BERTEBARANNYA ayat-ayat Al-Qur’an yang membicarakan alam, baik flora maupun fauna, cukup “mengejutkan” jika dilihat dari konteks geografis masyarakat Arab kepada siapa Al-Qr’an mula-mula diturunkan. Pada awal abad ke-7, sebagian besar wilayah Jazirah Arab merupakan kawasan yang kering dan tandus, dengan curah hujan yang rendah dan ketersediaan air yang sangat terbatas.
Kehidupan tumbuhan dan hewan tentu tidak semeriah yang dapat kita saksikan di kawasan tropis. Sumber makanan pun tidak selalu tersedia secara melimpah, sehingga sebagian masyarakat harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk mempertahnkan kehidupan.
Namun, justru di tengah lingkungan geografis semacam itulah Al-Qur’an berkali-kali mengajak manusia memperhatikan alam. Al-Qur’an berbicara tentang hujan, air, tanah, tumbuh-tumbuhan, buah-buahan, pepohonan, gunung, laut, sungai, unta, lebah, semut, laba-laba, burung, bahkan tentang pergantian siang dan malam serta peredaran benda-benda langit.
Alam yang mungkin bagi sebagian masyarakat Arab saat itu dipandang sekadar sebagai ruang tempat mereka bertahan hidup, oleh Al-Qur’an diangkat menjadi sesuatu yang jauh leih tinggi: ia adalah tanda (ayah) keberadaan, kebijaksanaan, rahmat, dan kekuasaan Tuhan.
Perhatikan misalnya firman Allah dalam Surah ‘Abasa ayat 24-32. Setelah memerintahkan manusia agar memperhatikan makanannya, Al-Qur’an mengajak manusia menelusuri proses yang membuat makanan itu tersedia: air dicurahkan dengan melimpah, bumi dibelah, biji-bijian ditumbuhkan, kemudian anggur, sayur-sayuran, zaitun, kurma, kebun-kebun yang lebat, buah-buahan, dan rerumputan dihadirkan. Semuanya bukan sekadar daftar bahan makanan. Al-Qur’an sedang mengajak manusia membaca sebuah rangkaian tanda tentang bagaimana keidupan diciptakan, dipelihara, dan dianugerahkan.
Menariknya, perintah itu diawali dengan ungkapan, “Maka hendaklah manusia memperhatikan makanannya” (fal-yan?ur al-insanu ila ?a`amih). Kata yan?ur tidak sekadar berarti melihat dengan mata.
Ia mengandung dorongan untuk memperhatikan, mengamati, dan merenungkan. Seolah-olah Al-Qur’an hendak mengatakan bahwa makanan yang setiap hari kita santap menyimpan cerita yang jauh lebih panjang daripada yang tampak di atas meja. Ada air, tanah, benih, tumbuhan, matahari, udara, hewan, dan berbagai proses kehidupan yang saling berhubungan. Semuanya menunjuk epada satu sumber yang sama: Allah, Sang Pencipta dan Pemelihara kehidupan.
Di sinilah cara pandang Al-Qur’an terhadap alam menjadi penting. Alam bukan hanya objek yang dapat dimanfaatkan manusia, melainkan juga teks yang harus dibaca. Jika Al-Qur’an adalah ayat-ayat Tuhan yang tertulis dalam wahyu, maka alam adalah ayat-ayat Tuhan yang terbentang di hadapan manusia. Keduanya sama-sama mengandung tanda. Al-Qur’an mengajak manusia membaca wahyu, sementara alam mengajak manusia membaca ciptaan. Karena itu, seorang beriman semestinya tidak hanya pandai membaca huruf-huruf Al-Qur’an, tetapi juga mampu mmbaca “huruf-huruf” Tuhan yang tertulis pada langit, bumi, tumbuhan, hewan, air, dan seluruh kehidupan.
Mungkin inilah salah satu alasan mengapa Al-Qur’an begitu sering mengarahkan pandangan manusia kepada alam. Ia tidak ingin manusia hidup hanya dengan menatap dirinya sendiri. Manusia diajak keluar dari ruang egonya, melihat langit yang terbentang, bumi yang terhampar, air yang menghidupkan, tumbuhan yang tumbuh, dan berbagai makhluk yang bergerak dalam keteraturan. Semua itu adalah tanda yang mengajak manusia sampai kepada kesadaran tentang siapa dirinya dan siapa Tuhannya.
Dengan demikian, alam dalam perspektf Al-Qur’an bukan sekadar latar belakang kehidupan manusia. Alam adalah bagian dari bahasa Tuhan. Hujan, misalnya, bukan hanya fenomena meteorologis; ia juga dapat menjadi tanda tentang rahmat dan kehidupan. Tumbuhan bukan sekadar sumber pangan; pertumbuhannya merupakan tanda tentang kekuasaan Allah menghidupkan sesuatu yang sebelumnya tampak mati. Demikian pula keteraturan langit dan bumi bukan sekadar fakta astronomis, tetapi tanda tentang keteraturan dan kebijaksanaan Sang Pencipta.
Persoalannya, manusia odern sering kali semakin banyak mengetahui alam, tetapi justru semakin sedikit membaca makna yang dikandungnya. Kita mampu mengukur curah hujan, memetakan hutan dari satelit, mengidentifikasi ribuan spesies, mengubah benih melalui teknologi, dan menjelaskan berbagai proses kehidupan secara ilmiah. Namun, pengetahuan tentang bagaimana alam bekerja belum tentu membawa kita kepada kesadaran tentang untuk apa kita hidup di tengah alam itu. Di sinilah pesan Al-Qur’an kembali menemukan relevansinya: alam tdak cukup hanya diteliti, dihitung, dan dimanfaatkan; alam juga harus direnungkan sebagai tanda.
Karena itu, krisis ekologis yang kita hadapi hari ini barangkali bukan hanya persoalan kerusakan hutan, pencemaran air, perubahan iklim, atau hilangnya keanekaragaman hayati. Ia juga merupakan persoalan cara pandang. Ketika alam hanya diperlakukan sebagai benda dan sumber daya, manusia kehilangan kemampuan melihatnya sebagai tanda Tuhan. Hutan kemudian hanya dihitung berdasarkan nilai kayunya, sungai hanya ilihat sebagai saluran air, tanah hanya dianggap sebagai lahan ekonomi, dan hewan hanya dipandang sebagai komoditas. Ketika alam kehilangan makna spiritualnya, batas moral dalam memperlakukannya pun perlahan menghilang.
Al-Qur’an menawarkan cara pandang yang berbeda. Alam tidak berdiri tanpa makna. Ia menunjuk kepada sesuatu yang melampaui dirinya. Ia adalah ayah. Karena itu, merusak alam bukan hanya berarti merusak benda-benda di sekitar manusia, tetapi juga mengabaikan tanda-tanda Tuhan yang erbentang di hadapannya. Sebaliknya, menjaga alam dapat menjadi bagian dari penghormatan manusia terhadap ayat-ayat Tuhan yang tidak tertulis di atas kertas, tetapi tumbuh, mengalir, bergerak, dan hidup di sekeliling kita.
Barangkali, inilah yang perlu kita pelajari kembali: membaca Al-Qur’an tidak berhenti pada ayat-ayat yang tertulis. Setelah membaca firman Tuhan dalam mushaf, kita semestinya belajar membaca firman Tuhan yang terbentang di alam. Sebab, di antara keduanya terdapat pesan yang sama: bahwa di baik keragaman ciptaan terdapat kekuasaan, kebijaksanaan, dan rahmat Tuhan. Alam adalah tanda. Dan manusia yang beriman adalah mereka yang tidak hanya melihat tanda itu dengan mata, tetapi juga membacanya dengan hati. (*)
