JAKARTA – Harga beras men­jadi salah satu perhatian dalam pembahasan tata kelola ca­da­ng­an beras pemerintah antara Pe­rum Bulog dan Komisi IV DPR RI di Jakarta. Evaluasi harga ter­sebut akan melibatkan Badan Pa­ngan Nasional (Bapanas) dan Ke­menterian Pertanian (Ke­men­tan).

Direktur Utama Bulog Ahmad Rizal Ramdhani me­ng­a­takan, Komisi IV me­ng­ing­at­kan pentingnya evaluasi terhadap Har­ga Acuan Pembelian (HAP) dan Harga Eceran Tertinggi (HET) beras. Rencana evaluasi itu berpotensi dibahas lebih lan­jut dalam pertemuan yang mel­i­bat­kan Bapanas dan Kementerian Pe­r­tanian

Ini perlu dilakukan rapat eva­luasi terkait dengan HAP dan HET ke depan,” kata Rizal di Kan­tor Bulog.

Pembahasan tersebut men­ja­di bagian dari Focus Group Dis­cussion (FGD) bersama Ko­mi­si IV DPR RI mengenai tata ke­lo­la cadangan beras pe­me­rin­tah. Dalam forum tersebut, Ko­mi­si IV juga memberikan se­jum­lah masukan untuk me­m­per­ku­at pelaksanaan program per­be­rasan pemerintah.

Di sisi lain, pemerintah turut men­yiapkan tambahan beras Sta­bilisasi Pasokan dan Harga Pa­ng­an (SPHP) sebanyak satu juta ton. Tambahan tersebut disetujui de­ngan mempertimbangkan po­tensi dampak El Nino yang di­per­kirakan masih berlangsung hi­ng­ga Maret 2027. “SPHP yang di­u­sulkan ditabahkan satu juta ini digunakan sampai nanti bulan Maret 2027,” ujar Rizal.

Ia menjelaskan, penyaluran tam­bahan SPHP akan diarahkan ber­dasarkan potensi kerawanan ya­ng muncul akibat El Nino. Ko­n­disi tersebut dinilai ber­po­tensi memicu gagal panen se­hi­ng­ga diperlukan intervensi untuk me­n­jaga keterjangkauan harga be­ras bagi masyarakat.

Rizal menambahkan, kualitas be­ras SPHP juga menjadi per­hatian Komisi IV. Beras yang di­salurkan kepada masyarakat di­minta tetap dalam kondisi ba­ik, bersih, higienis, dan memiliki kua­litas yang dapat diterima kon­su­men. “Jangan sampai nanti be­ras-berasnya tidak berkualitas se­hingga nanti masyarakat ke­ce­wa,” kata purnawirawan jen­deral bintang tiga ini.

Selain SPHP, pemerintah meny­epakati hilirisasi 380 ribu ton beras turun mutu menjadi te­pung beras. Beras tersebut me­rupakan beras dengan usia sim­pan di atas 10 bulan yang dinilai me­menuhi persyaratan untuk di­gunakan sebagai bahan baku te­pung.

Bulog akan menyiapkan ba­han baku tersebut untuk ke­mu­di­an dilelang melalui Kantor Pe­la­yanan Kekayaan Negara dan Le­lang (KPKNL) kepada pelaku usa­ha maupun UMKM yang me­miliki fasilitas pengolahan te­pung beras. Langkah tersebut di­harapkan dapat mengurangi po­tensi kerugian negara akibat be­ras yang semakin turun mu­tu­nya sekaligus mengurangi ke­bu­tuhan impor beras pecah.

Badan Pangan Nasional (Ba­panas) menyatakan pen­ya­lur­an program Stabilisasi Pasokan dan SPHP beras 2026 me­lam­paui capaian 2025 setelah pe­me­ri­ntah memutuskan me­nam­bah alokasi satu juta ton hingga ak­hir tahun.

“Program Stabilisasi Pa­sok­an dan Harga Pangan (SPHP) beras terus dipertajam pe­me­rin­tah,” kata Kepala Bapanas se­ka­ligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman terkonfirmasi di Jakarta.

Bapanas menyatakan prog­ram SPHP beras tahun 2026 yang digulirkan mulai Maret de­ngan target alokasi 828 ribu ton, saat ini telah mendekati 100 per­sen. “Namun tidak boleh ada ke­ko­songan salur beras dengan har­ga terjangkau untuk mas­ya­ra­kat sampai akhir 2026,” ujar Amran. bisn/mb06