BANJARMASIN – Dinamika pe­rekonomian nasional, termasuk pen­ye­suaian alokasi Transfer ke Daerah (TKD) dalam kebijakan efisiensi ang­gaan Pemerintah Pusat, menghadirkan tan­tangan baru bagi Bank Pem­ba­ng­unan Daerah (BPD) di seluruh In­do­nesia.

Kebijakan ini memengaruhi ka­pa­sitas fiskal daerah dan berdampak pada pe­nghimpunan dana pemerintah dae­rah di BPD. Kondisi tersebut juga men­jadi salah satu faktor yang m­e­mengaruhi perkembangan asset dan laba BPD.

Bagi Bank Kalsel sebagai bank pe­ngelola kas daerah Kalimantan Se­latan, perubahan ini menjadi titik tolak untuk melangkah lebih jauh dan memperluas peran.

Bank Kalsel menjadikan kondisi ini sebagai momentum untuk mem­perk­uat strategi bisnis dan mem­per­cepat transformasi. Bank Kalsel terus me­ningkatkan kreativitas dan inovasi da­lam menghimpun dana dari berbagai sumber di luar pemerintah daerah, memperluas basis nasabah perorangan dan dunia usaha, mengembangkan la­yanan digital, serta memperkuat pem­biayaan kepada sektor produktif, pelaku UMKM, dan masyarakat Ka­limantan Selatan.

Potensi besar yang kini sedang di­optimalkan adalah status Bank Kalsel sebagai bank devisa. Dengan sta­tus tersebut, Bank Kalsel melayani transaksi valuta asing, pengiriman uang antarnegara, dan pembiayaan per­dagangan internasional.

Bank Kalsel siap mendampingi pelaku usaha berorientasi ekspor di Ka­limantan Selatan, mulai dari kor­po­rasi pengolah komoditas unggulan daerah hingga UMKM yang ingin me­nembus pasar global, termasuk dalam pengelolaan devisa hasil ekspor.

Bank Kalsel juga melayani ke­butuhan valuta asing masyarakat Banua, seperti untuk ibadah haji dan umrah, pendidikan, maupun perjalanan ke luar negeri. Dengan begitu, perputaran dana dari aktivitas ekonomi daerah semakin banyak dike­lola oleh bank milik daerah sendiri.

Langkah ini sejaln dengan se­ma­ngat Asosiasi Bank Pembangunan Dae­rah (Asbanda) agar BPD naik kelas, yakni berperan sebagai pe­ng­e­lo­la arus dana, penjaga likuiditas, dan pe­nggerak eko­nomi daerah. Kede­katan dengan pemerintah daerah dan pe­mahaman atas ekonomi lokal men­jadi modal Bank Kalsel untuk menjalankan peran tersebut, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian.

Kepercayaan masyarakat, dunia usaha, pelaku UMKM, dan seluruh pe­mangku kepentingan di Kalimantan Selatan adalah kekuatan utama Bank Kalsel. Untuk itu, Bank Kalsel terus ber­benah dan menyambut baik kritik, ma­sukan, serta saran yang mem­bangun dari seluruh pihak demi men­jadi bank yang semakin baik bagi Banua.

“Kami melihat perubahan ini sebagai peluang untuk tumbuh lebih lu­as. Dengan inovasi layanan dan peran sebagai bank devisa, Bank Kalsel siap menjadi mitra pelaku usaha dan mas­yarakat Banua, dari pasar lokal hi­ngga pasar global. Kami mengajak se­luruh masyarakat Ka­li­mantan Selatan untuk terus mem­be­ri­kan dukungan dan kepercayaan kepada Bank Kalsel. Dukungan masyarakat adalah energi kami untuk terus berkembang, berkontribusi nyata bagi perekonomian daerah, dan menjadi kebanggaan Banua,” ujar Agus Setiawan, Kepala Divisi

Sekretaris Perusahaan Bank Kalsel. Mari bersama-sama menjaga, mendukung, dan membesarkan bank milik masyarakat Kalimantan Selatan. adv/rds