rudy.
“Lucunya pada saat beliau mau mengambil ketua PPP, beliau mencari saya dan ingin menemui saya. Waktu itu saya bingung, beliau datang ketemu saya minta izin, bolehkah katanya menjadi Ketua PPP,” kenangnya.
Belakangan Rosehan mengetahui Rudy sedang mempersiapkan diri maju sebagai calon Gubernur Kalsel. PPP dan PKB kemudian membangun koalisi hingga keduanya maju dalam Pilkada Kalsel dan mendapat mandat memimpin provinsi tersebut.
Lima tahun menjadi pasangan gubernur dan wakil gubernur menjadi pengalaman penting bagi Rosehan. Ia menyebut banyak belajar mengenai tata kelola pemerintahan dari Rudy.
Menjelang kepergian Rudy Ariffin atau pada Minggu pagi, Rosehan mendapat kabar bahwa kondisi kesehatan mantan pasangan itu memburuk. Ajudan almarhum mengabarkan bahwa Gubernur Kalsel dua periode tersebut tengah berada dalam kondisi koma. Tak lama kemudian, tepatnya sekitar pukul 11.12 Wita, Rosehan menerima kabar duka bahwa Rudy Ariffin telah meninggal dunia.
Kendati berhalangan hadir di pemakaman karena sedang berada di Jakarta untuk menjalani pemeriksaan kesehatan rutin, Rosehan tetap menyampaikan belasungkawa serta permohonan maaf kepada keluarga besar yang ditinggalkan.
“Dengan Pak Rudy saya mohon maaf dengan keluarga besar, saya tidak bisa menghadiri pemakaman beliau. Mudah-mudahan Allah memberikan surga yang terbaik untuk beliau,” pungkasnya. web

FOTO kenangan almarhum H Rudy Ariffin saat bersilaturahmi dengan Pemimpin Umum SKH Mata Banua H Fachruddin Noor Ifansyah.
