JAKARTA – Efektivitas perpindahan konsumsi BBM dari jenis subsidi ke nonsubsidi seperti Pertamax dinilai masih terbatas selama disparitas harga kedua jenis BBM tetap tinggi.
Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Saleh Abdurrahman mengatakan penurunan harga Pertamax diharapkan dapat menarik kembali konsumen yang sempat meninggalkan BBM RON 92 dan beralih ke Pertalite karena pertimbangan harga.
Meski demikian, Saleh menilai selisih harga Pertalite dan Pertamax saat ini masih belum cukup mendukung peralihan masyarakat menuju BBM dengan kualitas yang lebih baik. “Saya kira belum akan mendorong pergeseran secara signifikan, karena selisihnya masih cukup tinggi,” ujarnya.
Menurut Saleh, salah satu langkah yang ideal untuk mempercepat pergeseran konsumsi BBM adalah meninjau kembali harga BBM bersubsidi agar jarak harga dengan BBM nonsubsidi tidak terlalu lebar. Namun, dia mengaku kebijakan tersebut harus mempertimbangkan kondisi sosial ekonomi masyarakat.
Di sisi lain, Saleh menilai peningkatan konsumsi BBM nonsubsidi tidak cukup hanya mengandalkan mekanisme harga. Menurutnya, badan usaha penyedia BBM perlu lebih aktif mengedukasi masyarakat mengenai keunggulan BBM dengan angka oktan lebih tinggi.
Dia menegaskan harga Pertamax merupakan harga keekonomian yang tidak memperoleh kompensasi dari pemerintah. Karena itu, upaya peningkatan konsumsi BBM nonsubsidi perlu dilakukan melalui promosi dan edukasi yang lebih masif.
“Sebaiknya badan usaha lebih gencar melakukan promosi, advokasi keunggulan BBM RON 92 dan di atasnya, bekeja sama dengan produsen mobil agar mobil-mobil baru wajib mengonsumsi BBM sesuai spesifikasi mesin,” ujarnya.
PT Pertamina Patra Niaga kembali memangkas harga sejumlah bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi mulai 1 Agustus 2026 seiring dengan perkembangan harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah.
VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga Kitty Andhora menjelaskan, secara terperinci, harga Pertamax (RON 92) turun Rp300 per liter menjadi Rp15.950 per liter dari sebelumnya Rp16.250 per liter.
Penurunan juga berlaku untuk Pertamax Turbo yang turun Rp1.000 per liter dari Rp19.300 menjadi Rp18.300 per liter serta Pertamax Green 95 yang turun Rp400 per liter menjadi Rp16.600 per liter dari sebelumnya Rp17.000 per liter.
Sementara itu, harga Pertamina Dex tetap dipertahankan di level Rp21.150 per liter dan Dexlite tetap Rp19.700 per liter. bisn/mb06
