Oleh : Hayatus Shalehah

Beberapa hari belakangan, linimasa ramai membicarakan satu unggahan. Maudy Ayunda, dengan followers Instagram 18 juta lebih, membagikan konten tentang mindfulness—cara menenangkan jiwa di tengah dunia yang kacau. Tak disangka, unggahan itu jadi bahan diskusi panjang, bahkan ditarik ke ranah yang lebih besar: kapitalisme.

Keramaian ini tidak boleh berhenti jadi tren sesaat—ada lelah yang diam-diam merayap di dada banyak orang. Tapi di mana akar masalahnya bersembunyi, dan ke arah mana kita mestinya mencari jalan keluar yang benar-benar menyelesaikan, bukan sekadar meredakan?

Ketika Beban Sistem Ditimpakan ke Pundak Individu

Hidup hari ini digerakkan oleh logika kapitalisme, di mana keberhasilan diukur dari materi. Roda ekonomi dipacu terus berputar cepat, dan ritme hidup manusia pun dipaksa mengikuti kecepatan mesin itu.

Di Kalimantan sendiri, pukulannya datang bertubi-tubi. Asap karhutla berbulan-bulan tak kunjung reda—sebagian besar karena kebakaran yang sengaja dibuat, tapi nyaris tak ada penegakan hukum yang menjerakan, dan mitigasi malah dipangkas dengan dalih efisiensi. Belum lagi kelangkaan BBM dan listrik yang kerap padam, ironis mengingat Kalimantan penghasil minyak dan batu bara yang diekspor ke luar negeri—ibarat anak ayam mati kelaparan di lumbung padi sendiri.

Lalu, apa respons yang biasa kita dengar? Kita disuruh lebih sabar, diminta mengelola stres, bahkan diajak menjauh dari berita buruk supaya pikiran tetap jernih.

Tidak ada yang salah dari menenangkan pikiran dan merawat kesehatan jiwa. Al-Qur’an berbicara tentang jiwa yang tenang (nafs al-muthmainnah), dan dalam ibadah kita diajarkan bersikap tenang (thuma’ninah). Yang perlu dipertanyakan adalah ketika anjuran ini disodorkan sebagai satu-satunya jawaban, sementara akar masalahnya ada pada sistem dan kebijakan yang keliru. Apa iya semua beban ini pantas ditanggung sendirian oleh tiap individu?

Coba bayangkan sebuah desa yang sungainya tercemar limbah pabrik, warganya mulai batuk-batuk dan kena sakit kulit. Apakah masuk akal kalau solusinya hanya imbauan membeli obat gatal dan memakai masker sendiri-sendiri, tanpa upaya menghentikan racun yang terus mengalir? Pendekatan semacam ini cuma menutup bau busuk di permukaan, sementara bangkai di bawahnya terus membusuk. Kapitalisme membuat kita sibuk mengobati diri sendiri, sampai lupa bertanya: kenapa kita semua bisa sakit bersamaan?

Mengapa Kritis Itu Tanda Hidupnya Iman?

Sebagian orang mungkin bilang, “Sabar saja, tidak usah mikirin politik atau ekonomi. Yang penting rajin ibadah, biar Tuhan yang balas di akhirat.” Terdengar bijak, seolah lahir dari tawakal. Tapi ada yang keliru di situ—Rasulullah úý tidak pernah mengajarkan umatnya bersikap acuh atau mengisolasi diri dari penderitaan masyarakat. Ada sebuah hadis yang menurut saya cukup keras untuk mengingatkan kita: “Siapa saja yang tidak peduli dengan urusan kaum Muslimin, maka ia bukan bagian dari mereka.” (HR. Al-Hakim)

Kritis terhadap ketidakadilan bukan tanda kurang bersyukur, dan merasa prihatin atas beratnya hidup orang banyak bukan berarti tawakal berkurang. Malah kebalikannya—kepekaan melihat ketimpangan dan keberanian bertanya kenapa krisis ini terjadi justru pertanda nurani kita masih hidup, iman kita masih bergetar saat menyaksikan kesulitan sesama.

Islam punya konsep amar ma’ruf nahi munkar: menyeru kebaikan, mencegah kemungkaran. Selama ini sering dimaknai sempit, seolah hanya soal maksiat perorangan—padahal berlaku juga untuk kebijakan yang merugikan masyarakat luas.

Wajar kalau kekecewaan pada kapitalisme membuat sebagian orang berpaling ke sosialisme atau marxisme, yang lantang mengkritik ketimpangan kelas dan penguasaan modal. Tapi sebagai Muslim, kita perlu menahan diri sebelum ikut arus—sebab sosialisme berangkat dari akar yang sama: cara pandang materialistis, yang menempatkan manusia dan semesta sekadar sebagai materi, lepas dari keterikatan pada Sang Pencipta. Tidak heran ujungnya pun serupa: sistem ini tetap gagal menghadirkan keadilan sejati.

Di sinilah Islam semestinya kita kenalkan kembali—bukan sekadar ritual salat, puasa, dan zakat, tapi sebagai “din” : pandangan hidup yang utuh dan menyeluruh (kaffah), datang langsung dari Pencipta manusia, Dzat yang paling tahu apa yang dibutuhkan ciptaan-Nya.

Islam Kaffah sebagai Alternatif Solusi

Lalu bagaimana Islam menjawab krisis struktural yang membuat masyarakat kelelahan? Ada tata kelola mendasar yang langsung menyentuh akar persoalan tadi.

Pertama, soal kepemilikan. Dalam kapitalisme, kekayaan alam yang seharusnya melimpah untuk semua (tambang, emas, minyak, air, hutan) bisa jatuh ke tangan swasta, hingga rakyat harus membeli kebutuhan dasarnya sendiri dengan harga mahal. Islam membagi kepemilikan menjadi tiga : individu (harta pribadi yang didapat secara halal, dijamin hukum), umum (sumber daya yang menguasai hajat hidup orang banyak, wajib dikelola negara dan hasilnya kembali ke rakyat, bukan diserahkan ke oligarki atau swasta), dan negara (aset untuk menjalankan roda pemerintahan dan pelayanan publik). Dengan pembagian sejelas ini, ketimpangan ekstrem bisa dicegah sejak dari hulunya.

Kedua, soal peran negara. Kepemimpinan dalam Islam bukan alat untuk melayani kepentingan pemodal. Rasulullah úý menegaskan : “Seorang imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Negara dalam Islam wajib menjamin kebutuhan pokok tiap individu—pangan, sandang, papan—sekaligus fasilitas publik seperti pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Ketika negara menjalankan fungsi ini, rakyat tidak perlu hidup dalam ketakutan akan masa depannya; ketenangan jiwa tidak lagi barang mahal yang hanya bisa dibeli mereka yang berprivilese.

Ketiga, soal keseimbangan hati dan aksi. Islam tidak menyuruh kita memilih antara merawat jiwa atau memperbaiki masyarakat—keduanya berjalan bersamaan. Hati ditenangkan lewat zikir dan tawakal, sementara tangan dan pikiran tetap bergerak memperbaiki keadaan sekitar. Ketenangan dalam Islam adalah bekal berjuang, bukan pelarian dari kenyataan.

Mengubah Momen Menjadi Kesadaran Bersama

Perbincangan yang muncul beberapa hari ini sebenarnya momentum yang sayang kalau dilewatkan begitu saja. Kita tidak perlu sibuk menyalahkan pribadi-pribadi yang terlibat, yang lebih dibutuhkan adalah menaikkan level perbincangannya.

Coba ajak teman, keluarga, atau kerabat untuk berpikir lebih jernih soal ini. Lelahnya mental masyarakat hari ini bukan semata soal kurang berefleksi. Ada aturan main dalam sistem ekonomi dan sosial kita yang memang perlu dikaji ulang. Dan yang paling penting, kita sebenarnya tidak pernah kekurangan petunjuk—Allah Swt. menurunkan Islam bukan cuma untuk menuntun langkah kita ke surga kelak, tapi juga untuk menghadirkan keadilan dan rahmat bagi seluruh alam, di dunia ini juga, sekarang juga.

Sudah waktunya kita memandang Islam dengan cara yang berbeda: bukan sekadar warisan tradisi dari orang tua, melainkan jalan keluar yang rasional, adil, dan tuntas untuk seluruh persoalan hidup kita. Kalau sistem yang ada sekarang telah terbukti membuat manusia makin asing dari kemanusiaannya sendiri, lalu apa lagi yang membuat kita ragu untuk kembali pada aturan Sang Pencipta?