JAKARTA – Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) mengungkap penyebab beras premium kemasan 5 kilogram (kg) langka di ritel modern.
Ketua Umum Aprindo 2024-2029 Solihin mengatakan kelangkaan beras premium di ritel modern bukan semata karena keterbatasan stok, melainkan karena harga beli dari pemasok berada di atas harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah
“Ada banyak [beras], tetapi kita harus beli. Namun,kita jualnya harus di bawah harga beli kita. Misalkan, kan harganya Rp14.900. Ya, kita beli lebih daripada itu,” kata Solihin.
Solihin menjelaskan HET beras premium saat ini sebesar Rp14.900 per kilogram. Dengan demikian, harga maksimal untuk beras premium kemasan 5 kg berada di level Rp74.500.
Menurutnya, stok beras premium dapat ditemukan jika peritel bersedia membeli dengan harga di atas HET. Namun, kondisi tersebut membuat peritel tidak dapat menjualnya kembali sesuai ketentuan pemerintah.
Sebagai contoh, Solihin menyampaikan jika peritel menjual beras premium Rp14.900 per kg, sedangkan harga beli mencapai Rp15.200 per kg, maka peritel akan mengalami kerugian apabila tetap menjual sesuai HET.
Dia mengungkapkan, kondisi tersebut membuat stok beras premium di jaringan ritel modern jauh di bawah kebutuhan. Jika pun tersedia, jumlahny sangat terbatas. Dia juga menegaskan peritel tidak menahan stok beras premium di gudang. Barang yang tersedia akan langsung dijual.
Lebih lanjut, Solihin mengatakan persoalan kelangkaan beras premium di ritel modern sebenarnya sudah berlangsung cukup lama. Bahkan, kondisi serupa pernah terjadi pada tahun sebelumnya dan kembali terjadi dalam beberapa bulan terakhir. “Sudah lama. Biasa ini kan tahun lalu juga, terjadi lagi. Terjadi lagi beberapa bulan ini terakhir. Makanya sekarang ini banyak di ritel yang jualnya beras fortifikasi,” ujarnya.
Teranyar, Aprindo telah beberapa kali menyampaikan persoalan harga beras premium kepada pemerintah dan meminta kesempatan untuk beraudiensi dengan Menteri Koordinator Bidang Pangan.
Solihin menegaskan surat tersebut berkaitan dengan persoalan kekosongan beras premium di ritel modern. Namun, menurutnya, kondisi berbeda terlihat di pasar tradisional karena beras premium masih tersedia, meski dengan harga yang tidak selalu sesuai HET. “Tapi yang jelas, di mukadimahnya jelas berkaitan dengan kekosongan beras di ritel modern. Kalau di pasaran banyak, jangan salah,” lanjutnya.
Di tengah terbatasnya pasokan beras premium sesuai HET, Solihin mengatakan peritel kini banyak menjual beras fortifikasi. Namun, jenis beras tersebut masuk dalam kategori beras khusus dan hingga saat ini belum memiliki pengaturan HET seperti beras premium.
“Distributor juga menawarkan produk yang disebut fortifikasi. Fortifikasi itu kelasnya adalah kelas beras khusus. Sampai saat ini belum diatur mengenai harga incaran tertingginya,” jelasnya. Menurut Solihin, persoalan pasokan juga semakin kompleks karena distributor atau prinsipal kerap menawarkan beras premium bersamaan dengan beras fortifikasi. bisn/mb06
