BANJARMASIN – Dalam rangka meningkatkan keterampilan guru dalam pemanfaatan digital dalam proses pembelajaran khususnya pelajaran Bahasa Indonesia dan sekaligus pelestarian cerita-cerita lokal Kalimantan Selatan, Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas PGRI Kalimantan (UPK) mengadakan pelatihan pembuatan cerita digital berbasis kearifan lokal Kalimantan Selatan.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) melalui skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM), Hibah Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui Direktorat Jenderal Penelitian dan Pengabdian (Ditjen Risbang), DPPM Tahun Pendanaan 2026.

Peserta pelatihan dalam kegiatan ini adalah MGMP Bahasa Indonesia SMA dan SMK Kabupaten Barito Kuala yang berjumlah 30 guru Bahasa Indonesia yang beralamatkan di Kabupaten Barito Kuala Kalimantan Selatan.

Kegiatan pelatihan dilaksanakan dalam tiga kali pertemuan, yakni dimulai pada tanggal 29 Juni 2026 yang bertempatkan di Aula SMA Negeri 1 Alalak, 23 Juli 2026 di Aula SMKN 2 Marabahan dan dilanjutkan pada 5 Agustus 2026 yang di Aula SMKN 2 Marabahan.

Kegiatan ini mengusung tema “Transformasi Cerita Tradisional ke Visual Digital melalui Program Pelatihan Digitalisasi Cerita bagi Guru Bahasa Indonesia sebagai Revitalisasi Cerita Lokal”.

Program ini diikuti oleh semua guru Bahasa Indonesia yang tergabung dalam komunitas MGMP Bahasa Indonesia SMA SMK Kabupaten Barito Kuala.

Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Sekolah sebagai tuan rumah, Rektor dan Wakil Rektor 3 Universitas PGRI Kalimantan, dan Ketua MGMP Bahasa Indonesia Kabupaten Barito Kuala.

Ketua pelaksana kegiatan PKM, Lili Agustina, M.Pd. mengatakan tujuan dari pelatihan adalah meningkatkan keterampilan guru Bahasa Indonesia dalam memanfaatkan digital dan AI sebagai media pembelajaran yang menarik khususnya membuat cerita tradisional ke cerita digital serta sebagai pelestarian cerita lokal hampir dilupakan oleh siswa saat ini.

Kehadiran cerita lokal yang dibuat sendiri oleh guru akan menghidupkan kembali ketertarikan siswa pada cerita tradisional dan guru mampu mengembangkan sumber bahan ajar digital, khususnya cerita digital yang berbasis kearifan lokal Kalimantan Selatan.

“Di era digital saat ini, siswa tidak hanya membaca buku cetak saja tapi juga disuguhkan dengan cerita digital yang menarik dan mudah diakses dengan tampilan yang ilustratif. Dengan adanya cerita digital dapat meningkatkan proses pembelajaran yang interaktif dan memperkenalkan cerita tradisional yang hampir dilupakan oleh siswa. Cerita digital berbasis kearifan lokal Kalimantan Selatan adalah media yang menyenangkan sekaligus edukatif dalam memperkenalkan budaya yang ada di sekitar siswa,” ujar Lili. ant