JAKARTA – Turunnya jumlah ke­las menengah di Indonesia dalam be­be­rapa tahun terakhir terus menjadi so­rotan, karena kelompok ini mem­berikan sumbangsih besar bagi gerak pe­rekonomian.

Menyusutnya jumlah kelas me­ne­ngah dinilai sebagai salah satu tanda da­ya beli masyarakat sedang me­nu­run. Tanda-tanda daya beli mulai me­nu­run dapat dilihat dari perubahan ga­ya hidup, pengurangan angka kon­su­msi, hingga penyesuaian ke­pe­­mi­lik­an aset.

Secara umum, sejumlah sektor ter­dampak penurunan daya beli mas­ya­rakat antara lain ritel dan pusat per­be­lanjaan, fesyen, makanan dan minuman, pariwisata dan perhotelan, hi­ng­ga manufaktur dan jasa. Feno­me­na daya beli menrun tampak di ka­langan kelas menengah.

Dilansir dari laman resmi Uni­ver­sitas Gadjah Mada (UGM), Eko­nom UGM Wisnu Setiadi Nugroho mengatakan bahwa definisi kelas me­nengah biasanya ditujukan untuk masyarakat yang memiliki ke­mam­pu­an ekonomi serba cukup, seperti cu­kup untuk menabung hingga cukup untuk merencanakan masa depan.

Wisnu melanjutkan, kelompok kelas menengah Indonesia secara data re­latif sedikit serta rata-rata berada di batas bawah (lower middle class). De­ngan kata lain, kelas menengah me­mi­liki fondasi yang mudah goyah dengan gejolak, seperti pemutusan hub­ungan kerja (PHK) hingga ken­a­ik­an cicilan, yang pada akhirnya mem­buat mereka turun kelas.

Menurutnya, salah satu akar permasalahan dari kian menyusutnya ke­las menengah adalah gaji yang ti­dak sebanding dengan kebutuhan. Ji­ka dilihat, lanjutnya, banyak la­pa­ng­an kerja baru yang bersifat survival-based. Artinya, hanya cukup untuk ber­tahan hidup, tetapi tidak cukup un­tuk membuat naik kelas secara eko­nomi.

Bersamaan dengan itu, daya beli lam­bat laun tergerus. Salah satunya ter­lihat dari upah riil kelas menengah ba­wah relatif stagnan, sedangkan bia­ya perumahan, pendidikan, dan transportasi semakin meningkat.

Hal ini mengindikasikan tekanan pen­dapatan (income squeeze) m­e­ng­ge­rogoti kemampuan menabung dan me­rencanakan masa depan yang mem­buat ruang fiskal masyarakat ke­las menengah semakin menipis. Wisnu menambahkan, masalah la­in­nya adalah peningkatan pekerjaan ren­tan berbasis rumah tangga, sebab pe­kerjaan jenis ini tidak dilengkapi de­ngan jaminan sosial.

Dia berpendapat, Indonesia be­lum memiliki peredam kejut (shock ab­sorber) yang memadai bagi ke­lom­pok kelas menengah. Sebab, ke­bi­jak­an sosial masih berfokus pada ke­lom­pok miskin, yang memang secara men­dasar perlu harus dilindungi.

Namun, calon kelas menengah (as­piring middle class) kini menjadi ma­yoritas populasi yang dipenuhi ketidakjelasan, lantaran tidak cukup mis­kin untuk menerima bantuan, te­ta­pi belum juga cukup aman untuk man­diri sepenuhnya.

Wisnu membeberkan risiko te­r­be­sar dari fenomena ini adalah as­pi­ra­tion without mobility, yakni fe­no­mena ekonomi saat aspirasi dan ha­rap­an masyarakat untuk hidup lebih ba­ik sangat tinggi, tetapi jalur struk­tural untuk naik kelas secara ekonomi tidak tersedia. Dampak jangka pan­jangnya pun sangat besar, kata Wisnu. bisn/mb06