Oleh : Meliana Dewi, S.Tr.Gz
Militer Israel diam-diam membangun tembok tanah raksasa yang membelah Jalur Gaza. Warga Palestina semakin terdesak ke jalur sempit di pesisir. Tembok dibangun setelah Israel dilaporkan terus mencaplok sebagian Gaza dengan memundurkan penanda garis kuning sejak akhir 2025. Pada pertengahan 2026, sejumlah menteri garis keras Israel mengungkap rencana pembangunan permukiman ilegal di Gaza utara. Citra satelit Planet Labs PBC yang dianalisis kantor berita Associated Press, Selasa (21/7/2026), menunjukkan pembangunan tembok berupa tanggul tanah itu telah mencapai lebih dari 23 kilometer.
Jumlah itu lebih dari separuh panjang Jalur Gaza yang hanya sekitar 40 kilometer dan lebar maksimal 11 kilometer. Sejumlah pengamat dan pembela hak asasi manusia menilai, rangkaian langkah Israel tampak sebagai strategi untuk membuat Gaza tidak dapat dihuni, mulai dari menghancurkan kota hingga membatasi akses. Tujuannya, mendorong warga Palestina meninggalkan wilayah itu. (kompas.id, 21/7/2026)
Direktur Al Mezan Center for Human Rights Issam Younis mengatakan, arah kebijakan Israel telah terlihat sejak awal perang. ”Sejak hari pertama genosida, sangat jelas tujuan utamanya adalah membuat kehidupan di Gaza mustahil dengan menghancurkan segalanya,” kata Younis, dikutip Al Jazeera. Dimulai pada Februari, pembangunan bagian terpanjang tembok dilakukan sangat cepat. Lebih dari 1 km ditambahkan antara 21 Juni dan 7 Juli. Lokasinya di dekat pangkalan militer Israel yang dibangun di atas reruntuhan Bani Suheila, dekat Khan Younis. Tanggul itu melintasi atau berdekatan dengan permukiman Palestina yang telah dihancurkan militer Israel. Di Gaza selatan, satu ruas tanggul bertambah lebih dari 2 km hanya dalam dua pekan. Panjangnya sekitar 500 meter pada 1 Juli, lalu mencapai 2,4 km pada 15 Juli. Di Gaza utara, beberapa ruas tanggul terpisah juga terlihat di luar Beit Lahia yang sebagian besar telah diratakan. Di sejumlah tempat, penghalang itu terlihat melampaui garis kuning yang digambarkan dalam peta gencatan senjata. (kompas.id, 21/7/2026)
Sungguh memilukan warga Palestina semakin terdesak ke jalur sempit di pesisir, hal ini dikarenakan militer Israel telah membangun tembok tanah raksasa secara diam-diam yang membelah jalur Gaza. Tembok dibangun setelah Israel terus mencaplok sebagian Gaza dengan memundurkan penanda garis kuning sejak akhir 2025. Ibarat luka yang terus disayat di tubuh yang sama. Di mana hak milik wilayah warga Gaza dicaplok oleh Israel tanpa pernah memberikan keadilaan bagi pemilik sahnya. Begitulah perbuatan Israel terhadap Warga Gaza kian hari berulah semakin membara. Pembangunan tembok membelah Gaza menegaskan ambisi kuat entitas Zion*s Israel untuk menguasai seluruh wilayah Gaza hingga tak bersisa. Mereka mengubah status kepemilikan warga lokal secara paksa dan menghapus jejak serta warisan yang telah ada secara turun-temurun. Tentu Israel jelas tak akan pernah memberikan kemerdekaan pada rakyat Palestina sekalipun dunia menentang. Itulah tujuan dari Israel atas tanah Palestina yang tak ada akhirnya mereka menyerang terhadap warga Gaza Palestina.
Adanya BoP dan New Gaza hanyalah propaganda semata tanpa memberikan Solusi yang tepat yang sampai keakar masalah, dan tak akan menyampaikan pada kemerdekaan Palestina. Berharap kemerdekaan dan pengakuan negara Palestina dari Israel adalah kekeliruan. BoP dan New Gaza adalah langkah-langkah imperialisme yang mengesahkan sekaligus melanggengkan penjajahan atas Palestina. BoP menghentikan perlawanan rakyat, menghapus kedaulatan, menyingkirkan Palestina dari pengambilan keputusan strategis, menempatkan keamanan di bawah kendali asing, serta mengarahkan Gaza sesuai kepentingan Amerika Serikat dan Zion*s Yahudi. Hendaklah umat Islam tidak boleh tertipu dengan propaganda negara penjajah.
Berdamai dengan entitas Zion*s Israel dilarang, mengingat tragedi penyerangan serta genosida entitas Zion*s Israel wilayah Gaza Palestina. Menegakkan jihad adalah melawan entitas Zion*s Israel hukumnya fardhu kifayah atas seluruh umat Islam. Ketiadaan Khilafah menyebabkan umat Islam tak bisa menegakkan jihad secara sempurna. Tentu tidak ada Solusi tuntas dan dibenarkan oleh syariah untuk menyelesaikan secara mendasar persoalaan Palestina kecuali melalui sistem pemerintahan Islam (Khilafah) dan jihad. Mengapa Khilafah ? Sejarah membuktikan, sepanjang Khilafah masih ada, wilayah Palestina terlindungi. Hendaklah mengajak umat fokus pada perjuangan menegakkan Khilafah yang akan menjadi junnah bagi rakyat Palestina dan seluruh umat Islam.
Sudah tak terhitung banyaknya perundingan damai dilakukan, mulai dari Camp David, Oslo, Madrid dan lainnya, hasilnya nol besar. Zion*s Israel tetap saja merangsek masuk ke wilayah Palestina. Mereka memang tidak ingin berdamai atas Palestina sampai cita-cita Israel Raya terwujud. Tentu satu-satunya cara untuk menjauhkan Zion*s Israel adalah dengan jihad ketika khilafah tegak, jihad bisa dilakukan dengan jauh lebih baik, dengan potensi tantara dan perlengkapan militer yang dimiliki oleh umat Islam sedunia yang disatukan oleh Khilafah, tak sulit menyelesaikan persoalan Palestina dengan tuntas, sehingga warga Palestina bebas dari cengkrman Zion*s Israel. Sejarah Baitul Maqdis di Palestina berhasil dibebaskan oleh Amirul Mukminin Umar bin Khattab Ra dari tangan Romawi pada tahun 16 Hijriah atau 637 Masehi. (kompas.com, 12/3/2024)
Umat muslim seluruh dunia pasti ingin bahwa palestina itu bebas dari kejahatan Zion*s Israel, maka dari itu hendaknya persatuan umat di bawah kepemimpinan Khilafah adalah kunci kemenangan Palestina dan seluruh dunia Islam. Di bawah Khilafah umat Islam tidak akan mudah tertipu, dipecah belah dan dijajah.
Wallahu’alam bishawab
