Penulis: Baiq Lidia Astuti S. Pd (Pemerhati Masalah Sosial Kemasyarakatan)

Rabiul awal menjadi momen sakral bagi umat islam, dimana Gema sholawat terus di kumandangkan,bahkan di berbagai daerah pawai pawai pun di laksanakan. Peringatan dan peristiwa kelahiran Rosulullah pun pun terus di ceritakan untuk mengingat sang baginda yang menjadi teladan bagi seluruh umat islam

Momen maulid selalu digunakan untuk meningkatkan kecintaan kita terhadap Nabi saw. Cinta kepada Nabi tidak hadir dengan alami, namun dihadirkan dari pemahaman. Pemahaman bahwa mencintai Nabi saw. adalah wajib bagi setiap muslim. Bahkan menjadi syarat bagi sempurnanya keimanan. Anas bin malik menuturkan, bahwasanya Rosulullah bersabda “Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian sehingga menjadikan aku lebih ia cintai dari orang tuanya, anaknya dan seluruh manusia”. (HR Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Ibnu Majah dan Ibnu hibban).

Mencintai nabi terwujud tidak hanya dengan merayakan maulid yang setahun sekali, atau mencukupkan diri dengan membaca sholawat, tapi sempurna kita dalam mencintai Beliau adalah dengan memuliakan, meneladani dan mengikuti semua ajaran nabi.

Mengikuti semua ajaran Nabi atau Ittiba’ artinya kita mengikuti semua yang beliau perintahkan dan larang secara kaffah atau menyeluruh, tidak pilih pilih hanya mengikuti yang mudah atau yang di sukai saja. Maka bagi seorang muslim, Ittiba’ kepada Nabi tidak hanya mengikuti bagaimana akhlaq beliau, sementara kehidupannya tidak mengikuti ajaran Nabi seperti menggunakan aturan buatan manusia bahkan aturan demokrasi kapitalis sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Bagaimana mungkin mengaku cinta, tapi tidak mengikuti syariat Allah dan ajaran nabi dalam mengatur kehidupan.

Lagi lagi, peringatan maulid Rasulullah SAW hingga saat ini belum mendorong umat Islam untuk menerapkan Islam kaffah. Selama ini umat terjebak pada ritual seremonial semata. Kebiasaan tahunan ini tidak memiliki efek dan spirit untuk meneladani Rasulullah SAW dalam seluruh aspek kehidupan. Sosok beliau hanya dirasakan dan diresapi secara individual dalam aspek ibadah mahdhah dan teladan akhlaq semata. Itu pun keadaannya kian menipis dan terkikis.

Sementara di sisi lain kehidupan Rosul ada yang dilupakan, yaitu bagaimana rousul memberi teladan dalam praktik politik pemerintahan, sosial, pendidikan, peradilan dan banyak lagi lainnya yang terasa asing di tengah kaum Muslim serta bagaimana perjuangan dan dakwah Rosul hingga menerapkan islam secara kaffah dalam kehidupan.

Akibat nyata dari semua ini, syariat Rasulullah SAW dilupakan dalam banyak aspek kehidupan, misalnya dalam menata sistem ekonomi. Meski mereka banyak membaca shalawat, mereka tidak merasa berdosa dan bersalah saat menjalankan sistem perekonomian dengan sistem ribawi. Shalat terus, namun maksiat dan korupsi tetap jalan.

Begitulah sistem kapitalis sekuler yang saat ini diterapkan di negeri negeri kaum muslimin terus menghadang arus perjuangan dan kembalinya kemuliaan islam dengan berbagai cara, dan terus menjauhkan gambaran islam yang mulia dari benak kaum muslimin sehingga kaum muslimin terjebak

Walhasil, peringatan maulid menjadi tradisi tahunan yang tidak terlewatkan dan menjadi ritual semata, sementara esensi dari peringatan maulid tidak hanya mengenang sosok pribadi beliau yang mulia tapi juga bagaimana peringatan maulid mampu mengingatkan dan mendorong kaum muslimin untuk berjuang menerapkan islam kaffah dalam kehidupan dengan menjadikan Al Qur’an dan AS Sunnah sebagai aturan kehidupan secara individu, bermasyarakat dan bernegara.

Lalu bagaimana seharusnya kita mewujudkan cinta dan keteladan kita kepada Rosulullah? Kecintaan pada Rosul melahirkan keta’atan dan keterikatan pada syariat, serta meneladani perjuangan Rosul dalam dakwah untuk menerapkan islam secara kaffah dalam kehidupan.

Terkait strategi mewujudkan Islam kaffah dalam masyarakat sekuler kapitalistik saat ini, maka kita merujuk pada metode perubahan yang telah dijalani oleh Rasulullah SAW. Beliau menempuh metode dakwah yang terarah melalui tiga tahap:

Pertama, tatsqif (Pembinaan). Beliau membina para Sahabat dengan fikrah Islam agar keimanan mereka kokoh dan mereka siap berjuang untuk perubahan.

Kedua, tafa‘ul ma‘a al-ummah (interaksi dengan masyarakat). Beliau mendakwahkan Islam secara terang-terangan di tengah masyarakat sekaligus membongkar kebusukan sistem kufur hingga opini umum berpihak pada Islam.

Ketiga, thalab an-nushrah (menggalang dukungan). Beliau menggalang dukungan dari ahlul quwwah (para pemilik kekuasaan) untuk menegakkan sistem politik dan pemerintahan Islam.

Melalui 3 tahapan dakwah inilah Rosulullah berhasil meraih kekuasaan yang dengan kekuasaan itu Syariat islam bisa di terapkan secara menyeluruh/kaffah.

Dengan demikian, jika umat Islam benar-benar ingin lepas dari buruknya sistem sekularisme maka teladanilah metode dakwah dan perubahan ala Rasulullah SAW, yaitu menempuh tharîqah nabawiyyah, menegakkan Islam kaffah, dan membangun kembali sistem pemerintahan Islam. Itulah sistem khilafah ‘ala minhaj an-nubuwwah sebagai pelanjut Daulah Islam yang dirintis oleh beliau untuk pertama kalinya. Dengan inilah islam sebagai Rahmat bagi seluruh semesta alam bisa di wujudkan. Wallahu A’lam