TIDAK jarang kita menemukan orang-orang mengunggah foto dengan latar pemandangan alam yang indah sebagai status di media sosial. Gunung yang menjulang, hamparan sawah yang menghijau, air terjun yang jernih, pantai yang membentang, atau matahari terbenam yang memukau begitu mudah hadir di layar telepon genggam. Kemudahan memperoleh gamar-gambar tersebut merupakan salah satu ciri khas era digital.
Kekayaan data internet menyediakan hampir tak terbatas gambar alam yang indah, bahkan dengan biaya yang nyaris tanpa beban. Keadaan ini tentu sangat berbeda dengan masa ketika seseorang harus menggunakan kamera dengan film “kodak”, memilih objek dengan hati-hati, mengambil gambar secara terbatas, kemudian mencuci film untuk mengetahui hasilnya.
Di era media sosial, sebuah “status” bukan agi sekadar pemberitahuan tentang keadaan seseorang. Ia sering menjadi representasi diri, pengalaman, pencapaian, bahkan suasana emosional pemilik akun.
Sebuah foto perjalanan, misalnya, tidak hanya memperlihatkan keindahan tempat yang dikunjungi, tetapi sekaligus dapat menyampaikan pesan: saya pernah berada di sana, saya menikmati pengalaman itu, dan inilah kehidupan yang sedang saya jalani. Karena itu, alam pun sering hadir dalam media sosial ukan sebagai sesuatu yang dikagumi karena keagungannya, melainkan sebagai latar yang memperindah representasi diri.
Di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: ketika seseorang memotret dan mengunggah keindahan alam, apakah ia sungguh sedang mengagumi alam, atau sekadar sedang memanfaatkan keindahan alam untuk memperindah dirinya di hadapan orang lain? Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana, tetapi menyimpan persoalan ekologis yang lebih dalam. Sebab, sebuah foto alam yang ndah belum tentu menunjukkan adanya kedekatan batin dengan alam.
Seseorang dapat berulang kali mengunggah foto gunung, sungai, hutan, dan laut, tetapi pada saat yang sama tidak memiliki kepedulian sedikit pun terhadap kelestariannya.
Alam akhirnya hanya menjadi latar visual, bukan lagi ruang kehidupan yang memiliki nilai pada dirinya sendiri. Keindahan alam dikonsumsi melalui kamera, layar, like, komentar, dan share. Kita menikmati gambarnya, tetapi belum tentu merasakan kehadirannya.
Kita mengabadikan pemandangannya, tetapi belum tentu menghormati kehidupan yang berlangsung di dalamnya. Kita bangga pernah mengunjungi hutan, tetapi mungkin tidak pernah bertanya apakah hutan itu masih akan ada untuk anak-cucu kita.
Jika demikian, eksploitasi terhadap alam di era digital tidak selalu berbentuk penebangan hutan, pertambangan, pencemaran sungai, atau pengambilan sumber daya secara berlebihan. Ada bentuk eksploitasi yang lebih halus, yakni menjadikan alam sebagai komoditas simboli untuk membangun citra dan kepuasan diri. Alam tidak lagi hanya diambil kayunya, airnya, tanahnya, atau mineralnya, tetapi juga diambil keindahannya untuk dikonversi menjadi status sosial, popularitas, dan pengakuan digital.
Tentu tidak berarti bahwa memotret dan mengunggah keindahan alam adalah sesuatu yang salah. Justru media digital dapat menjadi sarana yang sangat kuat untuk memperkenalkan keindahan alam, membangun kesadaran ekologis, dan mengajak masyarakat mencintai lingkungan.
Peroalannya terletak pada apa yang terjadi setelah kekaguman itu berhenti pada layar. Apakah foto yang kita unggah hanya menghasilkan like, atau juga melahirkan kepedulian? Apakah kekaguman terhadap air terjun membuat kita lebih peduli terhadap kebersihan sungai? Apakah kecintaan terhadap hutan yang kita tampilkan di media sosial membuat kita lebih berhati-hati terhadap penggunaan kertas, kayu, dan berbagai produk yang berasal dari hutan?
Di sinilah kesehatan ekologis era digital perlu diicarakan. Kesehatan ekologis bukan hanya persoalan seberapa bersih sungai, seberapa hijau hutan, atau seberapa sehat udara yang kita hirup. Ia juga menyangkut kesehatan cara pandang manusia terhadap alam. Alam yang sehat membutuhkan manusia yang memiliki cara pandang sehat terhadap alam: tidak melihatnya semata-mata sebagai objek konsumsi, komoditas ekonomi, atau dekorasi digital, tetapi sebagai bagian dari kehidupan yang memiliki nilai, martabat, dan keterhubungan dengan mansia.
Dengan demikian, tantangan ekologis di era digital bukan hanya bagaimana menjaga alam dari tangan-tangan yang merusaknya, tetapi juga bagaimana menjaga rasa kekaguman manusia agar tidak mati di balik layar. Jangan sampai kita menjadi generasi yang paling banyak melihat gambar keindahan alam, tetapi sekaligus generasi yang paling sedikit merasakan tanggung jawab untuk menjaganya. Jangan sampai alam begitu indah di dalam kamera, tetapi begitu menderita di dunia nyata. Kita perlu membngun kesehatan ekologis era digital. Kesehatan ekologis bukan hanya kesehatan alam, tetapi juga kesehatan batin manusia dalam memandang alam. (*)
