Jakarta – Wakil Kepala Bidang Prestasi PP PBVSI, Loudry Maspaitella, buka suara mengenai alasan Junaida Santi tidak lagi memperkuat timnas voli putri Indonesia pada sejumlah kejuaraan internasional. Padahal MVP Proliga 2025 itu sebelumnya disebut-sebut sebagai penerus Megawati Hangestri Pertiwi.

Loudry menjelaskan, absennya Santi bukan karena menerima sanksi dari PBVSI. Menurut dia, saat ini federasi internasional menerapkan tes gender bagi seluruh pemain putri yang tampil dalam kompetisi internasional. Sementara Santi menolak untuk melakukan tes gender.

Dia menegaskan, pemain putri yang masuk dalam daftar untuk mengikuti kompetisi internasional wajib menjalani pemeriksaan tersebut. Pemain yang tidak mengikuti tes gender tidak dapat tampil dalam pertandingan.

“(Masalah) Santi cuma satu, gender test,” kata Loudry dalam siniar Voli TV yang dikutip Beritasatu.com, Senin (7/9).

Menurut Loudry, penerapan tes gender tersebut semakin menjadi perhatian setelah muncul sejumlah kasus pada pemain level junior maupun senior. Karena itu, pemain yang mendapat sorotan juga harus mengikuti prosedur yang berlaku.

“Bukan karena keberadaan Santi-nya sendiri, karena semua internasional begitu (aturannya),” kata Loudry.

Ia mengungkapkan, nama Junaida Santi memang sudah menjadi sorotan sejak tampil sejak Princess Cup U-17 pada 2022. Loudry menyebut sorotan terhadap Santi kemudian kembali muncul ketika pemain tersebut membela Indonesia dalam ajang AVC di Manila pada 2024.

“Puncaknya di Kejuaraan Dunia U-20 kemarin, makin disorot. Karena kasusnya bukan di kita saja,” ujarnya.

Loudry menegaskan, PBVSI sebenarnya masih melihat Santi sebagai salah satu aset penting bagi voli putri Indonesia. Ia bahkan mengaku prihatin dengan berbagai candaan dan isu yang berkembang mengenai pemain tersebut.

“Sebenarnya saya juga kasihan sama dia. Artinya banyak jokes tentang dia. Ya makanya harus kita luruskan,” kata Loudry.

Menurut dia, Santi merupakan pemain yang memiliki kemampuan dan kekuatan yang dibutuhkan timnas voli putri Indonesia. Namun, Loudry mengatakan federasi juga menghadapi keterbatasan apabila pemain yang bersangkutan tidak bersedia menjalani prosedur yang dipersyaratkan untuk tampil pada kompetisi internasional.

“Cuma sampai di mana kita bisa bela kalau dianya sendiri enggak mau keluar untuk berani tampil, untuk ikut tes,” katanya.

Loudry menuturkan, PBVSI telah berupaya melakukan pendekatan kepada Santi untuk menjalani pemeriksaan. Namun, menurut dia, persoalan tersebut menyangkut ranah privasi, sehingga federasi tidak bisa memperlakukannya seperti pemeriksaan biasa.

“Hal ini sangat privasi. Jadi pendekatan ini enggak bisa santai, ayo langsung tes,” ujar Loudry.

PBVSI bahkan melakukan pendekatan personal dengan bantuan psikolog. Namun, Santi tetap menolak melakukan tes gender.

Loudry menegaskan, PBVSI membutuhkan pemain dengan kemampuan seperti Santi. Namun, prosedur pemeriksaan tetap harus dipenuhi agar pemain dapat kembali tampil dalam kompetisi internasional.

“Kita butuh pemain seperti dia, tetapi asal itu benar. Real memang dia gender test-nya lulus,” ujar Loudry. web