BANJARBARU – Pemerintah Kota (Pemko) Banjarbaru menggelar Salat Istisqa secara berjemaah di Lapangan Dr Murdjani, Senin (24/8) pagi.

Langkah ini diambil sebagai upaya untuk menyikapi kemarau panjang dan bencana kekeringan yang sedang melanda wilayah Indonesia, khususnya di Kota Banjarbaru.

Pelaksanaan salat istisqa ini diikuti langsung oleh Wali Kota Banjarbaru Hj Erna Lisa Halaby dan Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Banjarbaru Sirajoni, serta ratusan Aparatur Sipil Negara (ASN) dan tenaga Non-ASN dari Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan instasi lainnya di wilayah Kota Banjabaru. Kehadiran seluruh elemen birokrasi ini mencerminkan keseriusan daerah, dalam menghadapi ancaman krisis iklim yang mulai berdampak luas pada sendi-sendi kehidupan masyarakat.

Pelaksanaan salat sunat meminta hujan ini diimami Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Banjarbaru KH Mukhlis Kaspul Anwar.

Dalam khotbahnya, Ketua MUI Banjarbaru menggambarkan bahwa kondisi kemarau dan kekeringan saat ini sangat mengganggu kesehatan dan aktivitas masyarakat.

“Saat ini bumi tempat kita berpijak sedang diuji dengan kemarau panjang. Tanah-tanah mulai retak mencerminkan dahaga, sumber air surut dan menipis, tanaman layu, dan debu kering bertebaran ditiup angin. Kebakaran hutan meluas dan asap menyelimuti bumi. Udara yang kita hirup mengganggu kesehatan, menimbulkan keresahan, hingga mengganggu berbagai aktivitas kehidupan,” ujarnya.

KH Mukhlis mengingatkan, musibah tertahannya hujan ini bisa jadi merupakan ulah dari manusia. Banyaknya dosa yang dilakukan manusia dan kurangnya rasa syukur atas nikmat yang telah diberikan, merupakan sebagai salah satu sebab turunnya musibah dan bencana dari Sang Pencipta.

“Musibah kekeringan yang menimpa dan tertahannya tetesan air hujan dari langit ini, bisa jadi buah dari kelalaian tangan kita sendiri. Ini semua boleh jadi bersumber dari genangan dosa-dosa yang terus kita tumpuk. Kemaksiatan yang dikerjakan secara terang-terangan, serta keengganan kita untuk mensyukuri nikmat-nikmat-Nya,” kata KH Mukhlis menegaskan.

Melalui momentum ini, KH Mukhlis menyerukan gerakan pembersihan hati. Salat Istisqa bukan sekadar ritual meminta hujan, melainkan juga sebagai titik balik untuk memperbaiki kualitas ibadah dan membenahi hubungan antar sesama manusia.

Di akhir khotbahnya, jemaah diajak untuk selalu menjaga alam dan selalu memohon ampun kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta berdoa untuk meminta kemarau dan kekeringan yang menyebabkan kebakaran dan kabut asap ini dapat segera berakhir, serta menggantinya dengan curahan rahmat berupa hujan yang menyejukkan. ril/dio