JAKARTA – Harga beras pada Juli 2026 kembali mengalami kenaikan di seluruh mata rantai distribusi, mulai dari tingkat penggilingan, grosir, hingga eceran. Kenaikan paling signifikan terjadi di tingkat penggilingan, terutama pada beras premium yang mencatat pertumbuhan harga tahunan hingga dua digit.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan rata-rataharga beras di tingkat penggilingan naik 0,94% secara bulanan (month-to-month/mtm) dan meningkat 5,11% dibandingkan dengan Juli 2025 (year-on-year/yoy).
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono mengatakan kenaikan harga terjadi pada seluruh kelompok kualitas beras, baik premium maupun medium. “Kalau dipilah menurut kualitas beras di penggilingan, kualitas premium naik 0,44% secara bulanan dan 10,22% secara tahunan. Sementara beras medium naik 1,25% secara bulanan dan 3,24% secara tahunan,” ujar Ateng dalam rilis BPS, Senin
Tekanan harga juga berlanjut di tingkat perdagangan. Di tingkat grosir, harga beras meningkat 0,61% secara bulanan dan 4,11% secara tahunan.
Sementara itu, di tingkat eceran, inflasi harga beras tercatat sebesar 0,49% dibandingkan bulan sebelumnya dan naik 3,10% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Menurut Ateng, perkembangan tersebut menggambarkan tren kenaikan harga beras secara nasional karena dihitung berdasarkan rata-rata berbagai kualitas beras dan wilayah di Indonesia. “Harga beras ini merupakan rata-rata harga beras berbagai jenis kualitas dan wilayahdi Indonesia,” katanya.
BPS mencatat rata-rata harga beras eceran pada Juli 2026 mencapai Rp15.569 per kilogram. Adapun rata-rata harga di tingkat grosir sebesar Rp14.783 per kilogram, sedangkan di tingkat penggilingan berada di level Rp14.028 per kilogram.
Kenaikan harga yang terjadi secara berjenjang dari penggilingan hingga eceran menunjukkan tekanan di sisi hulu masih berlanjut dan mulai diteruskan ke tingkat perdagangan. Lonjakan harga beras premium di tingkat penggilingan jua mengindikasikan segmen beras berkualitas tinggi mengalami tekanan yang lebih besar dibandingkan beras medium.
Pada bagian lain BPS memperkirakan produksi beras nasional hingga September 2026 tumbuh tipis sekitar 0,01% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, seiring dengan turunnya luas panen selama puncak musim kemarau yang jatuh pada Juli-Setember 2026. Potensi panen pada kuartal III/2026 mulai menunjukkan perlambatan sehingga kinerja produksi pada sisa tahun ini masih bergantung pada perkembangan pertanaman dan kondisi cuaca.
Menurut Ateng Hartono mengatakan hasil Survei Kerangka Sampel Area (KSA) Juni 2026 menunjukkan sebagian besar lahan pertanian masih berada pada fase pertanaman.
“Hasil amatan KSA Juni 2026 menunjukkan mayoritas lahan pertanian masih berupa tanaman padi atau standing crop sebesar 40,27%,” ujar Ateng.
Selain tanaman padi, sebanyak 28,89% lahan ditanami komoditas selain padi, 11,78% merupakan lahan bera sementara, 10,66% telah dipanen, dan 8,16% masih berada pada tahap persiapan lahan. bisn/mb06
