JAKARTA – Pinsar Petelur Nasional (PPN) mewanti-wanti potensi kelangkaan telur menjelang atal dan Tahun Baru (Nataru) serta Lebaran seiring mahalnya harga jagung pakan yang mencapai Rp8.000 per kilogram dan anjloknya harga bibit ayam petelur atau day-old chick (DOC) layer menjadi Rp3.000-Rp4.000 per ekor.
Ketua PPN Yudianto Yosgiarso mengatakan harga jagung pakan yang ditawarkan pedagang saat ini mencapai Rp7.800 per kilogram hingga lebih dari Rp8.000 pr kilogram.
Sementara itu, harga telur di tingkat peternak hanya berkisar Rp19.500-Rp20.000 per kilogram. “Ketersediaan jagung saat ini, kami masih mengalami kesulitan untuk mendapatkan jagung dengan harga yang wajar. Jagung memang ada pedagang-pedagang menawarkan, dengan harga minimal itu Rp7.800, bahkan ada yang Rp8.000, Rp8.000 lebih,” kata Yudianto.
Menurutnya, tingginya harga bahan baku membuat peternak kesulitan menutup biaya produksi. Kondisi tersebut berisiko menggerus modal usaha dan mengancam keberlanjutan usaha peternakan ayam petelur.
Yudianto menjelaskan pakan menyumbang sekitar 80% dari biaya pembentukan harga pokok produksi (HPP) telur. Dari total biaya pakan, jagung berkontribusi sekitar 50%, kosentrat 35%, dan dedak 15%.
Dia mencontohkan, jika harga jagung naik dari Rp6.000 per kilogram menjadi Rp8.000 per kilogram, kenaikan Rp2.000 per kilogram tersebut akan menambah beban biaya pakan. Adapun dengan kebutuhan sekitar 3 kilogram pakan untuk menghasilkan 1 kilogram telur, tekanan terhadap biaya produksi peternak semakin besar.
Lebih lanjut, Yudianto mengatakan tingginya biaya produksi yang membuat peternak terus merugi mengancam kemampuan mereka melakukan peremajaan atau replacement ayam petelur. Jika kondisi tesebut berlanjut, peternak tidak akan memiliki modal yang cukup untuk mengganti populasi ayam, sehingga berisiko memicu kekurangan pasokan telur pada bulan-bulan tertentu mendatang.
“Kondisinya tiap hari rugi, kalau kondisi seperti itu diteruskan, berarti kan kekuatan untuk replacement dari peternak, nggak ada. Nah ini yang kami khawatirkan, kalau ini terus menerus begitu, di bulan-bulan trtentu besok bisa terjadi kekurangan telur, ini yang harus dipikirkan dengan baik,” ujarnya.
Selain itu, tekanan terhadap usaha peternak juga tercermin dari penurunan harga DOC layer. Yudianto menyebut harga bibit ayam petelur yang sebelumnya berada di kisaran Rp9.000-Rp14.000 per ekor kini turun menjadi Rp3.000-Rp4.000 per ekor.
“DOC layer yang kemarin dijual Rp9.000 samai dengan Rp13.000, Rp14.000, saat ini DOC itu sudah di harga Rp3.000 sampai dengan Rp4.000,” ucapnya.
Menurut Yudianto, penurunan harga DOC menunjukkan melemahnya minat peternak untuk menambah populasi ayam karena biaya pemeliharaan masih tinggi, sementara ayam yang sudah berproduksi pun belum menghasilkan keuntungan.
Dia mengingatkan, jika peternak terus mengurangi peremajaan ayam, pasokantelur berpotensi terganggu ketika permintaan meningkat, seperti saat Natal dan Tahun Baru maupun Lebaran. bisn/mb06
