DULU, nenek moyang kita hidup dengan tenang dan tenteram. Di halaman rumahnya terhampar ruang tempat bermain; di sisi dan belakang rumahnya terlihat ijau pepohonan dan kebun sebagai sumber pangan, vitamin, dan karbohidrat. Air bersih, sumber mineral yang tak perlu dikemas dalam botol atau dibeli dengan uang, tersedia melimpah, meski harus ditimba dari sumur atau diangkut dari sungai kecil. Mereka hidup, bekerja, bergerak, dan berinteraksi dengan alam hingga ajal menjemput.
Pada masa itu, sebagian nenek moyang kita masih memandang alam sebaai sesuatu yang kudus. Alam bukan sekadar benda mati yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan manusia. Bumi dipandang sebagai ibu pertiwi yang memberi kehidupan. Karena itu, manusia merasa perlu membalas kemurahan alam dengan penghormatan, rasa syukur, dan bahkan berbagai bentuk “pengorbanan”. Boleh jadi, dari sudut pandang manusia modern, sebagian keyakinan tersebut terlihat sebagai mitos aau takhayul. Tetapi, jika kita mau melihat lebih dalam, di balik mitos itu terdapat sebuah kesadaran ekologis yang penting: alam bukan hanya sesuatu yang boleh diambil, tetapi juga sesuatu yang harus dihormati.
Di sinilah barangkali kita perlu berhati-hati dalam menilai masa lalu. Tidak semua yang disebut mitos merupakan sesuatu yang sepenuhnya keliru. Memang, penjelasan tentang alam yang dbangun nenek moyang kita belum didasarkan pada metode ilmiah seperti yang kita kenal sekarang. Mereka mungkin menjelaskan hujan, sungai, hutan, gunung, atau kesuburan tanah melalui simbol-simbol dan kepercayaan tertentu. Namun, di balik cara pandang tersebut terdapat sikap batin yang membuat manusia merasa dirinya bagian dari alam, bukan penguasa mutlak atasnya.
Bandingkan dengan manusia modern.Kita hidup dalam zaman yang serba ilmiah. Alam tidak lagi hanya dipahami melalui mitos, tetapi dipelajari melalui fisika, kimia, biologi, geologi, klimatologi, dan berbagai cabang ilmu lainnya. Teknologi membuat manusia mampu mengubah hampir segala sesuatu. Tanah dapat direkayasa, air dapat dialirkan, hutan dapat ditebang, benih dapat dimodifikasi, cuaca dapat diprediksi, dan berbagai sumberdaya alam dapat dieksploitasi dalam skala yang dahulu tidak pernah terbayangkan.
Sains dan teknologi tentu bukan musuh alam. Justru melalui sains manusia dapat memahami bagaimana alam bekerja dan menemukan berbagai cara untuk mengurangi penderitaan manusia. Persoalannya bukan pada ilmu pengetahuan, melainkan pada cara manusia menggunakan pengetahuan tersebut. Sains memberi kemampuan untuk mlakukan sesuatu, tetapi tidak selalu menentukan apakah sesuatu itu layak dilakukan. Teknologi dapat menjawab pertanyaan “bagaimana”, tetapi tidak dengan sendirinya menjawab pertanyaan “untuk apa” dan “sampai batas mana”.
Akibatnya, paradoks kehidupan modern mulai terlihat. Manusia semakin canggih menguasai alam, tetapi semakin sering berhadapan dengan alam yang kehilangan kesembangannya. Hutan yang dahulu memberi kesejukan berubah menjadi kawasan gundul. Sungai yang dahulu menjadi sumber kehidupan berubah menjadi tempat pembuangan limbah. Udara yang dahulu dihirup tanpa rasa khawatir kini harus diperiksa kualitasnya. Musim yang dahulu relatif mudah dikenali mulai berubah dan sulit diprediksi. Perubahan iklim menjadi ancaman yang semakin nyata, sementara berbagai becana ekologis mengingatkan kita bahwa bumi memiliki batas kemampuan untuk menanggung beban dan tekanan hasrat manusia.
Ironisnya, ketika manusia merasa telah menaklukkan alam melalui sains dan teknologi, justru muncul pertanyaan yang semakin mendasar: benarkah alam telah kita taklukkan? Ataukah sebenarnya kita sedang menciptakan kondisi yang pada akhirnya akan berbalik menaklukkan dan bahkan menhancurkan manusia?
Kemurahan alam ternyata bukan sesuatu yang otomatis tersedia tanpa batas. Tanah yang subur, air yang jernih, udara yang bersih, hutan yang hijau, sungai yang mengalir, dan laut yang penuh kehidupan adalah kemurahan yang memiliki syarat. Alam memberi selama manusia mampu menjaga hubungan yang seimbang dengannya. Ketika manusia mengambil terlalu banyak dan mengembalikan teralu sedikit, kemurahan itu perlahan berubah menjadi krisis, setelah itu baru kita tersadar, alam memiliki terbatasan.
Mungkin di sinilah manusia modern perlu belajar kembali kepada kearifan nenek moyang-bukan untuk kembali kepada mitos mereka, tetapi untuk menemukan kembali sikap batin yang menghormati alam. Kita tidak perlu meninggalkan sains untuk menjadi lebih ramah terhadap bumi.
Sebaliknya sains justru harus ditempatkan dalam kerangka etika. Semakin besar kemampuan manusia menguasai alam, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk membatasi diri.
Nenek moyang kita mungkin tidak mengenal istilah ekologi, perubahan iklim, emisi karbon, atau keberlanjutan. Mereka tidak memiliki satelit untuk mengamati perubahan iklim dan tidak memiliki komputer untuk menghitung daya dukung bumi. Ttapi sebagian dari mereka memiliki satu kesadaran sederhana: alam memberi kehidupan dan karena itu alam harus dijaga dan dihormati. Kesadaran sederhana itu barangkali justru menjadi sesuatu yang sangat mahal pada zaman sekarang.
Kita memiliki ilmu yang jauh lebih maju, tetapi belum tentu memiliki kebijaksanaan yang lebih maju. Kita memiliki teknologi untuk mengambil sumber daya alam dalam julah yang sangat besar, tetapi belum tentu memiliki kemampuan untuk menahan keinginan mengambilnya. Kita mampu menghitung nilai ekonomi sebuah hutan, tetapi kadang lupa menghitung nilai kehidupan yang hilang ketika hutan itu lenyap.
Karena itu, membicarakan “kemurahan alam” sesungguhnya bukan sekadar membicarakan masa lalu. Ia adalah ajakan untuk melakukan koreksi terhadap cara manusia modrn memandang bumi. Alam bukan mesin produksi yang dapat diperas tanpa batas. Alam adalah ruang kehidupan bersama. Manusia memang membutuhkan alam, tetapi alam tidak diciptakan hanya untuk memenuhi seluruh keinginan manusia.
Dalam perspektif keagamaan, kesadaran semacam ini bahkan dapat diperluas menjadi kesadaran spiritual. Alam adalah karunia Tuhan, sementara manusia hanyalah penerima amanah Karunia tidak seharusnya diperlakukan dengan keserakahan. Amanah tidak seharusnya dikelola tanpa tanggung jawab.
Karena itu, menjaga alam bukan hanya persoalan teknis tentang bagaimana mengurangi sampah, menanam pohon, menghemat air, atau menekan emisi. Lebih jauh dari itu, menjaga alam adalah persoalan moral tentang bagaimana manusia menempatkan dirinya di hadapan ciptaan Tuhan.
Barangkali kita tidak perlu memilih antara mitos dan sains. Yang kita perlukan adalah mengambil yang terbaik dari keduanya: dari sains kita belajar bagaimana alam bekerja; dari kearifan masa lalu kita belajar bagaimana seharusnya manusia bersikap terhadap alam. Sains memberi kita pengetahuan, sementara etika memberi kita arah.
Sebab bumi tidak hanya membutuhkan manusia yang pintar membaca gejala alam.Bumi membutuhkan manusia yang mampu mendengar pesan alam. Tidak cukup hanya mengetahui bahwa hutan menghasilkan oksigen; kita juga harus memiliki kesadaran untuk tidak merusaknya. Tidak cukup mengetahui bahwa air merupakan sumber kehidupan; kita juga harus memiliki rasa tanggung jawab untuk menjaganya.
Dan tidak cukup memahami perubahan iklim secara ilmiah; kita harus berani mengubah gaya hidp yang ikut mempercepat kerusakan bumi.
Kemurahan alam pada akhirnya bukanlah hadiah yang boleh kita nikmati tanpa batas. Ia adalah anugerah yang harus dirawat agar tetap menjadi anugerah bagi generasi sesudah kita. Mungkin inilah pelajaran yang perlu kita dengarkan kembali dari masa lalu: manusia tidak akan pernah benar-benar hidup damai dengan alam jika hanya ingin menerima kemurahannya, tetai lupa membalasnya dengan penghormatan dan penjagaan. (*)
