Oleh : Zahra Kamila

Tanggal 12 Rabiul Awwal biasanya lebih sering dikaitkan dengan kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW. Namun, sejatinya pada tanggal 12 Rabiul Awwal terdapat peristiwa besar terkait dengan sirah Rasulullah SAW. Peristiwa besar itu menentukan sejarah Islam dan kehidupan kaum Muslim.

Nabi SAW dilahirkan hari Senin pagi 12 Rabiul Awwal pada tahun Gajah di Makkah. Kelahiran Nabi SAW banyak diiringi dengan berbagai keajaiban. Salah satunya adalah mengakhiri jaman jahiliah menjadi jaman penuh berkah.

Kelahiran Nabi SAW memiliki makna yang sangat agung. Sebagaimana seperti yang diungkapkan oleh Al-Allamah Sayyid Muhammad ‘Alwi al-Maliki. Beliau mengatakan, “Andai tak ada kelahiran Nabi, tentu tak akan pernah ada hijrah. Andai tak ada kelahiran Nabi, tentu tak akan ada perang Badar. Andai tak ada kelahiran Nabi, tentu tak akan ada Penaklukan kota Makkah. Andai tak ada kelahiran Nabi, tentu tak akan pernah ada umat Islam. Andai tak ada kelahiran Nabi, tentu tak akan pernah ada dunia ini.”

Begitulah luar biasanya kelahiran Nabi Muhammad SAW sehingga benar-benar menjadi rahmat bagi alam ini. Karena itu beliau menyandang gelar sebagai Nabi Ar-Rahmah.

Namun ada fakta yang sering dilupakan, yaitu Rasulullah juga hijrah ke Madinah pada bulan Rabiul Awwal. Nabi SAW mulai berhijrah meninggalkan Gua Tsur malam Senin tanggal 1 Rabiul Awwal tahun 1 H (16 September 622 M). Nabi SAW sampai di Quba’ pada hari Senin tanggal 8 Rabiul Awwal tahun 1 H (23 September 622 M). Beliau berdiam di Quba selama empat hari (Senin, Selasa, Rabu dan Kamis). Beliau selanjutnya memasuki Madinah hari Jumat tanggal 12 Rabiul Awwal tahun 1 H, tepatnya 1439 tahun hijrah yang lalu dari hari ini.

Dengan demikian tanggal 12 Rabiul Awwal itu Nabi SAW tiba di Madinah. Sekarang ini kita berada di bulan Rabiul Awwal. Juga disebut sebagai bulan maulid. Di tengah situasi kegembiraan perayaan Maulid Rasulullah SAW. Banyak umat tidak menyadari, bahwa pada hari, tanggal dan bulan yang sama beliau wafat. Rasulullah wafat pada sekitar waktu Dhuha sudah mulai memanas. Pada hari Senin, 12 Rabiul Awwal tahun 11 H. Hari tersebut dirasakan para sahabatnya sebagai hari tergelap dalam hidup mereka.

Jadi bulan Rabiul Awwal ini bukan hanya bulan kelahiran tapi juga bulan perjuangan dan pengorbanan. Dengan demikian, sejak tiba di Madinah, Muhammad SAW memegang dua kedudukan sekaligus, yakni sebagai Nabi dan Kepala Negara. Sebagai Nabi karena penobatan dari Allah SWT dan sebagai kepala negara melalui pengangkatan oleh umat.

Seharusnya bila kita mencintai Rasulullah kita sepenuhnya meneladani akhlak beliau. Menjalankan sunnah-sunnah beliau. Menjalankan pemerintahan seperti beliau memerintah yaitu sesuai dengan aturan syariat Islam.

Banyak yang mengaku cinta Nabi, tetapi itu hanya melekat di bulan Rabiul Awwal saja. Setelah itu hilang. Padahal mencintai Rasulullah 12 bulan, setiap bulan, setiap saat, bukan 12 hari. Cinta musiman tanda belum paham makna.

Ubahlah maulid dari seremonial menjadi transformasional. Jangan berhenti di peringatan. Jadikan pengamalan. Rasulullah tidak butuh perayaan kita, kitalah yang butuh beliau. Caranya dengan sebagai berikut.

– ikuti akhlak beliau, jujur, amanah, adil dalam kehidupan sehari-hari.

– bukti cinta kita jangan pernah tinggalkan shalat. Shalatlah tepat waktu tanpa tapi tanpa nanti.

– shalat bukti cinta kita kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW.

Jadilah orang seperti Nabi. Sebagai pejabat harus amanah, adil, dan jujur. Sebagai pedagang harus jujur dan tidak curang. Carilah rezeki yang halal dan berkah juga jauhilah riba dan jangan makan riba.

Mengikuti Nabi SAW tidak lain dengan menjalankan Islam secara kaffah (totalitas) mengamalkan seluruh syariah Islam baik dalam level pribadi, keluarga, masyarakat dan negara. Itulah wujud cinta sejati kita kepada Nabi SAW.

Selayaknya kita menjadikan peringatan Maulid Nabi SAW untuk menumbuhkan dan memompa semangat perjuangan untuk menerapkan syariah Islam secara kaffah dalam negara Islam.